MOMSMONEY.ID - Harga Bitcoin tertekan hingga menjebol level psikologis US$ 80.000. Setelah sempat mencoba naik ke kisaran US$ 84.000-US$ 85.000 pada pertengahan pekan lalu, harga aset kripto terbesar ini berbalik turun tajam pada akhir pekan.
Mengutip coinmarketcap.com, Senin (26/10), Bitcoin bergerak di kisaran US$ 79.600-US$ 80.000. Penurunan ini terjadi ketika sejumlah tekanan datang hampir bersamaan.
Crypto Analyst Reku, Andri Fauzan, mengatakan penurunan Bitcoin kali ini bukan hanya koreksi teknikal biasa. Ada empat faktor yang bertemu dalam waktu berdekatan yaitu likuidasi leverage, penarikan dana institusional, korelasi dengan saham teknologi yang sedang tertekan, dan latar belakang makro yang belum ramah.
"Kombinasi seperti ini yang biasanya menghasilkan penurunan lebih dalam dari yang diperkirakan,” ujar Andri dalam siaran pers, Senin (26/10).
Salah satu pemicu tekanan harga Bitcoin adalah likuidasi beruntun posisi beli yang menggunakan leverage alias pinjaman. Ketika harga menyentuh US$ 80.000, posisi beli yang menumpuk di sekitar level tersebut terpaksa ditutup secara otomatis karena tidak lagi memenuhi persyaratan perdagangan.
Baca Juga: Harga Buyback Emas Hari Ini Mayoritas Stabil, Antam Tetap Tertinggi Rp 2,33 Juta
Dalam waktu singkat, ratusan juta dollar AS posisi perdagangan dilikuidasi paksa. Tekanan ini semakin terasa karena penurunan terjadi pada akhir pekan, saat likuiditas pasar cenderung lebih tipis. Penjualan paksa pun memicu gelombang penjualan berikutnya yang sulit dihentikan dalam waktu singkat.
Tekanan juga datang dari investor institusional. ETF Bitcoin spot yang sebelumnya menjadi penopang harga, justru mencatat arus keluar hampir US$ 636 juta hanya dalam satu hari, menghapus sebagian besar dana yang masuk pada awal pekan. Ketika investor institusional mulai menarik posisi, sentimen pasar ritel ikut melemah.
Di pasar saham, Bitcoin turut menghadapi tekanan dari pelemahan saham teknologi AS. Kekhawatiran bahwa belanja besar-besaran untuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai dinilai berlebihan, menekan Nasdaq dan menyeret aset kripto.
Menurut Andri, Bitcoin semakin sulit bergerak berlawanan dengan saham teknologi. Ketika selera risiko investor menurun, Bitcoin kerap menjadi salah satu aset yang cepat dilepas karena volatilitas harganya yang tinggi.
Kondisi ini diperparah oleh latar belakang makro yang sedang tidak mendukung. Ketegangan di Timur Tengah mendorong harga minyak naik kembali, yang selalu membawa
kekhawatiran inflasi.
Pasar juga sedang menunggu keputusan suku bunga The Fed yang dijadwalkan pada Rabu, 28 Oktober. Pasar berekspektasi bahwa bank sentral masih akan mempertahankan sikap berhati-hati. Ketidakpastian ini mendorong banyak pelaku pasar memilih menunggu sebelum mengambil posisi.
Cermati level harga Bitcoin
Dari sisi teknikal, posisi Bitcoin dalam jangka pendek ikut berubah setelah harga menembus US$ 80.000. Andri mengatakan, area US$ 81.500-US$ 82.000 yang sebelumnya menjadi penopang harga, kini berpotensi menjadi resistensi atau penghalang kenaikan.
Rata-rata pergerakan harga selama 50 hari atau moving average 50 hari, yang berada di sekitar US$ 81.700, turut memperkuat resistensi di zona tersebut. Selama Bitcoin belum mampu kembali menembus area itu secara meyakinkan, tekanan jual masih berpeluang berlanjut.
Baca Juga: Bitcoin Rebound, Inflasi AS jadi Penentu Peluang Menguji US$ 87.000
Sementara itu, area US$ 78.500-US$ 79.500 menjadi level dukungan atau support berikutnya yang dicermati pelaku pasar. "Jika zona tersebut gagal bertahan, harga Bitcoin berpotensi turun lebih jauh menuju kisaran US$ 75.000-US$ 77.000," prediksi Andri.
Andri mengatakan keputusan The Fed pada Rabu menjadi salah satu titik kritis pekan ini. Jika nada pernyataannya lebih lunak dari yang dikhawatirkan pasar dan aliran ETF mulai membaik, ada peluang Bitcoin kembali ke atas US$ 81.000 hingga US$ 82.000 sebelum akhir pekan. "Tapi, selama belum ada konfirmasi dari keduanya, sikap hati-hati tetap masuk akal," imbuhnya.
Meski harga tengah terkoreksi, Andri menyebut perspektif jangka panjang terhadap Bitcoin tidak berubah. Koreksi harga telah berulang kali terjadi sepanjang sejarah Bitcoin. Struktur adopsi institusional dan pasokan yang semakin terbatas juga tetap menjadi fondasi bagi prospek Bitcoin dalam jangka menengah hingga panjang.
Bagi investor dengan horizon investasi panjang, dia menilai, kondisi seperti ini lebih tepat menjadi momen untuk mengevaluasi portofolio daripada memicu kepanikan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News