MOMSMONEY.ID - Memberikan informasi awal diperlukan sebagai pengingat adanya sebuah pertunjukan dan pameran yang bakal digelar. Inilah yang dilakukan Dyandra Promosindo untuk memberi informasi terkait ajang penyelenggaraan creative event 25/7 (Twenty Five Seven) pada bulan Desember mendatang.
Dus, Kamis lalu (8/10) diselenggarakan 25/7 Prelude bertempat di Gramedia Jalma Melawai. Dengan mengusung tema “Dari Halaman ke Nada: Buku dalam Musik Sore”, kegiatan ini menghadirkan sesi diskusi buku dan live performance oleh band Sore.
Melalui sesi “Dari Halaman ke Nada” yang dipandu oleh moderator Haris Franky, 25/7 Prelude mengajak audiens untuk kembali menikmati buku sebagai hobi dan sebagai sumber inspirasi dalam berkarya, sekaligus mengenal enam personel Sore melalui enam buku yang memiliki arti penting bagi masing-masing personel.
Keenam buku yang diperkenalkan yaitu Kartun Riwayat Peradaban karya Larry Gonick, One Flew Over the Cuckoo’s Nest karya Ken Kesey, Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, Quran Mapping karya Nur Fajri Romadhon, Finding Audrey karya Sophie Kinsella, dan The Beatles Way karya Larry Lange.
25/7 Prelude memadukan literasi dan musik yang menjadi ruang bagi audiens untuk mengenal Sore dari sisi yang lebih personal, khususnya melalui buku-buku yang memiliki makna penting bagi tiap personel. Tidak hanya membahas kegemaran membaca, audiens juga diajak untuk menggali lebih jauh mengenai bagaimana bacaan yang diperoleh dari buku dapat membentuk perspektif para personel Sore hingga turut memengaruhi prosesnya dalam berkarya.
“Kami memilih tema ‘Dari Halaman ke Nada’ karena buku dan musik sama-sama punya kemampuan untuk membangun imajinasi dan membawa orang untuk melihat sesuatu dari perspektif yang berbeda. Dari acara ini, kami harap teman-teman bisa melihat bahwa pengalaman menikmati musik juga bisa dimulai dari hal-hal sederhana, termasuk dari apa yang kita baca dan temukan sehari-hari,” ujar Project Manager 25/7, Rafi Elmanda dalam keterangan, Kamis (8/10).
Baca Juga: Drama Musikal Home Sweet Loan: Belajar Financial Planning Lewat Panggung Pertunjukan
Enam buku dengan enam latar yang berbeda menjadi pintu masuk untuk mengenal cara pandang masing-masing personel. Tidak hanya membahas bacaan yang disukai, sesi diskusi juga menggali alasan di balik pilihan buku tersebut serta bagaimana pengalaman membaca dapat membentuk karakter, perspektif, dan cara berpikir seorang musisi.
Salah satu personel Sore, Awan Garnida, menjelaskan bahwa suatu temuan dapat hadir melalui buku, baik novel maupun berbagai bacaan lainnya, yang kemudian membentuk cara seseorang melihat dan memahami kehidupan. Bagi dirinya, berbagai pengalaman dan temuan tersebut menjadi bagian yang kemudian diekspresikan secara langsung di atas panggung.
“Kalau musik adalah ekspresi dari apa yang kita temukan dalam hidup berdasarkan pengalaman sendiri, sementara buku adalah temuan-temuan yang dituliskan oleh orang lain. Ketika kita membaca dan menemukan sesuatu, misalnya, ‘oh, ternyata seperti ini rasanya sakit hati’, ‘oh, ternyata seperti ini rasanya jatuh cinta’, atau berbagai perasaan lainnya, semua itu kemudian bisa kita tuangkan dalam bentuk nada dan lirik. Kualifikasinya kurang lebih seperti itu,” jelas Awan.
Baca Juga: Musikal Absurd Ubah Kegelisahan Hidup Jadi Pertunjukan Musikal Penuh Tawa
Sementara bagi Bemby Gusti, personel Sore lainnya, sebuah bacaan tidak selalu hadir secara langsung pada sebuah karya. Buku Quran Mapping menjadi salah satu bacaan yang memberikan perspektif mengenai bagaimana seseorang memahami kehidupan dan perjalanan yang dijalaninya.
Ada The Adams dan Littlefingers
Menjelang gelaran utama 25/7, dua nama telah diperkenalkan, yaitu The Adams dan Littlefingers. Keduanya akan menjadi bagian dari line-up 25/7 yang akan hadir pada 4-6 Desember 2026 di Taman Kota Peruri.
Dari sisi musik, The Adams membawa warna indie dan alternative rock dengan sentuhan pop yang enerjik, sementara Littlefingers menghadirkan pendekatan electronic jazz yang lebih eksperimental.
Kehadiran keduanya menjadi gambaran awal dari keberagaman karakter musik yang mewarnai 25/7, sekaligus memperkuat pengalaman yang akan dihadirkan bagi para pengunjung.
Keberagaman tersebut sejalan dengan semangat 25/7 untuk menghadirkan ruang yang mempertemukan berbagai minat dan bentuk ekspresi dalam satu pengalaman. Tidak hanya berfokus pada pertunjukan musik, 25/7 akan mempertemukan berbagai elemen yang dekat dengan gaya hidup dan keseharian audiens, mulai dari fesyen, F&B, gaya hidup, hingga musik dalam satu ruang yang mempertemukan berbagai karya, komunitas, dan pengalaman.
25/7 Prelude menjadi salah satu rangkaian yang mengawali perjalanan menuju penyelenggaraan 25/7.
Informasi lebih lanjut mengenai acara 25/7 dapat dicek melalui kanal sosial media instagram @twentyfiveseven.id
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News