MOMSMONEY.ID - Investasi properti Indonesia di 2026 masih punya prospek yang menarik, terutama didorong oleh meningkatnya konektivitas, urbanisasi, dan digitalisasi.
Ketiga faktor ini membuat kebutuhan hunian dan ruang usaha tetap tinggi, khususnya di kota-kota besar.
CEO PT Leads Property Services Indonesia Hendra Hartono menyoroti, arah pengembangan properti kini makin fokus pada keseimbangan antara kebutuhan tempat tinggal dan kualitas hidup.
“Pengembangan dan inisiatif yang mampu menjawab kebutuhan kepadatan hunian dengan tetap menjaga kualitas hidup, serta menyeimbangkan keterjangkauan dan kemewahan,” ujarnya dalam keterangan resmi Kamis (23/4).
Sektor residensial atau hunian jadi yang paling tahan terhadap tekanan, terutama jika suku bunga tetap stabil dan inflasi terkendali.
Baca Juga: Strategi, Tips, dan Perjalanan KPR Rumah Second Hingga Lunas Lebih Cepat
Permintaan juga masih kuat karena didorong kebutuhan dalam negeri, khususnya di kawasan Greater Jakarta dengan sekitar 32 juta penduduk. Sekitar 50% populasi ini menjadi target pasar utama, didominasi milenial dan Gen Z.
Di kota besar seperti Jakarta, pola hunian juga mulai bergeser. Kepadatan penduduk, keterbatasan lahan, dan mahalnya harga tanah membuat hunian vertikal seperti apartemen semakin relevan.
Kriteria yang dicari pun bukan hanya harga, tapi juga kualitas bangunan, pengelolaan yang baik, akses ke transportasi publik, serta kisaran harga unit sekitar Rp 600 juta hingga Rp 1,8 miliar.
Meski begitu, pasar belum sepenuhnya ideal. Sekitar 90% produk dinilai masih belum sesuai ekspektasi, terutama karena ukuran unit yang terlalu kecil dan kualitas finishing yang belum optimal.
Selain itu, masih ada sekitar 11.300 unit proyek yang tertunda dan 30.000 unit yang belum terjual, menandakan pasar masih butuh penyesuaian antara produk dan kebutuhan pembeli.
Baca Juga: Pilihan Rumah Baru di Bekasi, Nawasena Dibanderol Mulai Rp 600 Juta
Kabar baiknya, peluang tetap terbuka. Sekitar 50% produk properti saat ini masih berada di kisaran harga yang sesuai kemampuan pasar, yakni di bawah Rp20 juta per meter persegi. Selain itu, separuh proyek juga unggul dari sisi lokasi yang dekat dengan transportasi publik.
Untuk sektor lain, properti komersial seperti perkantoran, ritel, hingga industri dan logistik masih relatif stabil karena ditopang kebutuhan dalam negeri. Sementara sektor hospitality berpotensi tertekan, misalnya akibat penurunan wisatawan asing yang bisa berdampak pada tingkat hunian dan harga kamar.
Sebagai informasi, pembahasan ini menjadi bagian dari rangkaian ajang PropertyGuru Indonesia Property Awards ke-12.
General Manager PropertyGuru Asia Property Awards and Events Jules Kay menilai, peluang investasi properti di Indonesia masih terbuka lebar
“Seiring terus munculnya peluang investasi di Indonesia. Pengembangan yang paling tangguh dan siap menghadapi masa depan di ekonomi terbesar di Asia Tenggara ini layak mendapatkan pengakuan internasional," kata Jules.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News