MOMSMONEY.ID - Harga emas hari ini di pasar global turun untuk hari keempat. Logam mulia melandai karena kekhawatiran lonjakan inflasi di AS memicu spekulasi kenaikan suku bunga.
Mengutip Bloomberg, Jumat (15/5), harga emas spot diperdagangkan tumbang 1,55% menjadi US$ 4.579,76 per troi ons pada pukul 13.34 WIB. Dengan penurunan harga emas hari ini, maka pekan ini harganya sudah terpangkas hampir 3%.
Imbal hasil obligasi AS (US Treasury) dua tahun naik ke level tertinggi 14 bulan, sementara dollar AS naik 0,3%, memberikan tekanan pada emas yang tidak menghasilkan bunga dan dihargai dalam USD.
Inflasi grosir AS pada April 2026 meningkat ke laju tercepat sejak 2022, sementara indeks harga konsumen naik paling tinggi sejak 2023.
Selat Hormuz, jalur vital untuk aliran energi, pada dasarnya tetap tertutup, karena upaya untuk mengakhiri perang Iran masih belum jelas. Ini memperpanjang krisis energi dan menjaga kekhawatiran inflasi tetap tinggi. Hara minyak menuju kenaikan mingguan, dengan minyak WTI mendekati US$ 103 per barel pada Jumat.
Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Jumat (15/5) Anjlok Rp 20.000 Jadi Rp 2.819.000
"Ekspektasi inflasi, imbal hasil yang lebih tinggi dan dollar yang lebih kuat, kemungkinan akan terus menekan harga emas dalam jangka pendek," kata Daniel Hvnes dan Soni Kumari, analis ANZ Group Holdings Ltd., seperti dikutip dari Bloomberg, hari ini.
Maka ANZ menunda target harga emas US$ 6.000 per troi ons hingga pertengahan 2027, dari semula awal tahun depan.
Emas diperdagangkan dalam kisaran yang cukup sempit sejak jatuh tajam pada awal perang, karena investor menilai risiko inflasi yang dapat membuat suku bunga tetap tinggi. Selain juga kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi, yang dapat mendorong pelonggaran moneter. Harga emas telah turun lebih dari 13% sejak perang dimulai akhir Februari.
Menurut Ryan Mckay, ahli strategi komoditas senior di TD Securities, meskipun kinerja emas kurang memuaskan akhi-akhir ini, hedge fund mungkin akan menambahkannya ke portofolio mereka dalam beberapa hari mendatang. "Skenario penetapan harga kami terus mengarah pada akumulasi posisi beli CTA di bawah simulasi jalur harga menyeluruh," ungkapnya mengutip Bloomberg, Jumat (15/5).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News