MOMSMONEY.ID - Tekanan di pasar obligasi domestik diperkirakan masih berlanjut hingga akhir 2026. Imbal hasil atau yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun yang telah mencapai sekitar 7,7% juga belum tentu menjadi level tertinggi.
Menurut Yusuf Rendy Manilet, Economic Researcher CORE, yield SUN 10 tahun diperkirakan masih akan bergerak dalam kisaran 7,5% hingga 7,9%.
“Angka ini menggunakan posisi pasar terbaru yang telah berada di sekitar 7,65 persen pada 30 Oktober dan 7,75 persen pada 3 November,” ungkapnya kepada Kontan, Selasa (3/11).
Lebih jauh, Yusuf memperkirakan yield dapat menembus 8 persen apabila harga minyak tetap tinggi, sinyal fiskal tidak membaik, dan The Fed kembali mengetatkan kebijakan.
Baca Juga: Kurs Rupiah terhadap Dolar AS Masih Fluktuatif, Ini Proyeksi Hingga Akhir Tahun
Untuk proyeksi awal 2027, secara realistis Yusuf memprediksi yield berada pada kisaran 7,4% hingga 8,0%.
Menurutnya, upaya penurunan ke bawah 7,3 persen membutuhkan stabilisasi rupiah dan respons kebijakan yang mampu memperbaiki persepsi terhadap tata kelola pasar serta kredibilitas fiskal.
Sedangkan Rizal Taufikurahman, Head of Center for Macroeconomics and Finance INDEF mengatakan yield diestimasi 7,3% hingga 7,8% untuk akhir tahun 2026, dan berisiko mencapai 8,0–8,2% jika tekanan rupiah, minyak, dan outflow memburuk.
Ia memperkirakan yield berpotensi mereda di level 7,1% hingga 7,6% dengan catatan kondisi pasar membaik.
“Kisaran ini berbasis skenario pasokan SBN dan likuiditas yang baik tetap menentukan,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (3/11).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News