MOMSMONEY.ID - Inflasi melandai dan beri sentimen posotif pada pasar. Di sepanjang pekan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,59% ke 7.177 per Jumat (2/9). Sementara, Senin (5/9), IHSG menguat 0,76% ke 7.231,88.
Infovesta Utama dalam riset Senin (5/9), menjabarkan sentimen yang menaikkan IHSG pertama adalah naiknya harga saham sektor energi sejalan dengan kenaikan harga batubara.
Kedua, rilis data beberapa emiten pada kuartal II-2022 tercatat memberikan kinerja cukup baik.
Ketiga, rilis data inflasi Agustus turun ke 4,69% dibandingkan pada Juli sebesar 4,94%. Namun, demikian inflasi inti naik ke level 3,04% di Agustus dibandingkan bulan sebelumnya 2,86%. Kenaikan inflasi tinggi karena meningkatnya harga-harga pada sektor jasa akibat dari meningkatnya daya beli masyarakat.
Sejalan dengan kondisi tersebut, pasar obligasi juga mendapatkan sentimen positif berupa menurunnya tingkat inflasi di Agustus secara bulanan. Namun, demikian volatilitas terhadap pasar obligasi masih cukup tinggi.
Sentimen negatif datang dari sikap The Fed yang masih akan agresif menaikkan suku bunga acuannya. Di sisi lain sentimen perlambatan ekonomi global dapat memberikan sinyak positif terhadap pasar obligasi seiring dengan yield obligasi 10 tahun Indonesia yang masih atraktif di atas 7%.
Baca Juga: Kenaikan Suku Bunga Menekan Pasar Modal, Simak Saran Berinvestasi Reksadana
Melihat situasi kondisi pasar saat ini, kinerja reksadana saham mengalami pertumbuhan sebesar 9,05% secara year to date. Naiknya kinerja reksadana saham dikarenakan kenaikan IHSG karena tertopang oleh harga komoditas yang masih tinggi seiring perang Rusia dan Ukraina yang masih berlanjut.
Sedangkan, untuk reksadana pendapatan tetap, Infovesta menyarankan investor dapat berinvestasi di tengah sentimen perlambatan ekonomi global dan masih menariknya yield obligasi 10 tahun Indonesia.
Namun demikian, seiring masih tingginya risiko pasar, investor perlu memperhatikan kondisi ekonomi domestik terutama inflasi yang diperkirakan masih akan naik.
Sementara dari sisi global, kenaikan suku bunga The Fed, efek lockdown di China dan berlanjutnya perlambatan ekonomi global dapat menjadi perhatian investor. Lihat saja, pekan lalu beberapa negara melaporkan rilis data PMI manufaktur yang mengalmai perlambatan ke level terendah sejak awal pandemi.
Rilis data ketengakerjaan Amerika Serikat juga menunjukkan perlambatan seiring dengan meningkatnya angka pengangguran yang naik dari level 3,5% ke level 3,7%.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News