MOMSMONEY.ID – Kinerja reksadana berbasis ekuitas mulai menunjukkan perbaikan pada pekan lalu. Meski sempat menduduki posisi terendah, kali ini justru berbalik arah dan memimpin penguatan sepekan terakhir.
Mengutip data Infovesta Utama periode 2-9 Oktober 2026, reksadana saham tercatat menguat 1,19% dalam sepekan. Jika dilihat secara year to date (ytd) kinerjanya masih tumbuh 0,79%. Capaian ini menjadi yang terbaik dibanding reksadana kategori lainnya.
Segendang sepenarian, kinerja positif serupa juga ditunjukkan reksadana campuran. Sepekan terakhir mencatatkan penguatan 0,63%. Secara ytd kinerjanya menempati peringkat kedua, di bawah reksadana saham dengan penguatan 0,55%.
Paparan Infovesta menyebutkan, pengutaan kedua kategori reksadana tersebut masih dibayangi beberapa katalis negatif. Misalnya, lonjakan harga minyak, pelemahan rupiah dan jual bersih investor asing yang sempat terjadi di pertengahan pekan lalu.
Baca Juga: Reksadana Pasar Uang Pimpin Penguatan Sepekan, Ini 5 Terbaiknya
Harga minyak Brent sempat melonjak ke US$ 105,18 per barel dan WTI ke US$ 92,69. Harga ini jauh di atas posisi akhir 2025 yang masih sekitar US$ 60.
“Lonjakan ini memperkuat ekspektasi bahwa bunga acuan global akan bertahan tinggi, sehingga imbal hasil US Treasury ikut terdorong,” sebut laporan mingguan Infovesta Utama, dikutip Senin (12/10).
Kemudian rupiah juga sempat berada di kisaran Rp 17.966 per dolar AS pada 8 Oktober sebelum menguat tipis ke Rp 17.891.
Di sisi lain, meski tak setinggi reksadana saham dan reksadana campuran, kinerja reksadana pasar uang dan reksadana pendapatan tetap juga masih berada di zona positif.
Sepekan lalu, reksadana pasar uang tumbuh 0,10% dibanding pekan sebelumnya. Secara ytd kinerjanya tumbuh 0,11%.
Berikutnya, reksadana pendapatan tetap berada di peringkat terakhir dengan penguatan 0,03%. Secara ytd, kinerjanya tumbuh 0,09%.
Baca Juga: Batavia Gandeng Bank DBS Tawarkan Reksadana Offshore Berbasis Saham Emas
Untuk pekan ini, diproyeksikan reksadana pasar uang dan pendapatan tetap cenderung menarik karena relatif tahan guncangan dan didukung yield SBN yang masih menarik. Sedangkan reksadana campuran atau saham dengan emiten berfundamental kuat dapat dicicil bertahap.
“Bagi investor yang lebih agresif, produk berbasis emas bisa menjadi pelengkap karena harga emas bergerak dan cenderung berperan sebagai pelindung ketika rupiah bergejolak,” kata Infovesta.
Riset tersebut juga mengingatkan, menempatkan seluruh dana sekaligus ke reksadana saham juga kurang disarankan sebelum ada kejelasan evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) bulan November nanti.
Berikut 5 reksadana saham yang mencatatkan kinerja terbaik sepekan lalu:
- Victoria Prime Equity Fund 4,16%
- Gemilang Dana Saham Indonesia 4,07%
- Danapathi Mitra Maxima Ekuitas 3,97%
- Pacific Equity Progresif Fund II 3,72%
- Pacific Equity Growth Fund 3,26%
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News