MOMSMONEY.ID - Gejolak pasar keuangan kerap menyebabkan investor ragu menempatkan dana. Namun, penurunan harga aset dapat membuka peluang, terutama bagi investor yang memiliki tujuan jangka panjang dan mampu mengelola risiko.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, menilai, Indonesia masih memiliki daya tarik investasi karena punya basis kekuatan pasar domestik yang besar dan kekayaan sumber daya alam.
Modal tersebut membuat target investasi pada 2026 masih berpeluang tercapai.
Meski begitu, investor masih mencermati potensi perubahan arah kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, karena dapat memengaruhi perencanaan bisnis jangka panjang.
“Dengan adanya concern terhadap kepastian kebijakan dan arah program-program pemerintah ke depan, sebagian investor masih memilih wait and see. Mereka masih reluctant untuk memastikan investasi di Indonesia," kata Faisal, Selasa (6/10) lalu.
Baca Juga: Investasi Masih Merugi, Perlukah Investor Bersih-Bersih Portofolio?
Makanya, sebagian investor asing beralih ke negara-negara pesaing, seperti Malaysia dan negara ASEAN lainnya, yang dinilai menawarkan kepastian kebijakan lebih jelas dalam aspek tertentu.
Di samping itu, kenaikan harga energi dan tekanan terhadap rupiah turut menjadi risiko yang diperhatikan investor, karena dapat memengaruhi kinerja bisnis dan pergerakan pasar keuangan.
Namun, Faisal menilai, Bank Indonesia cenderung mempertahankan suku bunga dan tidak ikut mengetatkan selama masih terdapat ruang. Dari sisi tersebut, kondisi relatif aman.
Perspektif jangka panjang
Situasi saat ini, menurut Faisal, lebih tepat dilihat sebagai kondisi yang bersifat temporer dalam perspektif jangka panjang. Artinya, peluang investasi tidak hanya perlu dilihat berdasarkan situasi hingga akhir 2026, namun juga berdasarkan kemungkinan perubahan siklus dalam jangka panjang.
Pasar tetap memiliki kemungkinan mengalami siklus. Ketika kondisi ekonomi membaik dan harga kembali berbalik naik, investor berpeluang memperoleh capital gain.
Nah, penurunan harga saat ini justru dapat dimanfaatkan untuk mulai masuk secara bertahap.
Namun, di tengah ketidakpastian pasar, investor perlu memilih instrumen sesuai dengan profil risiko, tujuan keuangan, jangka waktu investasi, dan kemampuan menanggung risiko.
Dalam kondisi seperti sekarang, kata Faisal, beberapa instrumen yang relatif lebih safe bagi investor antara lain reksadana, emas, dan obligasi.
"Khususnya obligasi pemerintah, biasanya memiliki tingkat kepastian yang lebih tinggi," ujarnya.
Meski demikian, ketiga instrumen tersebut tetap memiliki risiko. Risiko reksadana bergantung pada kinerja aset dasarnya alias underlying. Sementara, harga emas dan obligasi juga dapat berfluktuasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News