M O M S M O N E Y I D
AturUang

Kenali Shrinkflation, Harga Tetap tapi Isi Produk Makin Sedikit

Kenali Shrinkflation, Harga Tetap tapi Isi Produk Makin Sedikit
Reporter: Nina Dwiantika  |  Editor: Nina Dwiantika


MOMSMONEY.ID - Pernah merasa camilan favorit lebih cepat habis, padahal harganya masih sama? Bisa jadi, ukuran produk tersebut sudah berubah tanpa disadari.

Misalnya, keripik kentang yang sebelumnya berisi 100 gram kini hanya 85 gram dengan harga yang relatif sama. Hal serupa bisa terjadi pada tisu yang jumlah lembarnya berkurang, sabun dengan ukuran lebih kecil, atau detergen cair dengan volume yang disesuaikan.

Kondisi tersebut dikenal sebagai shrinkflation, gabungan dari kata shrink dan inflation. Istilah ini merujuk pada kondisi ketika produsen mengurangi ukuran, berat, atau volume produk, sementara harga tetap atau hanya berubah sedikit.

“Secara sederhana, shrinkflation terjadi ketika produsen mengurangi ukuran, berat, atau volume suatu produk, sementara harganya tetap sama atau mengalami perubahan yang relatif kecil,” ujar Michael Hartawan, Head of Retail Banking Brand & Marketing Bank Jago.

Sekilas, perubahan ukuran mungkin terlihat kecil. Namun, jika terjadi pada berbagai kebutuhan rumah tangga, dampaknya bisa terasa pada pengeluaran bulanan. Produk yang biasanya cukup digunakan selama sebulan bisa lebih cepat habis sehingga frekuensi belanja ikut meningkat.

Baca Juga: Dana Darurat atau Tabungan Emas? Begini Cara Memilih Diantara Keduanya

Untuk menghadapinya, konsumen tidak harus langsung mengurangi berbagai kebutuhan. Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah mengecek kembali pola belanja dan penggunaan produk sehari-hari.

1. Cek kembali pola belanja

Catat produk yang rutin dibeli, ukuran, harga, serta seberapa sering produk tersebut habis. Dari sini, kamu bisa melihat apakah perubahan ukuran benar-benar membuat pengeluaran meningkat.

Sebagai contoh, sampo 180 mililiter seharga Rp 50.000 biasanya habis dalam dua bulan. Jika ukurannya turun menjadi 160 mililiter dengan harga yang sama, produk tersebut berpotensi lebih cepat habis. Dalam setahun, jumlah botol yang dibeli pun bisa bertambah.

2. Jangan hanya melihat harga

Harga pada label bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Ketika ukuran produk berbeda, bandingkan harga berdasarkan satuan, seperti per gram, mililiter, atau lembar.

Sampo seharga Rp 50.000 untuk 180 mililiter, misalnya, memiliki harga sekitar Rp 278 per mililiter. Sementara itu, produk seharga Rp 55.000 dengan ukuran 200 mililiter sekitar Rp 275 per mililiter.

Artinya, produk dengan harga di label lebih mahal belum tentu lebih mahal jika dihitung berdasarkan jumlah isinya. Selain harga dan ukuran, pertimbangkan pula kualitas serta seberapa banyak produk yang digunakan setiap kali pemakaian.

3. Sesuaikan anggaran secara berkala

Perubahan ukuran produk juga bisa menjadi alasan untuk mengevaluasi anggaran bulanan. Anggaran tidak harus selalu menggunakan pembagian yang sama jika pola pengeluaran sudah berubah.

Baca Juga: Hobi Olahraga Makin Mahal, Ini Cara Atur Keuangan Biar Tak Boncos

Misalnya, jika kebutuhan rumah tangga meningkat, sebagian dana dari pos pengeluaran yang sifatnya tidak wajib bisa dialihkan untuk memenuhi kebutuhan pokok.

Memisahkan dana berdasarkan kebutuhan juga dapat membantu pengeluaran lebih mudah dipantau. “Saat harga dan ukuran produk berubah, pengelolaan anggaran juga perlu ikut menyesuaikan,” kata Michael.

Salah satu cara yang bisa digunakan adalah membuat pos khusus untuk belanja bulanan dan dana cadangan. Dengan begitu, ketika pengeluaran kebutuhan sehari-hari meningkat, ada dana yang bisa digunakan tanpa mengganggu kebutuhan lainnya.

Pada akhirnya, menghadapi shrinkflation bukan berarti harus mengurangi semua pengeluaran. Yang lebih penting adalah memahami perubahan ukuran dan harga produk, membandingkan nilai yang didapat, serta menyesuaikan anggaran dengan pola belanja terbaru.

Dengan kebiasaan tersebut, perubahan kecil pada isi produk tidak mudah membuat pengeluaran bulanan ikut membengkak.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TERBARU

Ramalan Shio Hari Ini Kamis 1 Oktober 2026: Harimau, Babi dan Kelinci Teliti Lagi

Cek ramalan shio hari ini Kamis 1 Oktober 2026, mulai dari karier, keuangan, asmara, kesehatan, hingga shio paling beruntung.

Ramalan Zodiak Hari Ini Kamis 1 Oktober 2026, Lebih Berani Untuk Bersuara

Simak ramalan 12 zodiak hari ini 1 Oktober 2026, mulai Aries hingga Pisces. Cek kabar karier, keuangan, asmara, dan kesehatan terbaru.

Harga Emas Antam dan Buyback Kompak Turun Rp 14.000, Selisih Buyback Rp 190.000

Harga emas Antam dan buyback kompak turun Rp 14.000 pada hari ini Kamis (1/10) sehingga selisih harga dengan buyback Rp 190.000.

Inilah Harga Komoditas Pangan di Awal Bulan Oktober, Cabai Makin Pedas

Sejumlah harga komoditas pangan seperti harga beras premium turun tipis di awal bulan Oktober, tetapi harga cabai melonjak tajam.

Exynos 1580 Dongkrak Performa HP Samsung Ini, Ada Jaminan 6 Kali Pembaruan OS

Layar AMOLED HP Samsung A56 sanggup capai kecerahan 1.900 nits. Ketahui seberapa jernih visualnya di bawah terik matahari.

Kesehatan Mental Terganggu, Produktivitas dan Ekonomi Ikut Tertekan

Laporan terbaru menunjukkan gangguan kesehatan mental dapat menimbulkan kerugian ekonomi hingga memengaruhi partisipasi di dunia kerja.

Harga Emas Pegadaian Hari Ini (1/10) Kompak Melonjak, UBS Jadi Rp 2.552.000 per Gram

Harga emas Galeri24 dan UBS di Pegadaian hari ini melonjak pada Kamis (1/10), berikut daftar harga lengkapnya.

Kenali Shrinkflation, Harga Tetap tapi Isi Produk Makin Sedikit

Shrinkflation membuat ukuran atau isi produk berkurang meski harga relatif tetap. Simak cara membandingkan harga dan mengatur anggaran belanja.

Influenza A Meningkat, Ini Gejala dan Pencegahannya

Dari 198 spesimen yang diperiksa, sebanyak 105 spesimen dinyatakan positif Influenza A(H1N1)pdm09 dan tujuh spesimen positif Influenza A(H3N2).

Biar Gak Gampang Capek, Terapkan 5 Kebiasaan Sehat Ini Selama Musim Kemarau yuk

Jangan biarkan cuaca panas menguras energi Anda. Ketahui kebiasaan sehat pencegah lelah yang wajib dilakukan selama musim kemarau.