MOMSMONEY.ID - Tak sedikit orang mengira rasa whisky hanya ditentukan oleh lamanya masa penyimpanan.
Padahal, proses distilasi hingga jenis tong kayu yang digunakan saat pematangan juga berperan besar dalam membentuk karakter sebuah single malt whisky.
Hal ini menjadi salah satu hal yang diperkenalkan melalui kehadiran dua rumah single malt asal Skotlandia, Glengoyne dan Tamdhu, yang resmi memasuki pasar Indonesia.
Secara umum, single malt whisky merupakan whisky yang diproduksi di satu distileri menggunakan malted barley.
Meski menggunakan bahan baku yang sama, setiap distileri memiliki teknik produksi yang berbeda sehingga menghasilkan cita rasa yang khas.
Glengoyne, misalnya, dikenal menggunakan proses distilasi yang berlangsung lebih lambat. Proses ini menghasilkan whisky dengan karakter yang lebih lembut dan seimbang, dengan aroma madu, buah-buahan, rempah ringan, serta sentuhan kayu ek.
Sementara itu, Tamdhu mematangkan seluruh produknya menggunakan tong bekas Oloroso sherry.
Proses pematangan tersebut memberikan karakter rasa yang lebih kaya dengan dominasi buah kering, cokelat, rempah hangat, dan kayu ek.
Baca Juga: Whisky Live Jakarta 2026 Satukan Whisky, Wine, dan Sake daam Satu Platform
Selain proses distilasi, jenis tong kayu atau cask menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi warna, aroma, hingga kompleksitas rasa whisky.
Semakin lama proses pematangan berlangsung, karakter yang dihasilkan pun dapat berkembang menjadi lebih kompleks.
Brand Development & Advocacy Director Glengoyne dan Tamdhu, Gordon Dundas, mengatakan, konsumen saat ini tidak hanya melihat sebuah merek, tetapi juga ingin memahami asal-usul, proses pembuatan, dan karakter dari whisky yang mereka nikmati.
"Dengan menghadirkan karakter Glengoyne yang dibuat melalui proses yang tidak terburu-buru serta Tamdhu yang mengandalkan pematangan dalam sherry cask berkualitas, kami ingin menawarkan pengalaman menikmati single malt yang berbeda bagi konsumen di Indonesia. Kami percaya pasar Indonesia memiliki peluang besar untuk berkembang," ujarnya dalam keterangan resmi Senin (13/7).
Chief Principal Glengoyne dan Tamdhu Indonesia, Edhi Sumadi, menambahkan, para penikmat whisky di Indonesia kini semakin ingin mengetahui proses di balik produk yang mereka konsumsi.
"Kami percaya para pencinta whisky kini semakin tertarik pada craftsmanship, asal-usul, dan cerita di balik apa yang mereka minum. Kedua distileri ini menawarkan karakter yang kuat sekaligus tetap berpegang pada filosofi pembuatan whisky secara tradisional," kata Edhi.
Menurutnya, tren tersebut menunjukkan pengalaman menikmati whisky kini tidak lagi sekadar soal mencicipi, tetapi juga memahami proses produksi, pematangan, hingga karakter yang terbentuk dari setiap tahapan pembuatannya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News