MOMSMONEY.ID - Pengusaha perempuan membutuhkan akses pembiayaan yang sesuai dengan arus kas dan karakteristik bisnis agar usaha dapat bertahan, berkembang, hingga naik kelas.
Women’s World Banking menilai, pemahaman terhadap kondisi usaha perempuan menjadi kunci dalam merancang program kredit yang inklusif.
Pasalnya, kebutuhan modal dan pola pendapatan setiap usaha bisa berbeda sehingga skema pembayaran kredit perlu disesuaikan dengan kemampuan bisnis.
Regional Head for Southeast Asia Women’s World Banking Angelique Timmer mengatakan, sistem keuangan perlu lebih memahami cara perempuan menjalankan usahanya, termasuk aktivitas bisnis informal dan sumber data alternatif yang dapat digunakan untuk menilai kelayakan kredit.
“Pengusaha perempuan tidak kekurangan ambisi atau potensi. Namun, sistem keuangan terlalu sering gagal memahami bagaimana bisnis mereka sebenarnya berjalan,” ujar Timmer dalam siaran pers, Selasa (3/11).
Menurut dia, keputusan pembiayaan yang tidak mempertimbangkan arus kas usaha dapat membuat pengusaha perempuan yang sebenarnya layak memperoleh kredit justru tidak terjangkau layanan keuangan formal.
Baca Juga: Pemberdayaan Perempuan Menjadi Mesin Bisnis Cimory
Karena itu, lembaga keuangan perlu menyediakan skema pembayaran yang sesuai dengan arus kas bisnis, mekanisme pengaduan yang jelas, serta pendampingan agar pengusaha perempuan dapat membangun rekam jejak pembiayaan dan menjangkau pasar yang lebih luas.
Tantangan keberlanjutan bisnis perempuan terlihat dari riset Women’s World Banking terhadap pengusaha yang berjualan melalui platform e-commerce.
Hasilnya, hanya 44% pengusaha perempuan mampu mempertahankan usaha selama tiga hingga lima tahun. Sementara itu, hanya 23% yang bertahan lebih dari lima tahun, dibandingkan dengan 31% pengusaha laki-laki.
Di sisi lain, program Kredit Usaha Rakyat (KUR) juga diarahkan untuk membantu pelaku usaha berkembang hingga mampu mengakses pembiayaan komersial.
Deputy for the Coordination of State-Owned Enterprise Management and Development at the Coordinating Ministry for Economic Affairs Ferry Irawan mengatakan, KUR dirancang sebagai jembatan bagi pengusaha untuk naik kelas, dari usaha supermikro hingga mikro dan kecil.
“Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dirancang sebagai jembatan bagi pengusaha. Kami memantau perkembangan debitur di setiap segmen, dari supermikro hingga usaha mikro dan kecil, dengan harapan mereka dapat mengakses pembiayaan komersial seiring pertumbuhan bisnisnya,” kata Ferry.
Senada, Division Director for Indonesia and Timor-Leste World Bank, Carolyn Turk, menilai, keberhasilan program kredit pemerintah tidak cukup diukur dari besarnya penyaluran pinjaman.
Baca Juga: Pemasaran Digital Menjadi Tantangan Pelaku Usaha Perempuan
Program tersebut juga perlu mendorong pertumbuhan usaha, produktivitas, dan penciptaan lapangan kerja.
“Keberhasilan seharusnya diukur dari apakah UMKM tumbuh, menjadi lebih produktif, dan menciptakan lapangan kerja, bukan hanya dari besarnya kredit yang disalurkan,” ujar Carolyn.
Women’s World Banking menambahkan, penguatan kemampuan pengusaha perempuan dalam menggunakan produk keuangan, pendampingan setelah pencairan kredit, serta akses ke pembeli dan pasar dapat membantu bisnis bertahan dan berkembang secara berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News