MOMSMONEY.ID - Pasar saham domestik memantul naik, belakangan ini. Pada perdagangan Senin (26/10) pukul 15.13 WIB, IHSG di level 5.357, membaik dibandingkan ketika pengumuman proposal reklasifikasi pasar modal Indonesia oleh MSCI, yang menyebabkan nilainya anjlok hingga 4.996.
Meski memantul naik, namun tahun ini berjalan, IHSG masih ambles 38%.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, memperkirakan kinerja IHSG tidak akan bergerak turun secara lurus selama masa konsultasi yang direncanakan MSCI sampai April 2027.
"IHSG berpotensi mengalami volatilitas tinggi diwarnai bear market rally atau rebound jangka pendek merespon laporan keuangan, arah suku bunga, maupun kabar dari regulator," katanya kepada Kontan, Selasa (20/10).
Sebagai langkah antisipasi, Nafan menyarankan investor ritel yang memegang saham dalam kategori High Shareholding Consentration (HSC) alias saham dengan kepemilikan terkonsentrasi, untuk melakukan cut loss secara bertahap saat terjadi rebound. Pasalnya, risiko penalti penghapusan indeks dapat mengeringkan likuiditas saham tersebut.
Di sisi lain, investor dengan kerugian portofolio telah mencapai lebih dari 50% sebaiknya melakukan strategi pemisahan. Saham big caps dengan fundamental kuat dan rutin membagikan dividen masih layak untuk dipertahankan.
Sedangkan, saham lapis kedua dan lapis ketiga alias second-third liner dengan fundamental tidak jelas sebaiknya cut loss secara berkala dan beralih ke instrumen yang lebih berkualitas.
Baca Juga: IHSG Tertekan, Arus Keluar Asing Capai Rp 111 Triliun
Sementara, Hans Kwee, Pengamat Pasar Modal, juga menyarankan untuk melakukan cut loss bertahap, jika saham tersebut tidak memiliki fundamental yang jelas.
"Saham-saham HSC yang murni digerakkan oleh konsentrasi kepemilikan tanpa didukung oleh kinerja profitabilitas riil dan likuiditas publik yang wajar akan terus menghadapi risiko volatilitas harga serta penyesuaian bobot indeks BEI," jelasnya kepada Kontan, Selasa (20/10).
Bagi investor yang memiliki cash, menurut Hans, investor yang memiliki kas untuk melakukan akumulasi saham secara bertahap (Dollar Cost Averaging) untuk memanfaatkan peluang membeli saham berfundamental kuat pada harga diskon.
Pembelian saham dapat dilakukan dalam tiga sampai empat tahap saat terjadi koreksi wajar, dengan mempertimbangkan stabilitas rupiah dan saham perbankan, daya tarik dividend yield saham blue-chip, serta perkembangan penegakan hukum oleh OJK dan BEI.
Hans mengingatkan, masa konsultasi MSCI hingga April 2027 membutuhkan kesabaran dan kedisiplinan dari investor ritel. Kepanikan adalah musuh utama dalam investasi.
"Dengan berfokus pada saham-saham berfundamental kuat, menjaga porsi kas, dan menerapkan strategi akumulasi bertahap, investor ritel justru bisa keluar sebagai pemenang ketika pasar menemukan titik balik pemulihannya," imbuhnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News