MOMSMONEY.ID - BNI Sekuritas memproyeksikan pasar obligasi domestik akan bergerak lebih volatil pada perdagangan Jumat (13/2/2026).
Pada perdagangan kemarin, harga Surat Utang Negara (SUN) ditutup bervariasi. Berdasarkan data PHEI, yield SUN benchmark 5-tahun (FR0109) stagnan di level 5,71%, sementara yield SUN benchmark 10-tahun (FR0108) naik 1 basis poin (bp) ke 6,42%.
Sementara itu, data Bloomberg mencatat yield curve SUN 10-tahun (GIDN10YR) turun 1 bp ke level 6,42%. Level tersebut masih berada dalam kisaran estimasi mingguan BNI Sekuritas di rentang 6,29%–6,48%.
Dari sisi likuiditas, volume transaksi SBN secara outright mencapai Rp 26,3 triliun, meningkat dibandingkan hari sebelumnya sebesar Rp 18,9 triliun.
Seri FR0109 dan FR0103 menjadi yang teraktif di pasar sekunder dengan volume masing-masing Rp 3,6 triliun dan Rp 2,4 triliun.
Adapun volume transaksi obligasi korporasi tercatat sebesar Rp 5,5 triliun.
Di pasar valas, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah 0,25% dari Rp 16.786/US$ menjadi Rp 16.828/US$.
Baca Juga: IHSG Diproyeksi Menguat, Berikut Rekomendasi Saham MNC Sekuritas Jumat (13/2)
Untuk perdagangan hari ini, indikator global menunjukkan sentimen yang beragam. Yield US Treasury (UST) tenor 5-tahun dan 10-tahun masing-masing turun 8 bp dan 9 bp ke level 3,67% dan 4,09%.
Namun, Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor 5-tahun naik 2 bp ke 81 bp, mengindikasikan peningkatan persepsi risiko.
Head of Fixed Income Research BNI Sekuritas Amir Dalimunthe mengatakan, dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, pihaknya mengantisipasi peningkatan volatilitas harga dan yield Surat Berharga Negara (SBN) berdenominasi rupiah.
Berdasarkan valuasi yield curve, Ia memperkirakan sejumlah seri obligasi akan tetap menarik bagi investor.
BNI Sekuritas merekomendasikan beberapa seri SUN yang dinilai atraktif, yakni FR0096, FR0100, FR0103, FR0075, FR0098, dan FR0079.
Investor disarankan mencermati dinamika global serta pergerakan CDS domestik yang berpotensi memengaruhi arah yield SBN dalam jangka pendek.
Selanjutnya: Gubernur The Fed: Kebijakan Moneter Terlalu Ketat, Inflasi Bukan Ancaman Utama
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News