MOMSMONEY.ID - Manajer investasi Batavia Prosperindo Aset Manajemen menawarkan reksadana offshore baru bertajuk Batavia Gold Sharia Equity USD. Produk ini merupakan reksadana syariah berdenominasi dollar AS yang memberikan akses kepada investor untuk berinvestasi pada saham perusahaan global yang memenuhi prinsip syariah.
Sesuai namanya, reksadana ini berfokus investasi pada perusahaan yang bergerak di sektor emas, perak, logam mulia, dan komoditas terkait. Produk ini ditujukan bagi investor dengan profil agresif dan toleransi risiko tinggi yang ingin mendiversifikasi portofolio melalui eksposur terhadap saham perusahaan global.
Presiden Direktur Batavia Prosperindo Aset Manajemen, Lilis Setiadi, mengatakan dinamika pasar global membuat investor semakin perlu melihat peluang investasi dari berbagai kelas aset dan wilayah, sekaligus membuka perspektif baru dalam membangun portofolio.
Batavia Gold Sharia Equity USD memberikan kesempatan bagi investor untuk mengenal lebih jauh potensi sektor emas dan komoditas global melalui saham perusahaan terkait, dengan denominasi dollar AS.
"Perluasan akses terhadap produk investasi global yang tepat dapat membuka lebih banyak pilihan bagi investor dalam membangun portofolio jangka panjang," kata Lilis dalam siaran pers, Rabu (30/9).
Baca Juga: Harga Emas Dunia Naik Tipis, Minyak jadi Penopang
Batavia Gold Sharia Equity USD memiliki tujuan investasi jangka menengah hingga panjang. Portofolionya mencakup sekitar 56 perusahaan global yang dipilih berdasarkan proses investasi berbasis fundamental, antara lain kualitas manajemen, kesehatan keuangan, tren pertumbuhan perusahaan dan pengelolaan risiko.
Selain sektor emas dan logam mulia, produk ini memberikan eksposur terhadap sejumlah subsektor komoditas lainnya, seperti tembaga dan pertambangan. Dengan denominasi dollar AS dan investasi pada efek syariah luar negeri, produk tersebut juga memberikan diversifikasi secara geografis dan tematik.
Seperti investasi berbasis saham dan pasar global lainnya, kinerja Batavia Gold Sharia Equity USD tetap dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk pergerakan harga emas, kondisi pasar saham global, nilai tukar dan perkembangan ekonomi.
Gandeng DBS sebagai agen penjual
Untuk memperluas akses investor terhadap produk tersebut, Batavia menggandeng Bank DBS Indonesia sebagai salah satu agen penjual. Batavia Gold Sharia Equity USD dapat dibeli melalui Bank DBS Indonesia dengan minimum pembelian awal sebesar US$ 10.000.
Nasabah juga dapat melakukan pembelian melalui aplikasi DBS digibank serta memperoleh layanan wealth specialist untuk membantu membangun portofolio sesuai profil risiko dan tujuan investasi.
Baca Juga: Harga Buyback Emas Hari Ini Kompak Naik, Antam Tertinggi Rp 2,40 Juta
Consumer Banking Director Bank DBS Indonesia, Melfrida Gultom, mengatakan dinamika ekonomi global mendorong investor untuk mempertimbangkan strategi investasi yang terukur. Saham di sektor emas salah satu aset yang dapat dipertimbangkan dalam diversifikasi portofolio investor dengan profil risiko yang agresif dan bertoleransi tinggi dalam menghadapi volatilitas.
"Diperkuat insight tajam serta personalised advisory yang sesuai kapabilitas Bank DBS Indonesia, kami berharap solusi ini dapat menjadi pertimbangan bagi investor membangun portofolio yang berorientasi pada pertumbuhan jangka panjang," kata Melfrida.
Di tengah lanskap ekonomi global yang terus dipengaruhi perubahan ekspektasi suku bunga dan dinamika nilai tukar, investor semakin memperhatikan pentingnya membangun portofolio yang terdiversifikasi. Memasuki kuartal IV 2026, pasar menghadapi harga energi tinggi, meski aset berisiko tetap solid berkat laba perusahaan yang solid, DBS CIO menilai investor perlu lebih selektif dengan menjaga diversifikasi lintas aset dan memperluas eksposur.
Sektor emas dan komoditas global menjadi perhatian karena karakteristiknya berbeda dari aset finansial lainnya. DBS CIO memandang emas dan komoditas tetap memiliki peran strategis dalam portofolio investasi, didukung tren jangka panjang seperti meningkatnya kebutuhan sumber daya alam, transisi energi, pembangunan infrastruktur, serta isu ketahanan sumber daya global.
Di samping itu, komoditas tetap menarik sebagai instrumen perlindungan terhadap inflasi dan diversifikasi portofolio, meski kenaikan harga yang kuat menuntut selektivitas yang lebih tinggi, dengan sektor tembaga dan aluminium yang memiliki potensi kenaikan jangka panjang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News