MOMSMONEY.ID - Harga Bitcoin di pasar global bergerak liar dalam 24 jam terakhir. Mengutip coinmarketcap.com, harga Bitcoin sempat turun ke area US$ 81.765, namun juga sempat naik ke US$ 84.466.
Hingga Sabtu (31/1) pukul 13.28 WIB, harga Bitcoin diperdagangkan pada level US$ 83.519. Volatilitas tinggi menandakan pasar belum sepenuhnya tenang setelah gelombang jual atau likuidasi besar. Tekanan jual masih kuat setelah koresi tajam.
VP INDODAX, Antony Kusuma mengatakan, volatilitas yang terjadi di pasar kripto saat ini tidak terlepas dari tekanan geopolitik dan kebijakan moneter global, sehingga pelaku pasar cenderung bersikap lebih selektif dalam mengambil keputusan.
Pelaku pasar dianjurkan tetap berhati-hati dan mencermati perkembangan faktor makroekonomi yang mempengaruhi pergerakan pasar dalam jangka pendek. Pergerakan saat ini mencerminkan reaksi pasar terhadap kebijakan moneter yang sebelumnya telah diantisipasi.
Keputusan The Fed untuk menahan suku bunga sebenarnya sudah tercermin dalam ekspektasi pasar. Namun, kebijakan tersebut dinilai belum memberikan dorongan baru bagi pasar.
Antony mengingatkan bahwa volatilitas jangka pendek pasca-pengumuman kebijakan moneter merupakan pola yang kerap terjadi di pasar kripto global. Peristiwa seperti FOMC sering menjadi momen evaluasi bagi investor.
"Pergerakan harga yang terjadi mencerminkan proses penyesuaian pasar terhadap informasi yang sudah dikonfirmasi secara resmi,” kata Antony mengutip siaran pers, Sabtu (31/1).
Bitcoin masih berkembang secara jangka panjang
Di sisi lain, ada sentimen positif dari sisi adopsi pemerintah dan institusional. Negara bagian AS, South Dakota, resmi mengajukan Rancangan Undang-Undang (RUU) pembentukan cadangan Bitcoin (Bitcoin Reserve) yang berasal dari pendapatan pemerintah negara bagian. Melalui aturan ini, South Dakota berpotensi mengalokasikan hingga 10% dari total dana kelolaan negara ke Bitcoin sebagai bagian dari strategi cadangan aset.
Antony menilai langkah tersebut mencerminkan penguatan fundamental Bitcoin di luar pergerakan harga jangka pendek. “Di tengah koreksi jangka pendek saat ini, ada perkembangan positif yang patut dicermati para investor. Adopsi Bitcoin di level pemerintah dan institusional yang menunjukkan bahwa fundamental Bitcoin terus berkembang, terlepas dari dinamika harga harian,” jelasnya
Nah, di tengah dinamika makroekonomi global yang cepat berubah, saran Antony, investor perlu aktif mengikuti perkembangan informasi dan memahami konteks risiko sebelum mengambil keputusan.
“Investor perlu menjaga disiplin dan terus memperbarui wawasan. Contohnya dengan memanfaatkan pendekatan bertahap, seperti Dollar Cost Averaging (DCA) atau membeli secara berkala guna menekan risiko fluktuasi harga yang tajam," imbuhnya.
Selanjutnya: PBB Terancam Bangkrut: Dana Operasional Habis Juli 2026, Dunia Berubah?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News