MOMSMONEY.ID - Gagal jantung masih kerap dikaitkan dengan usia lanjut. Padahal, kondisi tersebut juga dapat dialami orang berusia muda, dengan gejala yang terkadang tidak khas sehingga terlambat dikenali.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Siloam Hospitals Kebon Jeruk, dr. Leonardo Paskah Suciadi, Sp.JP, FIHA, FAPSC, FESC, FHFA, mengatakan gagal jantung bukan hanya penyakit pada pasien usia lanjut.
“Gagal jantung itu bukan pasien usia tua saja, anak muda juga banyak yang kena,” ujar dr. Paskah dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (29/9).
Menurut dia, pasien gagal jantung usia muda dapat datang dalam kondisi yang sudah cukup lanjut. Keluhan yang muncul juga tidak selalu langsung mengarah pada masalah jantung.
“Pasien termuda gagal jantung yang masih kontrol oleh saya, usia 27 tahun, seorang wanita, dengan kardiomiopati,” katanya.
Baca Juga: Pengguna Lebih Suka Story Instagram Edukatif Ketimbang Jualan, Pahami Trik Ini!
dr. Paskah menjelaskan, pada usia muda, cadangan tubuh yang masih lebih baik dapat membuat gejala penyakit jantung tidak langsung terlihat. Kondisi tersebut membuat seseorang dapat tetap beraktivitas meski kemampuan jantungnya sudah mengalami penurunan.
“Orang usia muda itu memiliki daya cadangan yang lebih baik. Jadi istilahnya dia menggunakan powerbank badannya, padahal baterainya mungkin sudah habis, baterai jantungnya. Sehingga keluhannya kadang tertutupi pada usia muda,” jelasnya.
Karena itu, gejala yang tidak khas dan muncul berulang perlu mendapat perhatian. Menurut dr, Paskah, pasien sebaiknya tidak berhenti pada satu dugaan penyakit apabila keluhan terus berulang meski sudah mendapatkan pengobatan.
“Kalau memang ada gejala-gejala yang tidak khas, harus dicari tahu. Kalau sudah dibilang penyakitnya A, diobati, tapi tidak membaik, kita harus open mind, mencari ada kemungkinan penyebab lain,” ujarnya.
Baca Juga: Konsumsi Susu Skim Rutin Tumpas Nyeri Sendi & Pangkas Kadar Asam Urat 10 Persen
dr. Paskah mengatakan salah satu penyebab gagal jantung pada pasien usia muda adalah kardiomiopati atau kelainan pada otot jantung.
Selain itu, gagal jantung juga dapat berkaitan dengan kelainan metabolik dan faktor genetik. Faktor kardiometabolik, termasuk obesitas, juga menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan.
Lebih lanjut, dr. Paskah mengingatkan bahwa gagal jantung merupakan penyakit kronis dan progresif. Karena itu, membaiknya gejala setelah pasien mendapatkan perawatan di rumah sakit bukan berarti penyakit telah sembuh sepenuhnya.
“Kalau hari ini kelemahan, pas masuk rumah sakit kita stabilkan, bengkak kaki hilang, sesak hilang, bukan berarti penyakitnya selesai di sini. Dia masih butuh obat jangka panjang, harus diperhatikan jangka panjang, supaya kondisi tidak declining seiring waktu,” jelasnya.
Baca Juga: 7 Film Tentang Body Swap, Bisa Tukar Tubuh Secara Ajaib
Ia juga menyoroti penggunaan istilah “jantung bengkak” yang masih sering digunakan ketika menjelaskan kondisi pasien kepada masyarakat. Menurutnya, istilah tersebut dapat membuat pasien lebih tenang, tetapi juga berpotensi membuat masyarakat tidak memahami bahwa kondisi yang dialami merupakan gagal jantung.
“Kita harus sama-sama menyosialisasikan bahwa gagal jantung adalah gagal jantung, sesuai nama resminya. Ini penyakit yang sangat serius karena bersifat progresif dan kronik,” katanya.
Dengan demikian, gejala yang menetap atau berulang pada usia muda tetap perlu diperiksa lebih lanjut, terutama ketika keluhan tidak membaik meski sudah mendapatkan pengobatan. Pengenalan kondisi sejak awal menjadi penting agar penyebab dan penanganannya dapat ditentukan sesuai kondisi masing-masing pasien.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News