MOMSMONEY.ID - Sama-sama bekerja bukan berarti semua biaya harus dibagi rata. Simak cara membagi cicilan KPR dan belanja dapur agar keuangan seimbang.
Sama-sama memiliki penghasilan setelah menikah memang menyenangkan karena kebutuhan rumah tangga bisa ditanggung bersama. Namun, urusan membagi cicilan KPR dan belanja dapur terkadang justru memunculkan perdebatan kecil.
Apalagi jika gaji suami dan istri memiliki selisih cukup jauh, pembagian 50:50 belum tentu terasa adil. Karena itu, pasangan perlu menemukan cara mengatur keuangan yang sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Melansir dari situs Desjardins, pembagian pengeluaran berdasarkan penghasilan bisa menjadi salah satu pendekatan untuk menjaga keseimbangan finansial keluarga.
"Pembagian biaya rumah tangga yang sehat bukan sekadar membagi nominal, tetapi juga mempertimbangkan kemampuan dan kesepakatan kedua pasangan," mengutip dari situs Desjardins.
Baca Juga: 15 Game Penghasil Uang 2026: Daftar Aplikasi, Cara Kerja dan Tips Pencairannya
Tiga cara membagi cicilan KPR dan belanja dapur
Ada beberapa metode yang bisa diterapkan pasangan untuk mengatur pengeluaran bersama. Tidak harus mengikuti satu pola tertentu, selama keduanya merasa nyaman dan memahami tanggung jawab masing-masing.
1. Membagi biaya dengan sistem 50:50
Cara paling sederhana adalah membagi seluruh pengeluaran rumah tangga menjadi dua bagian sama besar. Misalnya, cicilan KPR dan belanja dapur mencapai Rp8 juta per bulan. Suami dan istri masing-masing membayar Rp4 juta.
Metode ini cocok jika penghasilan keduanya relatif setara. Namun, apabila salah satu memiliki gaji jauh lebih kecil, pembagian sama rata bisa membuat keuangannya lebih terbebani.
2. Membagi pengeluaran sesuai penghasilan
Jika pendapatan suami dan istri berbeda, sistem proporsional bisa menjadi pilihan yang lebih fleksibel.
Contohnya, suami memperoleh Rp12 juta dan istri Rp8 juta setiap bulan. Total pendapatan bersama mencapai Rp20 juta, sedangkan kebutuhan rumah tangga sebesar Rp10 juta.
Pembagiannya menjadi:
- Suami menanggung 60% atau Rp6 juta.
- Istri menanggung 40% atau Rp4 juta.
Menurut sumber dari BNN Bloomberg, pembagian pengeluaran ini berdasarkan kemampuan pendapatan dapat membantu mengurangi beban finansial pasangan yang memiliki penghasilan lebih rendah.
3. Menggunakan rekening bersama
Pasangan juga bisa menyediakan satu rekening khusus untuk kebutuhan rumah tangga. Masing-masing cukup mentransfer uang setiap bulan sesuai kesepakatan.
Dana tersebut dapat digunakan untuk membayar:
- Cicilan KPR.
- Belanja dapur dan kebutuhan bulanan.
- Tagihan listrik, air, dan internet.
- Asuransi keluarga.
- Tabungan serta dana darurat.
Cara ini membuat pemasukan dan pengeluaran lebih transparan. Rekening pribadi tetap bisa digunakan untuk kebutuhan masing-masing.
Baca Juga: Menikah Lagi di Usia 65 Tahun? Ini 7 Persiapan Keuangan biar Masa Tua Stabil
Jangan lupakan tanggung jawab cicilan KPR
Cicilan rumah berbeda dengan belanja dapur karena merupakan komitmen jangka panjang. Pasangan sebaiknya membicarakan status kepemilikan rumah, nama yang tercantum dalam perjanjian kredit, serta tanggung jawab masing-masing.
Jika menggunakan skema joint income, pastikan keduanya memahami kewajiban yang tercantum dalam perjanjian kredit. Pembagian pembayaran cicilan juga tidak otomatis menentukan hak kepemilikan rumah.
Selain itu, jangan menghabiskan seluruh pendapatan untuk membayar kebutuhan rutin. Sisihkan dana untuk keadaan darurat, perbaikan rumah, dan kemungkinan perubahan kondisi pekerjaan.
Belanja dapur juga perlu masuk anggaran bersama
Pengeluaran dapur sering terlihat sepele karena dilakukan hampir setiap hari. Padahal, jika dikumpulkan selama sebulan, jumlahnya bisa cukup besar.
Scottish Social Attitudes Survey 2019 dari Scottish Government menunjukkan bahwa 59% pasangan yang menggabungkan sebagian pendapatannya menggunakan dana bersama untuk membeli kebutuhan dapur.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa belanja bahan makanan juga menjadi bagian penting dalam pengelolaan keuangan bersama.
Agar tidak terjadi kesalahpahaman, pasangan bisa membuat anggaran belanja bulanan, menentukan batas pengeluaran, dan mencatat kebutuhan yang harus dibeli.
Tips agar pembagian keuangan tetap sehat
Supaya pengaturan keuangan tidak menjadi sumber pertengkaran, ada beberapa kebiasaan sederhana yang bisa diterapkan:
- Catat seluruh penghasilan dan pengeluaran bulanan.
- Pisahkan kebutuhan pribadi dan kebutuhan bersama.
- Tentukan metode pembagian yang disepakati.
- Sisihkan uang untuk tabungan dan dana darurat.
- Evaluasi pembagian biaya ketika penghasilan berubah.
Jangan sampai salah satu pasangan merasa terus-menerus menanggung beban lebih besar tanpa adanya komunikasi yang jelas.
Membagi cicilan KPR dan belanja dapur bagi pasangan yang sama-sama bekerja sebenarnya tidak harus selalu menggunakan sistem 50:50.
Jika penghasilan berbeda, pembagian proporsional bisa menjadi alternatif yang lebih seimbang. Sementara itu, rekening bersama dapat membantu mengatur pembayaran kebutuhan rumah tangga agar lebih transparan.
Pada akhirnya, keuangan keluarga bukan tentang siapa yang paling banyak membayar, melainkan bagaimana kedua pasangan bisa saling mendukung dan bertanggung jawab.
Selama ada keterbukaan, kesepakatan, dan evaluasi rutin, urusan keuangan rumah tangga bisa terasa lebih ringan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News