MOMSMONEY.ID - Kadar gula darah tinggi dan disfungsi metabolisme dikaitkan dengan peningkatan risiko stroke. Stroke terjadi karena pembuluh darah pecah atau tersumbat.
Perlmutter, dokter neurologi dari Levels.com mengungkapkan bahwa terdapat hubungan yang jelas antara kadar gula darah, sindrom metabolik dan risiko stroke. Kadar glukosa darah tinggi menyebabkan stres oksidatif yang dapat mengeraskan dinding arteri.
Selain itu, kadar gula darah tinggi juga meningkatkan asam urat yang menghambat oksida nitrat. Sehingga, mengurangi relaksasi pembuluh darah, meningkatkan risiko stroke dan hipertensi.
Baca Juga: Gula Tinggi Darah Saat Hamil Picu Preeklampsia, Keguguran & Kelahiran Prematur
Ketika mengalami stroke, kadar glukosa puasa akan melonjak. Selain itu, beberapa penyintas stroke akhirnya memiliki kadar glukosa darah yang tinggi secara terus-menerus.
Untuk mengurangi risiko stroke, pertahankan kebiasaan makan sehat, berolahraga secara teratur, hindari merokok, dan usahakan kadar gula darah tetap stabil.
Hubungan antara diabetes, kadar gula darah, dan stroke
Terdapat hubungan yang kuat antara diabetes, gula darah tinggi dan stroke. Sebuah meta-analisis dari 102 studi yang diterbitkan di The Lancet pada tahun 2014 menyimpulkan bahwa orang dengan gula darah tinggi memiliki risiko stroke dua kali lipat.
Sindrom metabolik adalah sekumpulan kondisi yang meliputi hipertensi, trigliserida tinggi, glukosa puasa tinggi, lingkar pinggang di atas 40 inci pada pria dan 35 inci pada wanita. Sebuah studi yang diterbitkan di The Journal of Stroke pada tahun 2016 membandingkan perbedaan risiko stroke pada orang sehat dengan orang yang memiliki sindrom metabolik.
Studi ini melibatkan sekitar 5.000 orang, 162 di antaranya mengalami stroke selama periode studi sembilan tahun. Studi tersebut menemukan bahwa penderita gula darah tinggi memiliki risiko stroke 50% lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang sehat secara metabolik.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Stroke pada tahun 2005 meneliti risiko stroke iskemik dan serangan iskemik transien pada lebih dari 14.000 orang di Israel dengan riwayat penyakit jantung. Dari kelompok tersebut, 614 orang mengalami stroke.
Studi tersebut menemukan bahwa orang dengan sindrom metabolik memiliki risiko stroke 49% lebih tinggi. Dua penanda yang meningkatkan risiko stroke adalah tekanan darah tinggi dan glukosa puasa tinggi di atas 110 mg/dL.
Cara mencegah stroke pada penderita gula darah tinggi
Kebanyakan pasien gula darah tinggi juga mengalami masalah dengan tekanan darah dan kolesterol darah. Kombinasi faktor-faktor tersebut dapat menyebabkan masalah seperti risiko stroke, serangan jantung, dan gagal jantung.
Untuk mencegah penyumbatan yang menyebabkan stroke, lakukan berbagai upaya berikut:
- Jangan merokok
- Kendalikan kadar gula darah
- Pertahankan berat badan yang sehat
- Berolahragalah secara teratur
- Periksakan kadar kolesterol, targetnya adalah kadar LDL kurang dari 70 miligram/desiliter (mg/dL)
- Batasi jumlah alkohol yang dikonsumsi
- Periksakan tekanan darah
- Minumlah obat pencegahan jika diresepkan oleh dokter
- Minumlah aspirin setiap hari jika diresepkan oleh dokter
Hidup dengan gula darah tinggi dapat meningkatkan risiko stroke, yaitu kondisi ketika pembuluh darah yang memasok oksigen ke otak rusak atau tersumbat. Kadar gula darah tinggi dapat merusak pembuluh darah ini, menyebabkan pembekuan darah dan stroke.
Baca Juga: Perbaiki Kadar Gula Darah, Intip Apa Saja Manfaat Makan Oatmeal di Sini
Jika menderita gula darah tinggi, Anda dapat membantu mencegah stroke dengan perubahan pola makan, gaya hidup serta obat-obatan untuk menghentikan penyumbatan yang menyebabkan stroke. Sekian kaitan antara risiko stroke pada penderita gula darah tinggi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News