MOMSMONEY.ID - IHSG anjlok ke posisi 5.185,10 pada penutupan pasar modal Indonesia di pekan ketiga Oktober 2026.
Pelemahan ini merupakan akumulasi dari tekanan eksternal maupun tekanan domestik, salah satunya pengumuman MSCI yang mengusulkan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.
Akumulasi nett sell asing di pasar saham Indonesia hingga pekan ketiga Oktober 2026 secara year to date berada di angka Rp 111 triliun. Arus keluar asing ini memperbesar risiko volatilitas dan menghambat pemulihan pasar saham domestik.
“Dari sisi global, tingginya suku bunga dan yield obligasi negara maju membuat aset berpendapatan tetap relatif lebih menarik, sementara ketegangan geopolitik dan kenaikan harga minyak meningkatkan risiko inflasi serta membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter,” ungkap Nafan Ajis Gusta, Senior Market Analys Mirae Asset Sekuritas, kepada KONTAN, Selasa (13/10).
Sedang dari sisi domestik, Nafan menambahkan bahwa investor masih mencermati kredibilitas kebijakan ekonomi, konsistensi pengelolaan fiskal, stabilitas rupiah, dan efektivitas belanja pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi serta profitabilitas emiten.
Baca Juga: IHSG Anjlok 11,57%, Ini Saran Strategi bagi Investor
Penguatan pasar domestik dan target pertumbuhan ekonomi 6% pada 2027 membutuhkan belanja negara yang produktif untuk meningkatkan konsumsi, investasi, dan laba perusahaan.
Investor global belum tertarik pada pasar domestik karena butuh mempertimbangkan risiko yang ada. Nafan mengatakan, Investor asing tidak hanya mempertimbangkan valuasi saham, tetapi juga memperhitungkan risiko nilai tukar, likuiditas pasar, kepastian kebijakan, dan prospek imbal hasil dalam dolar AS.
Selain itu, investor global juga membutuhkan kepastian mengenai reformasi pasar modal sebelum memutuskan kembali. Risiko jika nett sell masih berlanjut hingga akhir tahun akan berdampak pada tekanan saham berkapitalisasi besar, melemahnya likuiditas, meningkatnya volatilitas, dan penundaan pemulihan valuasi pasar.
Untuk memulihkan kepercayaan global, Nafan menjelaskan, perlunya pemerintah, OJK, BEI, dan KSEI untuk memastikan reformasi pasar modal berjalan nyata, terukur, dan konsisten agar kepercayaan investor dapat pulih.
“Arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia, pergerakan rupiah, harga minyak, serta yield obligasi global akan menentukan ruang pemulihan pasar. Apabila harga minyak bertahan tinggi, tekanan inflasi dan nilai tukar dapat membatasi ruang pelonggaran moneter,” kata Nafan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News