MOMSMONEY.CO.ID. Pelaku industri kecil dan menengah (IKM) kini menghadapi tantangan baru. Selain menjaga penjualan dan mengelola keuangan, pelaku usaha juga dituntut menjalankan bisnis yang lebih ramah lingkungan agar mampu bersaing di pasar.
Tantangan ini cukup besar mengingat jumlah IKM di Indonesia mencapai 4,52 juta unit usaha atau sekitar 99,7% dari total industri nasional. Karena itu, penerapan bisnis berkelanjutan menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga daya saing usaha kecil.
Melihat kondisi tersebut, PT Daya Intiguna Yasa Tbk (MDIY) atau MR.D.I.Y. Indonesia bersama PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) dan Kementerian Perindustrian menggelar pelatihan pengelolaan keuangan dan bisnis berkelanjutan yang diikuti 100 pelaku IKM dan pemasok lokal.
Chief Financial Officer MR.D.I.Y. Indonesia Rika Juniaty Tanzil mengatakan, pengelolaan keuangan dan efisiensi bisnis menjadi bekal penting bagi pemasok lokal untuk meningkatkan kualitas produk sekaligus memperluas pasar.
"Ketika pemasok lokal memiliki pengetahuan keuangan dan manajemen bisnis yang tepat, mereka memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan kualitas, efisiensi, dan daya saing bisnisnya," kata Rika dalam keterangan resmi, Senin (19/10).
Dari sisi perbankan, CIMB Niaga melihat kebutuhan pembiayaan masih menjadi salah satu aspek penting dalam pengembangan IKM. Bank ini menawarkan fasilitas supplier financing dan layanan transaksi keuangan untuk membantu pelaku usaha mengelola arus kas.
Head of Corporate Banking, Investment Banking Coverage, & Loan Syndication CIMB Niaga Miranty Supardi mengatakan, dukungan pembiayaan juga diarahkan untuk membantu pelaku IKM beralih ke praktik usaha yang lebih ramah lingkungan.
"Kami hadir tidak hanya memberikan akses pendanaan, tetapi juga mendampingi IKM melakukan transisi hijau menuju praktik bisnis yang lebih ramah lingkungan," ujar Miranty.
Baca Juga: Guncangan MSCI, Kinerja Reksadana Saham Anjlok 8,24% Sepekan Lalu
Sementara itu, Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kementerian Perindustrian Reni Yanita menilai, perubahan menuju industri hijau perlu melibatkan usaha skala kecil. Terlebih, tuntutan pasar global terhadap produk yang ramah lingkungan terus meningkat.
Upaya tersebut sejalan dengan Program Pemberdayaan IKM Hijau yang diluncurkan Kementerian Perindustrian pada Juli 2026. Program ini menyasar peningkatan efisiensi produksi, pengelolaan sumber daya, dan penerapan praktik bisnis berkelanjutan.
Salah satu contoh penerapannya terlihat pada CV Karya Wahana Sentosa (KWaS Wooden Kitchenware), pemasok lokal MR.D.I.Y. sejak 2023. Produsen perlengkapan dapur berbahan kayu ini menggunakan bahan baku bersertifikasi Forest Stewardship Council (FSC).
Direktur Utama CV Karya Wahana Sentosa Robertus Agung mengatakan, kemitraan dengan jaringan ritel modern membantu perusahaan menjangkau konsumen lebih luas. Hingga Oktober 2026, nilai penjualan KWaS melalui MR.D.I.Y. telah mencapai 85% dari total penjualan sepanjang 2025.
Di sisi lain, bisnis pemasok lokal juga menjadi bagian dari rantai pasok MR.D.I.Y. Indonesia. Sepanjang 2025, nilai pembelian perusahaan dari pemasok lokal mencapai Rp 949 miliar.
Dengan jaringan lebih dari 1.400 toko di Indonesia, pemasok lokal memiliki kesempatan memasarkan produknya secara nasional tanpa perlu membangun jaringan toko sendiri.
Sebelumnya, sepanjang 2025, MR.D.I.Y. juga menggelar pelatihan digitalisasi dan keberlanjutan bagi lebih dari 300 UMKM di tiga provinsi. Pelatihan tersebut mencakup pengelolaan usaha hingga penyusunan laporan keberlanjutan.
Bagi pelaku IKM, pengelolaan keuangan yang sehat, efisiensi produksi, dan kemampuan memenuhi standar lingkungan menjadi semakin penting untuk mempertahankan pasar sekaligus membuka peluang bisnis baru.
Baca Juga: Adidas Kids Bawa Layanan Made for You, Anak Bisa Personalisasi Pakaian
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News