MOMSMONEY.ID - Harga emas hari ini di pasar global memantul naik alias rebound tipis seiring para pedagang menanti rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) pada Rabu.
Mengutip Bloomberg, Selasa (13/10), harga emas spot diperdagangkan naik 0,38% menjadi US$ 4.188,38 per troi ons pada pukul 15.50 WIB. Namun, kenaikan tipis di tengah meluasnya konflik di Timur Tengah yang meningkatkan risiko inflasi tetap tinggi.
Melalui data inflasi yang akan dirilis pada pekan ini, para pedagang mencari petunjuk mengenai arah suku bunga Federal Reserve. Pasar swap saat ini memperkirakan kemungkinan kecil untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan bulan ini, dan salah satu kenaikan diperkirakan terjadi sebelum akhir tahun.
Di sisi lain, harga minyak Brent turun mendekati US$ 105 per barel setelah tiga hari naik, yang dipicu oleh kekhawatiran pertempuran di Timur Tengah dapat menghambat pemulihan pasokan.
Harga emas sebagian besar bergerak berlawanan arah dengan harga minyak sejak perang AS-Iran meletus pada akhir Februari. Gangguan pasokan energi di kawan tersebut memicu inflasi global dan pengetatan kebijakan bank sentral. Suku bunga yang lebih tinggi berdampak negatif bagi emas, yang tidak memberikan bunga.
Baca Juga: Investasi Masih Merugi, Perlukah Investor Bersih-Bersih Portofolio?
Menurut laporan Bloomberg Economics, indeks harga konsumen (CPI) AS yang akan dirilis pada Rabu, diperkirakan cukup terkendali untuk membuat The Fed mempertahankan suku bunga saat ini. Namun, indeks harga produksi dan harga impor yang akan dirilis akhir pekan akan mencerminkan tekanan berkelanjutan dari sektor energi dan barang impor.
Pada Senin, Presiden Fed Cleveland Beth Hammack, mengatakan bahwa penyesuaian kebijakan yang lebih kecil dan lebih sering dapat membantu ekspektasi inflasi tetap terkendali, tetapi ia tidak mendukung kenaikan suku bunga pada Oktober.
Kata Hebe Chen, analis di Vantage Global Prime, emas saat ini paling responsif terhadap reaksi berantai dari harga minyak hingga ekspektasi inflasi dan pada akhirnya kebijakan The Fed.
"Dengan harga minyak yang tinggi terus memicu risiko inflasi, data CPI pada rabu akan menjadi ujian penting berikutnya untuk mengetahui apakah pasar obligasi memiliki alasan lain untuk mendorong imbal hasil lebih tinggi, mempertahankan batas atas yang sulit dilampaui harga emas," imbuh Chen mengutip Bloomberg, hari ini (13/10).
Inflasi yang terus menerus dan utang pemerintah yang besar telah menyebabkan suku bunga dan imbal hasil obligasi tetap tinggi, yang telah mengurangi daya tarik emas yang tidak menghasilkan bunga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News