MOMSMONEY.ID - Pasar saham Indonesia bergejolak akibat pengumuman reklasifikasi MSCI pada 15 Oktober 2026. Anjloknya harga saham menawarkan valuasi yang menarik bagi investor untuk membeli saham dengan dividen yield tinggi sebagai passive income.
Memburu saham-saham yang membagikan dividen yield tinggi dapat menjadi kesempatan untuk meningkatkan passive income bagi investor. Namun, investor perlu waspada pada emiten dengan free float yang rendah. Emiten dengan free float di bawah 15% berisiko masuk daftar HSC (High Shareholding Concentration) dan kebijakan pembagian dividen berpotensi dikendalikan pemegang saham dominan.
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang mengatakan, investor sebaiknya memprioritaskan saham dengan kombinasi fundamental yang relatif kuat, kemampuan menghasilkan arus kas, dan kebijakan dividen yang dapat dievaluasi secara berkelanjutan, bukan semata-mata yield tertinggi.
“Masing-masing saham tetap memiliki risiko, mulai dari kualitas kredit dan pertumbuhan pembiayaan pada perbankan, persaingan industri telekomunikasi, hingga siklus otomotif dan komoditas,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (27/10).
Senior Market Analyts Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta merekomendasaikan BMRI, PTBA, TLKM, ASII, dan UNTR untuk masuk dalam daftar pantauan investasi dividen, dengan catatan tetap memperhatikan valuasi dan perkembangan pasar.
“BMRI menarik karena memiliki dividend yield indikatif 12–16% dan free float sekitar 40%, meskipun investor perlu mencermati kualitas aset, pertumbuhan kredit, serta risiko tekanan terhadap sektor perbankan,” katanya kepada Kontan, Selasa (27/10).
Sedangkan untuk PTBA menurut Nafan memiliki daya tarik potensi dividen yang relatif besar. Tetapi yang perlu diperhatikan adalah keberlanjutan pembayaran tersebut sangat bergantung pada harga batu bara dan kinerja operasional perusahaan tersebut.
“Adapun untuk TLKM dapat dipertimbangkan karena bisnis telekomunikasi relatif defensive. ASII dan UNTR juga layak dicermati karena memiliki diversifikasi bisnis dan dividend payout ratio yang relatif moderat,” imbuhnya.
Baca Juga: Rekomendasi Pilihan Saham Perbankan di tengah Volatilitas IHSG
Lalu, kapan waktu yang tepat untuk membeli saham-saham tersebut?
Pembelian sebaiknya dilakukan secara bertahap, Nafan mengingatkan supaya investor tidak perlu mengejar saham dengan dividend yield tinggi ketika volatilitas pasar masih besar di tengah ketidakpastian MSCI.
Sementara itu, Alrich mengatakan, investor perlu memperhatikan jadwal cum-dividend dan ex-dividend. Membeli hanya untuk mengejar dividen menjelang ex-date belum tentu menguntungkan karena harga saham dapat menyesuaikan setelah ex-date.
“Lebih penting lagi, investor perlu menghitung potensi capital gain/loss ditambah dividen serta menentukan batas risiko sejak awal,” tambahnya.
Nafan menyarankan investor untuk mengutamakan total imbal hasil dengan kombinasi dividen dan potensi apresiasi harga saham, serta memastikan emiten mampu mempertahankan pembayaran dividen dalam beberapa tahun ke depan.
Sedang Alrich memilih pendekatan bertahap dan disiplin, mengutamakan kualitas fundamental, likuiditas, dan keberlanjutan dividen daripada mengejar yield tertinggi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News