MOMSMONEY.ID - Peningkatan limbah pakaian merupakan masalah yang kompleks karena penyebab, dampak, dan solusinya tidak bisa diselesaikan oleh masyarakat saja. Perlu campur tangan berbagai pihak untuk setidaknya bisa meredakan masalah limbah pakaian yang terus menumpuk setiap tahunnya.
Film Menolak Punah: Saat Semua Semakin Mudah dan Murah yang disutradarai Dandhy Laknsono dan Aji Yahuti mempertontonkan sisi gelap industi fast fashion dan krisis sandang di Indonesia. Film ini diputar dalam acara “Nobar dan Diskusi Film Menolak Punah: Saat Semua Semakin Mudah dan Murah” oleh Kompas Gramedia pada Jumat (23/10).
Sutradara Film Menolak Punah, Aji Yahuti mengatakan salah satu alasan pembuatan film ini supaya masyarakat terkoneksi dengan tanah air sendiri. Masyarakat juga perlu tahu bahwa tradisi tenun lokal mengalami penurunan.
Indonesia mengalami ketergantungan impor kapas untuk memenuhi kebutuhan produksi dalam negeri. “Sudah lama Indonesia impor kapas, tetapi hingga sekarang volumenya terus bertambah,” tambahnya, Jumat (23/10).
Padahal Indonesia mengimpor begitu banyak kapas untuk kebutuhan dalam negeri, tapi kenapa produksi dan konsumsi pakaian berbahan serat alami tidak mengalami peningkatan yang sama seperti pakaian berbahan sintetis?
Baca Juga: Pomelo dan Cinta Laura Foundation Dorong Fashion Berkelanjutan
Penggunaan bahan sintetis bisa dikatakan lebih menguntungkan dari segi pemenuhan demand yang tinggi dengan biaya yang murah. Pergeseran bahan industri pakaian yang dulunya berasal dari serat alami seperti kapas dan wol, kini didominasi pakaian berbahan sintetis seperti poliester dan nilon.
Kenapa bisa memproduksi lebih banyak dan harganya lebih murah? Karena bahan dasar sintetis dapat diproduksi secara massal. Selain itu, bahan dasar kimiawi lebih mudah didapat dibandingkan kapas dan wol di mana ketersediaannya perlu waktu yang cukup lama.
Film ini juga memperlihatkan dampak pencemaran lingkungan dari proses pembuatan pakaian berbahan sintetis dan pewarna kimia. Untuk menghasilkan satu pakaian membutuhkan sekitar 2.700 liter air, setara kebutuhan manusia akan air selama 3,5 tahun. Pakaian sintetis juga lebih sulit terurai dibanding pakaian dengan serat alami.
Tidak hanya itu, limbah tekstil turut menyebabkan emisi karbon dari proses industri tekstil, serta bahaya mikro plastik dan nano plastik dari serat pakaian sintetis. Ini berbahaya karena dampaknya tidak dirasakan manusia secara langsung.
Perubahan perilaku konsumsi masyarakat dari adanya tren fast fashion menyebabkan daya guna pakaian lebih pendek, tidak lebih dari sebulan hingga berakhir di tumpukan lemari. Ini adalah salah satu penyebab limbah pakaian terus bertambah dan menggunung.
Founder Sustainable Fashion Indonesia, Nana Nurwaesari menjelaskan alasan mengapa fast fashion masih langgeng dan pakaian bekas terus menumpuk. Itu karena kesadaran akan dampak dari limbah pakaian belum terbentuk dalam masyarakat dan pemerintah kita. Sehingga produsen terus memberikan penawaran kepada konsumen.
Nana menganalogikan pengaruh dari kesadaran masyarakat yang didukung pemerintah melalui tren penggunaan tumbler dan kantung belanja dalam upaya mengurangi sampah plastik. Kebiasaan masyarakat berpengaruh dalam upaya pengurangan volume limbah.
Baca Juga: Jangan Asal Checkout! Ini Tips Belanja Baju agar Tak Menambah Sampah Tekstil
“Ketika orang-orang udah merasa bahwa bawa tumbler itu lebih irit, orang tidak harus membuang sampah dengan single use plastik. Jadi menurut aku ngaruh, tapi it's a long journey,” katanya, Jumat (23/10).
Ketika demand akan tumbler meningkat, produsen akan merespon untuk memenuhi keinginan pasar. Contoh tersebut dapat menjadi langkah untuk mengurangi limbah pakaian berbahan sintetis.
Nana menambahkan bahwa saat ini juga banyak organisasi atau komunitas pengolah limbah pakaian yang berasal dari donasi masyarakat. Namun, mengandalkan komunitas atau organsasi pengolah limbah pakaian saja kurang mampu mengatasi peningkatan jumlah limbah pakaian. Masyarakat memegang peran penting dalam upaya mengurangi limbah pakaian semakin menumpuk.
Sustainable Fashion Indonesia memiliki slogan “wear your value” dengan tujuan mengajak masyarakat untuk bijak dalam konsumsi pakaian. Kita tidak harus menuruti tren fast fashion dan mulai menggunakan pakaian yang ada di lemari dengan semaksimal mungkin.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News