MOMSMONEY.ID - Moms, pasti sudah tahu soal potensi Bursa Efek Indonesia (BEI) turun kasta dari level emerging market menjadi standalone market oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) karena adanya persoalan transparansi.
Jika ini terjadi maka pasar saham Indonesia setara dengan negara-negara dikategori tersebut yakni Zimbabwe atau Argentina. Padahal, secara kondisi ekonomi, Indonesia masih lebih baik dari kedua negara tersebut.
Perubahan klasifikasi MSCI bukan hal yang hanya dapat terjadi pada satu negara. Sejumlah negara, termasuk Malaysia dan Pakistan, pernah mengalami perubahan klasifikasi pasar dalam sejarah MSCI.
Namun, pengalaman setiap negara tidak bisa disamakan begitu saja. Hasilnya bergantung pada alasan perubahan klasifikasi, kondisi pasar, kebijakan yang diterapkan, dan perkembangan perbaikan yang dilakukan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat akan pentingnya transparansi kepemilikan saham, kualitas pengawasan, dan konsistensi regulasi dalam menjaga kepercayaan investor global.
Perbaikan pada aspek-aspek tersebut dapat mendukung kualitas pasar modal dalam jangka panjang. Meski demikian, perubahan klasifikasi maupun pemulihan sentimen investor tidak dapat dijamin hanya berdasarkan pengalaman negara lain.
Baca Juga: Strategi Investor Antisipasi Volatilitas IHSG Selama Masa Konsultasi MSCI
Ketika pasar bergerak tajam, investor dapat merasa terdorong untuk segera mengubah portofolio. Namun, keputusan yang hanya didasarkan pada kepanikan berisiko tidak sesuai dengan kebutuhan keuangan dan kemampuan menanggung risiko.
Untuk itu ada beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan untuk menghadapi dinamika pasar seperti dilansir dari Allianz Indonesia.
1. Tetap fokus pada tujuan jangka panjang
Investasi sebaiknya tetap mengacu pada tujuan keuangan, profil risiko, dan horizon investasi masing-masing investor, bukan semata-mata berdasarkan pergerakan pasar jangka pendek.
2.Menjaga diversifikasi portofolio
Diversifikasi tetap menjadi salah satu prinsip penting dalam mengelola risiko investasi. Penyebaran investasi ke berbagai kelas aset, sektor, maupun wilayah geografis dapat membantu mengelola risiko. Meski demikian, diversifikasi tidak menjamin keuntungan atau menghilangkan seluruh risiko kerugian.
3. Meninjau eksposur terhadap Pasar Indonesia
Investor dapat mengevaluasi kembali proporsi investasi yang memiliki eksposur tinggi terhadap pasar domestik dan memastikan alokasi tersebut masih sesuai dengan profil risiko masing-masing.
4. Menghindari keputusan yang terburu-buru
Dalam kondisi pasar yang bergejolak, mengambil waktu untuk memahami informasi dan mempertimbangkan berbagai faktor dapat membantu Anda membuat keputusan yang lebih terukur.
Bagi investor, perkembangan ini dapat menjadi momentum untuk meninjau kembali tujuan keuangan, profil risiko, serta diversifikasi portofolio. Memahami informasi secara menyeluruh dan menghindari keputusan yang didorong kepanikan dapat membantu menjaga agar keputusan investasi tetap selaras dengan kebutuhan jangka panjang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News