MOMSMONEY.ID - Kemampuan mengelola uang sejak remaja menjadi bekal penting untuk membangun kebiasaan finansial yang sehat.
Di tengah perkembangan layanan keuangan digital, remaja juga perlu memahami cara bertransaksi dengan aman.
Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 mencatat indeks literasi keuangan kelompok usia 15–17 tahun sebesar 56,04%.
Angka ini menunjukkan pentingnya memperkuat edukasi keuangan sejak dini agar generasi muda memiliki bekal untuk mengelola uang dan mengambil keputusan finansial.
Baca Juga: Punya Anak Remaja? Catat, Ini 5 Hal yang Tidak Boleh Anda Lakukan
Belajar mengelola uang sejak dini
Salah satu langkah awal untuk membangun kebiasaan finansial yang sehat adalah memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Dengan begitu, remaja dapat belajar menentukan prioritas sebelum menggunakan uang yang dimiliki.
Remaja juga dapat membiasakan diri menyisihkan sebagian uang jajan untuk ditabung. Kebiasaan ini membantu mereka memahami pentingnya menyimpan uang untuk kebutuhan mendatang, bukan sekadar menghabiskan uang untuk memenuhi keinginan sesaat.
Selain menabung, mencatat pengeluaran dapat membantu remaja mengetahui ke mana uang mereka digunakan. Dari kebiasaan tersebut, mereka bisa mengevaluasi pengeluaran dan menentukan bagian yang dapat dikurangi.
Pemahaman mengenai layanan keuangan juga perlu diperkenalkan secara bertahap. Remaja dapat mempelajari cara menggunakan pembayaran digital, seperti QRIS dan transfer daring, dengan pendampingan orang tua agar memahami fungsi serta risiko penggunaannya.
Baca Juga: Moms, Kapan Anak Remaja Siap Bepergian Sendiri? Ini Tips agar Tetap Aman
Kenali risiko penipuan digital
Selain memahami cara mengelola uang, remaja perlu mengetahui cara melindungi diri saat beraktivitas di ruang digital. Tawaran diskon, hadiah, atau promosi yang terlihat menarik belum tentu berasal dari sumber tepercaya.
Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) menerima 702.342 laporan penipuan sepanjang 22 November 2024 hingga 30 September 2026. Kerugian masyarakat yang dilaporkan mencapai Rp9,1 triliun, sementara dana korban yang berhasil diblokir mencapai Rp811,1 miliar per September 2026.
Data tersebut memperlihatkan pentingnya kewaspadaan saat melakukan transaksi digital. Salah satu langkah yang perlu dipahami adalah menjaga kerahasiaan informasi pribadi, termasuk PIN dan kode one-time password (OTP). Informasi ini tidak boleh diberikan kepada orang lain yang tidak berwenang.
Baca Juga: Cakap Hadirkan Cakap Next, Program Belajar Online untuk Remaja
Remaja juga perlu membiasakan diri memeriksa identitas penjual, memastikan kebenaran informasi promosi, serta tidak terburu-buru mengeklik tautan atau melakukan pembayaran ketika menemukan tawaran yang mencurigakan.
Chief of Corporate Affairs and Sustainability Permata Bank Katharine Grace mengatakan, kemudahan bertransaksi secara digital perlu diimbangi dengan kewaspadaan.
“Karena itu, sebelum membeli sesuatu atau melakukan transaksi, ingat prinsip 3A, yaitu Amati, Awasi, dan Adukan. Jika menemukan hal yang mencurigakan atau mengalami masalah, laporkan kepada bank terkait atau Otoritas Jasa Keuangan (OJK),” ujar Katharine dalam kegiatan edukasi keuangan di MTs Imadun Najah, Jakarta Utara, Jumat (16/10/2026).
Jika menemukan indikasi penipuan atau aktivitas digital yang tidak wajar, remaja juga dapat meminta bantuan orang tua atau guru. Dengan demikian, mereka tidak harus menghadapi risiko transaksi digital seorang diri.
Baca Juga: 5 Serial Romantis Remaja Penuh Kisah Manis dan Bikin Baper
Edukasi keuangan menyasar siswa SMP
Edukasi mengenai pengelolaan uang dan keamanan transaksi digital juga menjadi bagian dari program Permata Bank yang menyasar siswa SMP di 24 kota di Indonesia.
Melalui program Permata CERITA (Cinta dan Edukasi daRI kiTA) 2026, karyawan Permata Bank terlibat sebagai relawan yang mendampingi siswa mempelajari pengelolaan keuangan melalui simulasi dan aktivitas interaktif.
Materi yang diberikan mencakup smart spending, mulai dari membedakan kebutuhan dan keinginan, menentukan prioritas belanja, menunda keinginan, hingga menyisihkan uang untuk ditabung. Siswa juga diperkenalkan pada penggunaan pembayaran digital serta metode 3A untuk mengenali dan melaporkan aktivitas mencurigakan.
Program tersebut melibatkan lebih dari 500 relawan karyawan Permata Bank. Sejak 2016 hingga 2025, Permata CERITA telah menjangkau lebih dari 50.000 penerima manfaat di berbagai kota tempat Permata Bank beroperasi.
Pembelajaran keuangan sejak remaja diharapkan dapat membantu generasi muda membangun kebiasaan finansial yang sehat. Dengan memahami cara mengatur uang sekaligus mengenali risiko transaksi digital, remaja dapat lebih siap mengambil keputusan keuangan secara mandiri dan bertanggung jawab.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News