MOMSMONEY.ID - Minat beberapa kalangan masyarakat menggunakan produk alami atau herbal kian tinggi. Hanya saja, seiring tingginya masyarakat yang menggunakan produk herbal, membawa dua sisi yang saling beriringan. Di satu sisi, kesadaran akan pendekatan perawatan berbasis alami semakin menguat. Di sisi lain, masih terdapat persepsi keliru yang kerap menyamakan produk herbal dengan obat medis.
Persepsi tersebut tidak jarang memicu ekspektasi hasil instan. Banyak konsumen berharap produk herbal bekerja dengan cara dan kecepatan yang sama seperti obat, padahal filosofi herbal Nusantara sejak awal tidak dibangun dengan pendekatan tersebut.
Dalam tradisi pengobatan berbasis tanaman, herbal diposisikan sebagai pendukung perawatan tubuh, bukan pengganti pengobatan medis.
Kutus Kutus melihat fenomena ini sebagai tantangan sekaligus tanggung jawab. Sebagai produk herbal yang berkembang dari tradisi dan pengalaman empiris, edukasi publik menjadi bagian penting yang tidak terpisahkan dari keberlangsungan brand.
“Masih banyak yang menyamakan herbal dengan obat. Padahal, pendekatan herbal lebih menekankan pada perawatan jangka panjang dan keseimbangan tubuh, bukan solusi instan,” ujar manajamen Kutus Kutus dalam keterangan resminya, Selasa (6/1).
Baca Juga: 8 Mitos tentang Kolesterol yang Tidak Perlu Dipercaya
Kesalahpahaman tersebut sering kali muncul akibat arus informasi yang tidak selalu seimbang. Di tengah gempuran promosi digital, klaim manfaat kerap disederhanakan demi menarik perhatian, sementara konteks penggunaan yang tepat justru terpinggirkan. Kondisi ini berisiko menimbulkan ekspektasi yang tidak realistis, baik bagi konsumen maupun pelaku usaha herbal itu sendiri.
Dalam praktiknya, Kutus Kutus memilih pendekatan yang lebih hati-hati. Produk tidak diposisikan sebagai jawaban tunggal atas keluhan kesehatan, melainkan sebagai bagian dari upaya perawatan tubuh yang menyeluruh. Edukasi penggunaan yang bijak menjadi salah satu fokus utama dalam komunikasi dengan konsumen dan komunitas.
Pendekatan edukatif ini dinilai lebih bertanggung jawab dalam jangka panjang. Selain membantu konsumen memahami fungsi herbal secara proporsional, langkah tersebut juga berkontribusi menjaga ekosistem herbal tetap sehat dan kredibel. Tanpa edukasi yang memadai, produk herbal berisiko terjebak dalam narasi berlebihan yang justru merugikan semua pihak.
Di tengah meningkatnya minat terhadap produk herbal, meluruskan persepsi publik menjadi pekerjaan rumah bersama. Tidak hanya bagi produsen, tetapi juga bagi distributor, media, dan komunitas pengguna. Pemahaman yang tepat akan membantu konsumen mengambil keputusan yang lebih bijak, sekaligus menjaga kepercayaan terhadap produk herbal lokal.
Ke depan, tantangan industri herbal bukan hanya pada persaingan pasar, tetapi pada kemampuan menjaga kejujuran narasi. Dalam konteks ini, menempatkan herbal sebagai pendukung perawatan tubuh, bukan obat, menjadi fondasi penting agar pertumbuhan industri tetap sejalan dengan nilai dan etika yang melahirkannya.
Baca Juga: 4 Manfaat Minum Coklat Hangat secara Rutin bagi Kesehatan Tubuh
Selanjutnya: Pemerintah Bakal Luncurkan Proyek Pengolahan Sampah Jadi Energi di 34 Titik
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News