MOMSMONEY.ID - Harga emas hari ini di pasar global memantul naik tipis setelah setelah aksi jual yang dipicu penurunan saham AI pekan lalu.
Mengutip Bloomberg, Senin (26/10) pukul 20.31 WIB, harga emas diperdagangkan naik 0,32% menajdi US$ 4.008,84 per troi ons. Emas memantul naik setelah turun tajam 4% pekan lalu hingga jebol ke bawah level psikologis US$ 4.000 per troi ons.
Para pedagang mempertimbangkan peluang yang tipis untuk Federal Reserve menaikkan suku bunga pada pertemuan kebijakan suku bunga (FOMC) pekan ini.
Sementara, harga minyak naik ke level tertinggi enam bulan di tengah AS dan Iran saling melontarkan retorika, sedangkan saham-saham stabil setelah aksi jual pekan lalu.
Meski demikian, harga emas batangan tetap di bawah tekanan. Selain kekhawatiran inflasi akibat harga energi, emas juga terjebak dalam penurunan perdagangan saham AI secara luas, di mana investor menjual emas untuk menutupi kerugian pada saham.
Ole Hansen, Kepala strategi komoditas di Saxo Bank AS, mengatakan, harga emas didukung oleh perbaikan dalam selera risiko. Semuanya sangat terkait dengan koreksi AI pekan lalu dan lonjakan harga minyak.
"Pembalikan sebagian ini memberi pasar, termasuk emas, sedikit ruang bernafas," katanya mengutip Bloomberg, hari ini.
Baca Juga: Harga Buyback Emas Hari Ini Mayoritas Stabil, Antam Tetap Tertinggi Rp 2,33 Juta
Ekspektasi seputar arah suku bunga The Fed telah bergeser selama sebulan terakhir, menambah ketidakpastian prospek jangka pendek untuk logam mulia. Para pedagang awalnya menaikkan ekspektasi kenaikan suku bunga pada Oktober setelah angka inflasi AS lebih tinggi dari perkiraan. Namun, komentar pejabat bank sentral meredam ekpektasi tersebut.
Kini, pasar memperkirakan peluang kurang dari 10% untuk The Fed naikkan suku bunga bulan ini, meskipun harga energi tinggi masih memicu spekulasi kenaikan sebelum akhir tahun. Suku bunga yang lebih tinggi menjadi hambatan bagi emas, yang tidak memberikan bunga.
Menurut Christopher Wong, ahli strategi di Oversea-Chinese Banking Corp., kurangnya respons terhadap latar belakang suku bunga yang lebih mendukung, menunjukkan bahwa tekanan jual mungkin belum sepenuhnya berakhir.
"Risiko jangka pendek tetap condong ke arah konsolidasi, tetapi latar belakang permintaan seharusnya memberikan bantalan setelah tekanan likuidasi mereda," imbuhnya mengutip Bloomberg, Senin (26/10).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News