MOMSMONEY.ID - Tradisi mudik telah menjadi fenomena sosial tahunan masyarakat Indonesia yang begitu mengakar, terutama menjelang Hari Raya Idul Fitri. Jutaan masyarakat berbondong-bondong kembali ke kampung halaman, demi bersilaturahmi dengan orang tua, keluarga dan kerabat.
Lebih dari perjalanan fisik, mudik mencerminkan kerinduan, penghormatan kepada asal-usul, serta merawat ikatan kekeluargaan. Lalu bagaimana perspektif Islam memandang tradisi mudik di Indonesia? Simak penjelasan A. Riawan Amin, Ketua Dewan Pengawas Syariah PT Sompo Insurance Indonesia.
Menurut Ridwan dalam keterangan tertulis, Minggu (1/3), secara prinsip, mudik bukanlah kewajiban agama, melainkan tradisi sosial-budaya yang hidup di tengah masyarakat. Tidak ada dalil khusus yang memerintahkan mudik saat Lebaran. Namun mudik kerap menjadi sarana untuk menghidupkan nilai-nilai Islam yang sangat dianjurkan, yaitu birrul walidain dan silaturahim.
Birrul walidain berarti berbakti, berbuat baik, taat dan menghormati kedua orang tua. Kedudukannya sangat tinggi dalam Islam, bahkan kerap disebut setelah perintah menyembah Allah. Namun, birrul walidain tidak harus selalu diwujudkan dengan mudik. Jika kondisi kesehatan, keselamatan, atau ekonomi tidak memungkinkan, bakti tetap dapat diwujudkan melalui perhatian, doa, komunikasi, dan bantuan sesuai kemampuan.
Demikian pula dengan silaturahim. Islam menganjurkan menjaga hubungan keluarga, tetapi pelaksanaannya dapat menyesuaikan situasi. Dalam konteks manajemen kehidupan, kita mengenal konsep benefit dan cost (manfaat dan risiko). Mudik membawa banyak manfaat, seperti kebahagiaan, kehangatan, dan kedekatan keluarga. Namun mudik juga memiliki risiko seperti kelelahan, kemacetan, kecelakaan, dan beban finansial. Karena itu, keputusan mudik perlu mempertimbangkan manfaat dan mudaratnya secara bijak.
Baca Juga: Hemat Biaya Mudik 2026, Promo Tiket.com Tawarkan Diskon Bus hingga 50%
Berikut panduan mudik yang aman, nyaman dan penuh keberkabahan dalam perspektif Islam. Ridwan mengatakan dalam surat Al-Hasyr Ayat 18 berbunyi, “Waltandhur nafsum m? qaddamat lighad” - Dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Ayat ini mengandung pesan perencanaan dan kehati-hatian. Ketika hendak mudik, lakukan dengan persiapan matang, seperti pilih waktu dan jalur yang aman, jaga kondisi fisik, siapkan anggaran secukupnya tanpa memberatkan diri dan keluarga, serta kelola keuangan dengan bijak agar tidak sampai berutang setelah pulang mudik.
Mempertimbangkan perlindungan seperti asuransi perjalanan juga termasuk bentuk ikhtiar untuk mengantisipasi risiko tak terduga. Yang terpenting, utamakan keselamatan daripada kecepatan. Ikhtiar menjaga diri (keselamatan/kesehatan) dan berasuransi merupakan wujud nyata tawakal, yaitu berserah diri kepada Allah SWT setelah melakukan usaha maksimal.
Nilai ibadah dari mudik bukan terletak pada perjalanannya semata, melainkan pada niat dan kemaslahatan yang dihadirkannya. Niat untuk berbakti dan menyambung kasih sayang dengan keluarga jika dilakukan dengan bijak, maka hal ini dapat menjadi ladang pahala. Namun jika tidak memungkinkan, Islam tetap memberi ruang untuk berbuat baik tanpa memberatkan, karena yang utama adalah ketulusan niat dan tanggung jawab dalam setiap langkah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News