M O M S M O N E Y I D
InvesYuk

Kinerja Wall Street Diramal Positif pada 2026, Tapi Waspada Risiko Gelembung AI

Kinerja Wall Street Diramal Positif pada 2026, Tapi Waspada Risiko Gelembung AI
Reporter: Dupla Kartini  |  Editor: Dupla Kartini


MOMSMONEY.ID - Pasar saham Amerika Serikat diperkirakan masih berada pada jalur positif pada 2026. Hasil survei Bloomberg terhadap 21 analis Wall Street, menunjukkan semua kompak memproyeksikan indeks saham AS akan kembali naik untuk tahun keempat berturut-turut, pencapaian yang terakhir kali terjadi pada periode 2003-2007.

Rata-rata target indeks S&P 500 pada akhir 2026 dipatok di kisaran 7.500-7.800. Oppenheimer menjadi yang paling agresif dengan target 8.100, atau potensi kenaikan 18%. Sementara, Bank of America memasang target paling konservatif di 7.100.

Sedangkan, Goldman Sachs menargetkan S&P 500 di level 7.600, dengan proyeksi pertumbuhan laba per saham atau earnings per share (EPS) sekitar 12% menjadi US$ 305. 

Untuk NASDAQ 100, yang didominasi saham-saham teknologi, konsensus pasar memperkirakan potensi penguatan dari level sekitar 25.400 saat ini menuju kisaran 28.000-35.000 pada akhir 2026.

Fahmi Almuttaqin, analis di platform Reku, mengatakan optimisme pasar saham AS pada 2026 terutama ditopang oleh gelombang investasi masif di sektor AI. Konsensus Wall Street saat ini masih cukup solid melihat saham AS, terutama karena belanja modal di sektor AI terus meningkat signifikan.

"Ini menjadi motor utama pertumbuhan laba korporasi, khususnya bagi perusahaan teknologi besar,” jelas Fahmi melalui siaran pers, Rabu (31/12).

Baca Juga: Reku Luncurkan Fitur 24 Jam Overnight Trading, Bisa Fleksibel Investasi Saham AS

Konsensus analis memperkirakan belanja modal perusahaan teknologi besar (hyperscaler) akan mencapai sekitar US$ 527 miliar pada 2026, meningkat dari estimasi awal US$ 465
miliar. 

Lembaga riset CreditSights bahkan memproyeksikan angka yang lebih tinggi, yakni US$ 602 miliar untuk lima hyperscaler teratas, tumbuh 36% secara tahunan. Sekitar 75% dari total belanja tersebut, atau setara US$ 450 miliar, diperkirakan akan dialokasikan khusus untuk infrastruktur AI. 

Amazon diproyeksikan memimpin dengan belanja modal US$ 140-US$ 150 miliar, disusul Microsoft dan Alphabet masing-masing sekitar US$ 120 miliar, serta Meta yang kini semakin agresif berinvestasi di AI.

Fahmi menyoroti bahwa dalam dua tahun terakhir, realisasi belanja modal perusahaan-perusahaan ini secara konsisten melampaui proyeksi awal. Pada awal 2024 dan 2025, pasar hanya memperkirakan pertumbuhan belanja modal sekitar 20%, namun realisasinya justru melampaui 50%. "Ini menunjukkan betapa kuatnya komitmen perusahaan teknologi besar dalam mengembangkan AI,” jelasnya.

Dari sisi kebijakan, dukungan fiskal juga menjadi katalis penting. Undang-Undang One Big Beautiful Bill di AS, yang mencakup pemotongan pajak, insentif depresiasi penuh untuk
infrastruktur AI, serta peningkatan belanja riset dan pengembangan, dinilai akan memperkuat prospek pasar saham.

Baca Juga: Dua Saham Bank Ini Jadi Incaran Asing, Net Buy Total Rp 1 triliun

Morgan Stanley menyebut kombinasi kebijakan fiskal, moneter, dan deregulasi saat ini sebagai triumvirate yang jarang terjadi di luar periode resesi, sehingga menciptakan kondisi yang kondusif bagi pasar saham.

Sedangkan, Goldman Sachs memperkirakan peningkatan produktivitas dari AI akan menyumbang sekitar 0,4% terhadap pertumbuhan laba korporasi pada 2026, dan meningkat menjadi 1,5% pada 2027.

Risiko gelembung AI

Meski sentimen terhadap sektor teknologi masih positif, prospek saham-saham raksasa teknologi tidak sepenuhnya seragam. Menurut Fahmi, dari analisis yang dirilis The Motley Fool, beberapa saham Magnificent Seven diperkirakan masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar, sementara lainnya mulai menghadapi tantangan valuasi.

Nvidia, misalnya, dinilai memiliki prospek paling menarik dengan proyeksi pertumbuhan pendapatan sekitar 48% pada tahun fiskal 2027, ditopang arsitektur chip terbaru “Rubin”
serta ekspansi ke AI fisik seperti robotika. 

Baca Juga: Tak Sekadar Kejar Cuan, Penggunaan Teknologi AI Penting buat Investasi

Nilai pesanan Nvidia bahkan disebut telah mencapai US$ 500 miliar hingga akhir 2026. Alphabet juga mencatat kinerja impresif sepanjang 2025 dengan kenaikan harga saham
lebih dari 60%, didorong oleh keberhasilan peluncuran model AI Gemini 3.

Sebaliknya, Apple dan Tesla dinilai relatif lebih berisiko. Apple dianggap kurang agresif dalam investasi AI, sementara Tesla dinilai memiliki valuasi yang sangat tinggi dengan rasio
price-to-earnings ke depan sekitar 195 kali.

Di balik optimisme terhadap pasar saham AS, Fahmi mengingatkan investor untuk tetap waspada terhadap risiko koreksi, khususnya di sektor AI.

Survei Deutsche Bank menunjukkan 57% responden menilai potensi kejatuhan valuasi teknologi atau meredupnya euforia AI sebagai ancaman terbesar pasar pada 2026, tertinggi sepanjang sejarah survei tersebut.

“Saat ini, pendapatan dari layanan berbasis AI baru mencapai sekitar US$ 25 miliar, jauh lebih kecil dibandingkan total belanja modal hyperscaler. Artinya, belum semua investasi AI menghasilkan imbal hasil yang sepadan,” ungkap Fahmi.

Baca Juga: Indeks ESG Lesu, Saham-saham Ini Menarik Dilirik Untuk Tahun 2026

Memasuki 2026, pasar diperkirakan akan semakin selektif, membedakan perusahaan yang sekadar membakar modal untuk infrastruktur AI, dengan perusahaan yang benar-benar
memiliki produk, model bisnis, dan jalur profitabilitas yang jelas.

Perusahaan dengan proposisi nilai yang kuat dan roadmap profitabilitas yang jelas dari investasi AI berpotensi mencatatkan pertumbuhan nilai yang signifikan. "Kondisi ini
membuka peluang menarik bagi investor maupun trader, selama tetap disiplin dalam manajemen risiko,” imbuh Fahmi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TERBARU

Diet tapi Ingin Jajan? Cek 5 Camilan Diet di Indomaret yang Sehat & Rendah Kalori

Ngemil saat diet tetap aman asal pilih jajanan yang tepat. Ini daftar camilan diet di Indomaret yang kaya serat dan tidak bikin berat badan naik.  

PELNI Tetap Beroperasi di Tengah Erupsi Anak Krakatau, Ini Jadwal dari Jakarta

Kegiatan operasional kapal PT PELNI  tetap berjalan dan terjaga di tengah dampak erupsi Gunung Anak Krakatau.  

Jawa Timur Besok (8/9) dan Lusa Dipayungi Awan, Hujan Hanya Muncul di 2 Wilayah

BMKG memprakirakan cuaca Jawa Timur Selasa-Rabu didominasi berawan, dengan suhu maksimum mencapai 35 derajat Celsius.  

Besok Tak Perlu Takut Kehujanan, Besok (8/9) dan Lusa Jawa Tengah Diprediksi Cerah

Prakiraan BMKG, Jawa Tengah Selasa-Rabu didominasi cerah, dengan suhu maksimum hingga 34 derajat Celsius di Jateng.  

Timbangan Kok Susah Turun? Ini 7 Kebiasaan Sepele yang Jadi Penyebab Utama Gagal Diet

Kegagalan menurunkan berat badan sering dipicu oleh pola makan dan gaya hidup yang keliru. Ketahui kesalahan sepele yang bikin kamu gagal diet.

Ingin Lari Lebih Konsisten, Jangan Abaikan Hidrasi dan Kondisi Tubuh

​Makin jauh jarak yang ditempuh, makin penting persiapan tubuh. Hidrasi dan mampu mengenali sinyal tubuh menjadi bagian yang tak boleh dilewatkan

Promo Sociolla Road to 9.9 Periode 1-8 September 2026, Etude-Espoir Diskon hingga 60%

Promo Sociolla Road to 9.9 Diskon s/d 60% Periode 1-8 September 2026, cek di sini untuk belanja skincare dan makeup.

Hujan Ringan Masih Mengintai Jawa Barat, Cek Prakiraan Cuaca Besok (8/9) dan Lusa

Prakiraan BMKG, Jawa Barat Selasa-Rabu didominasi cuaca berawan, sementara hujan ringan muncul di sejumlah wilayah.  

Begini Cara Refund dan Reschedule Tiket Citilink yang Terdampak Penutupan Bandara

Citilink menyediakan layanan reschedule tanpa dikenakan biaya tambahan dan layanan refund bagi penumpang yang terdampak.  

Hujan Amat Lebat Turun di Provinsi Ini, Cek Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (8/9)

BMKG mengeluarkan peringatan dini cuaca besok Selasa 8 September 2026 dengan status Siaga hujan sangat lebat di provinsi ini.