MOMSMONEY.ID - Harga obligasi pemerintah tertekan mendorong yield SUN acuan tenor 10 tahun naik ke sekitar 7,7% sejak akhir Oktober lalu. Ini level tertinggi dalam empat tahun terakhir. Apakah ini momen untuk mulai membeli atau justru menghindari obligasi?
Yield yang naik artinya harga obligasi sedang turun. Investor meminta imbal hasil lebih tinggi untuk memegang obligasi Indonesia.
Kenaikan terjadi di tengah memburuknya persepsi risiko investor. Ini tercermin dari angka credit default swap (CDS) Indonesia tenor lima tahun yang kini mendaki ke atas 100, dari kisaran 80-90 pada bulan-bulan sebelumnya. Kurs rupiah pun terus tertekan mendekati Rp 18.200 per dollar AS.
Head of Center for Macroeconomics and Finance Indef, M. Rizal Taufikurahman, menilai, yield tinggi membuka peluang masuk bertahap. Tetapi, harga turun belum otomatis murah.
Ia mengingatkan investor perlu mencermati durasi, kebutuhan kas, dan tambahan pasokan bersih SBN sebelum memutuskan untuk beli.
Baca Juga: Gelagat Asing Keluar dari Pasar SBN Baru-Baru Ini, Apa Penyebabnya?
Yusuf Rendy Manilet, Economic Researcher di CORE, mengatakan, dari sisi valuasi, yield di atas 7,5% sudah cukup menarik secara historis.
“Dengan durasi termodifikasi SUN 10 tahun sekitar 6,5% hingga 7%, dan kupon sekitar 7,5%, investor yang memegang selama satu tahun masih memiliki bantalan terhadap kenaikan yield sekitar 100 basis poin sebelum total imbal hasilnya mendekati nol,” paparnya, Selasa (3/11).
Karena itu, menurut Yusuf, kondisi sekarang belum menjadi alasan untuk keluar dari obligasi, tetapi juga belum tepat untuk membeli secara agresif sekaligus.
Ia menyarankan strategi yang lebih seimbang, yakni melakukan akumulasi bertahap dengan fokus pada tenor dua hingga tujuh tahun. Menurutnya, tenor tersebut sudah menawarkan yield di atas 7%, dengan risiko perubahan harga yang lebih terkendali.
Sedangkan, obligasi dengan tenor 15 hingga 30 tahun, kata Yusuf, lebih sesuai bagi investor yang mampu menahan volatilitas atau berencana memegangnya hingga jatuh tempo karena sangat sensitif terhadap perubahan premi risiko fiskal.
Baca Juga: Yield SUN Melonjak, CDS Naik dan Rupiah Loyo, Apa Artinya bagi Pasar?
Yusuf mengatakan, SBN berkupon tetap yang dipegang hingga jatuh tempo untuk investor ritel dapat mengurangi risiko akibat fluktuasi harga pasar. “Sementara itu, investor asing tetap perlu memperhitungkan biaya lindung nilai karena sumber tekanan terbesar saat ini berasal dari pelemahan rupiah,” imbuhnya.
Dalam kondisi pasar saat ini, menurut Rizal, oligasi tenor 1-3 tahun relatif lebih defensif. "Sedangkan 3–5 tahun dapat dipertimbangkan bertahap,” katanya kepada Kontan, Selasa (3/11).
Jika ingin mengambil tenor panjang, maka investor dituntut memiliki kemampuan untuk menahan fluktuasi harga yang lebih besar. Kebutuhan dana pemerintah yang besar membuat risiko tersebut tetap relevan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News