MOMSMONEY.ID - Pernah merasa camilan favorit lebih cepat habis, padahal harganya masih sama? Bisa jadi, ukuran produk tersebut sudah berubah tanpa disadari.
Misalnya, keripik kentang yang sebelumnya berisi 100 gram kini hanya 85 gram dengan harga yang relatif sama. Hal serupa bisa terjadi pada tisu yang jumlah lembarnya berkurang, sabun dengan ukuran lebih kecil, atau detergen cair dengan volume yang disesuaikan.
Kondisi tersebut dikenal sebagai shrinkflation, gabungan dari kata shrink dan inflation. Istilah ini merujuk pada kondisi ketika produsen mengurangi ukuran, berat, atau volume produk, sementara harga tetap atau hanya berubah sedikit.
“Secara sederhana, shrinkflation terjadi ketika produsen mengurangi ukuran, berat, atau volume suatu produk, sementara harganya tetap sama atau mengalami perubahan yang relatif kecil,” ujar Michael Hartawan, Head of Retail Banking Brand & Marketing Bank Jago.
Sekilas, perubahan ukuran mungkin terlihat kecil. Namun, jika terjadi pada berbagai kebutuhan rumah tangga, dampaknya bisa terasa pada pengeluaran bulanan. Produk yang biasanya cukup digunakan selama sebulan bisa lebih cepat habis sehingga frekuensi belanja ikut meningkat.
Baca Juga: Dana Darurat atau Tabungan Emas? Begini Cara Memilih Diantara Keduanya
Untuk menghadapinya, konsumen tidak harus langsung mengurangi berbagai kebutuhan. Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah mengecek kembali pola belanja dan penggunaan produk sehari-hari.
1. Cek kembali pola belanja
Catat produk yang rutin dibeli, ukuran, harga, serta seberapa sering produk tersebut habis. Dari sini, kamu bisa melihat apakah perubahan ukuran benar-benar membuat pengeluaran meningkat.
Sebagai contoh, sampo 180 mililiter seharga Rp 50.000 biasanya habis dalam dua bulan. Jika ukurannya turun menjadi 160 mililiter dengan harga yang sama, produk tersebut berpotensi lebih cepat habis. Dalam setahun, jumlah botol yang dibeli pun bisa bertambah.
2. Jangan hanya melihat harga
Harga pada label bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Ketika ukuran produk berbeda, bandingkan harga berdasarkan satuan, seperti per gram, mililiter, atau lembar.
Sampo seharga Rp 50.000 untuk 180 mililiter, misalnya, memiliki harga sekitar Rp 278 per mililiter. Sementara itu, produk seharga Rp 55.000 dengan ukuran 200 mililiter sekitar Rp 275 per mililiter.
Artinya, produk dengan harga di label lebih mahal belum tentu lebih mahal jika dihitung berdasarkan jumlah isinya. Selain harga dan ukuran, pertimbangkan pula kualitas serta seberapa banyak produk yang digunakan setiap kali pemakaian.
3. Sesuaikan anggaran secara berkala
Perubahan ukuran produk juga bisa menjadi alasan untuk mengevaluasi anggaran bulanan. Anggaran tidak harus selalu menggunakan pembagian yang sama jika pola pengeluaran sudah berubah.
Baca Juga: Hobi Olahraga Makin Mahal, Ini Cara Atur Keuangan Biar Tak Boncos
Misalnya, jika kebutuhan rumah tangga meningkat, sebagian dana dari pos pengeluaran yang sifatnya tidak wajib bisa dialihkan untuk memenuhi kebutuhan pokok.
Memisahkan dana berdasarkan kebutuhan juga dapat membantu pengeluaran lebih mudah dipantau. “Saat harga dan ukuran produk berubah, pengelolaan anggaran juga perlu ikut menyesuaikan,” kata Michael.
Salah satu cara yang bisa digunakan adalah membuat pos khusus untuk belanja bulanan dan dana cadangan. Dengan begitu, ketika pengeluaran kebutuhan sehari-hari meningkat, ada dana yang bisa digunakan tanpa mengganggu kebutuhan lainnya.
Pada akhirnya, menghadapi shrinkflation bukan berarti harus mengurangi semua pengeluaran. Yang lebih penting adalah memahami perubahan ukuran dan harga produk, membandingkan nilai yang didapat, serta menyesuaikan anggaran dengan pola belanja terbaru.
Dengan kebiasaan tersebut, perubahan kecil pada isi produk tidak mudah membuat pengeluaran bulanan ikut membengkak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News