MOMSMONEY.ID - Apakah kamu ermasuk orang kaya? Kekayaan sering dianggap sederhana yaitu semakin banyak uang dan aset, semakin kaya seseorang.
Padahal, kondisi finansial juga ditentukan oleh kemampuan membayar kebutuhan, menghadapi pengeluaran mendadak, serta membangun aset secara konsisten.
Kerangka tujuh level kekayaan dari Steve Burns menggambarkan perjalanan finansial mulai dari kondisi bertahan hidup hingga kekayaan yang dapat diwariskan.
Melansir dari New Trader U, setiap tahap memiliki persoalan berbeda sehingga target keuangan sebaiknya tidak disamakan untuk semua orang.
Di Indonesia, cara seperti ini pas karena pengelolaan uang perlu menyesuaikan pendapatan, biaya hidup, utang, aset, dan tujuan masing-masing.
Baca Juga: BCA KKI Bisa Bayar QRIS di myBCA, Ini Cara Aktivasi dan Transaksi dengan Mudah
Level pertama: bertahan sebelum berkembang
Pada tahap paling awal, seseorang masih berjuang memenuhi kebutuhan rutin. Tabungan terbatas membuat kerusakan kendaraan, kehilangan pemasukan atau tagihan mendadak bisa langsung mengganggu keuangan.
Target utamanya bukan mengejar keuntungan investasi, melainkan membangun fondasi. Dana darurat, penghasilan yang lebih stabil dan pengendalian pengeluaran menjadi prioritas.
Level kedua: keluar dari tekanan utang
Ketika kebutuhan mulai terpenuhi, persoalan berikutnya dapat berasal dari utang berbunga tinggi. Penghasilan sudah ada, tetapi sebagian besar habis untuk membayar kewajiban.
Fokusnya adalah mengurangi utang konsumtif, menghentikan kebiasaan menambah cicilan yang tidak perlu, lalu menyiapkan dana darurat sekitar tiga sampai enam bulan pengeluaran.
Level ketiga: mulai membangun aset
Di tingkat berikutnya, kondisi keuangan mulai lebih stabil. Pengeluaran mendadak tidak selalu langsung menjadi masalah besar karena sudah tersedia cadangan.
Saat inilah menabung dan investasi jangka panjang mulai memiliki peran lebih besar. Instrumen investasi tetap perlu disesuaikan dengan tujuan dan toleransi risiko, bukan sekadar mengikuti tren.
Level keempat: memiliki lebih banyak pilihan
Ketika aset semakin besar, seseorang mulai mempunyai fleksibilitas dalam menentukan pekerjaan dan gaya hidup. Namun, kekayaan bersih belum tentu sama dengan uang tunai yang siap digunakan.
Sebagian aset mungkin tersimpan dalam rumah, bisnis atau instrumen jangka panjang. Karena itu, arus kas menjadi perhatian penting agar aset tidak hanya terlihat besar di atas kertas.
Level kelima: bekerja bukan lagi keharusan
Pada tingkat kemandirian finansial, hasil dari aset secara realistis mulai mampu menopang kebutuhan hidup. Seseorang tetap bisa bekerja, tetapi keputusan tersebut lebih banyak didorong pilihan pribadi daripada kebutuhan membayar tagihan.
Prioritas kemudian bergeser pada perlindungan aset, diversifikasi, pengelolaan risiko dan perencanaan keuangan jangka panjang.
Level keenam: kekayaan membutuhkan sistem
Pada kekayaan yang sangat besar, mengelola uang tidak lagi cukup dilakukan secara sederhana. Portofolio, bisnis, pajak, risiko dan rencana keluarga membutuhkan pengelolaan yang lebih terstruktur.
Baca Juga: Tips Menghemat Pengeluaran Anak Kos biar Uang Aman sampai Akhir Bulan
Kondisi ekonomi Indonesia juga perlu diperhatikan. Bank Indonesia pada Agustus 2026 mempertahankan BI Rate di 5,75%, sementara inflasi Juli 2026 tercatat 2,88% secara tahunan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keputusan keuangan tetap perlu mempertimbangkan lingkungan ekonomi, bukan hanya besarnya aset.
Level ketujuh: kekayaan menjadi warisan
Tingkat terakhir bukan lagi sekadar soal memenuhi kebutuhan pribadi. Perhatian dapat beralih pada keberlanjutan bisnis, filantropi, keluarga dan bagaimana aset tetap memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Namun, tujuh level ini bukan standar resmi untuk menentukan seseorang kaya atau miskin. Angka kekayaan bersih dari sumber merupakan sebuah kerangka, sementara kondisi nyata setiap orang di Indonesia sangat dipengaruhi pendapatan, lokasi, tanggungan dan biaya hidup.
Kenali posisi sebelum mengejar angka
Inti dari tujuh level tersebut sebenarnya cukup sederhana yaitu jangan menggunakan pencapaian orang lain sebagai patokan utama. Orang yang sedang membangun dana darurat mempunyai persoalan berbeda dengan seseorang yang sudah mengelola banyak aset.
Jika masih berada pada tahap awal, membangun cadangan dan mengendalikan utang bisa menjadi kemajuan besar. Jika kondisi sudah stabil, fokus dapat bergeser pada pembangunan aset dan perlindungan kekayaan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News