MOMSMONEY.ID - Kinerja reksadana saham masih di bawah tekanan. Sepekan terakhir, imbal hasilnya tercatat paling buruk dibanding reksadana jenis lainnya.
Mengutip Infovesta Utama periode 26 September–2 Oktober 2026, reksadana saham tercatat melemah 2,45%. Namun jika dilihat secara year to date (ytd) koreksinya masih lebih baik, yaitu turun 0,40%.
Kinerja reksadana campuran masih sedikit lebih baik. Sepekan terakhir mencatatkan koreksi 1,15% dan melemah 0,07% secara ytd.
Baca Juga: Batavia Gandeng Bank DBS Tawarkan Reksadana Offshore Berbasis Saham Emas
Riset Infovesta Utama mengungkapkan, tekanan yang dialami reksadana campuran ini dipicu oleh perombahan kabinet, jual bersih investor asing, dan naiknya imbal hasil obligasi global yang membuat pelaku pasar menahan diri.
Berikutnya adalah reksadana pendapatan tetap. Walau mengalami koreksi tipis 0,03%, tetapi kinerjanya masih dinilai stabil. Sejak awal tahun, reksadana ini masih mencatatkan kinerja terbaik dengan pertumbuhan 0,06%.
“Ada kencenderungan investor untuk mengamankan dana pada instrumen defensif di tengah ketidakpastian pasar saham,” sebut Infovesta Utama dalam keterangan resmi, Selasa (6/10).
Baca Juga: Ini Reksadana yang Menarik saat Rupiah dan Foreign Flow Menguat
Sementara reksadana pasar uang menjadi satu-satunya kategori yang masih mencatatkan imbal hasil positif. Kinerjanya tumbuh 0,08% dalam sepekan dan naik 0,02% secara ytd.
Berikut 5 reksadana pasar uang yang mencatatkan kinerja terbaik sepekan lalu:
- BRI Gamasteps Pasar Uang 0,61%
- PNM Dana Maxima 0,61%
- Jasa Capital Pasar Uang Nusantara 0,59%
- BNI-AM Dana Likuid Kelas I1 0,59%
- BNI-AM Dana Likuid Kelas A 0,56%
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News