MOMSMONEY.ID - Kanker payudara masih jadi penyakit terbanyak yang diidap perempuan dan kasus terbesar di Indonesia. Dengan perkiraan lebih dari 66.000 kasus baru setiap tahunnya. Tingginya angka kematian sering kali dikaitkan dengan diagnosis stadium lanjut dan keterlambatan akses terhadap pengobatan yang tepat.
Menanggapi masalah kesehatan nasional tersebut, Siloam International Hospitals (Siloam) menjalin kerjasama dengan PT Roche Indonesia (Roche). Kolaborasi yang ini bertujuan untuk menurunkan stadium penyakit (disease down-staging) atau menjadi sebuah upaya sistematis untuk menangani pasien pada tahap yang lebih awal, di mana peluang kesembuhan jauh lebih tinggi.
Dr. Edy Gunawan, CEO MRCCC Siloam Hospitals Semanggi menuturkan ada lima kasus penyakit terbesar di Indonesia yang masih menjadi dilemma industri kesehatan. Utamanya kanker payudara. Dirinya mencatat, perjalanan pasien kanker pada umumnya panjang, dan setiap tahapan pengobatan dan perawatan pasien perlu mendapat pelayanan yang maksimal untuk kesembuhan.
“Oleh karena itu, kami memimpin inisiatif ini untuk membangun ekosistem onkologi yang utuh mulai dari deteksi dini, navigasi pasien, hingga akses terhadap terapi inovatif,” ungkap Edy Gunawan pada acara penandatanganan nota kesepahaman Siloam International Hospital dan Roche Indonesia di Siloam Semanggi pada Jumat (13/2).
Baca Juga: Libur Imlek, KAI Logistik Jaga Operasional KALOG Express dan Tambah Kapasitas Angkut
Edy meyakini dengan kerjasama ini, terbangun ekosistem layanan onkologi komprehensif yang menjembatani inovasi medis global dengan praktik klinis lokal, sehingga pasien di Indonesia dapat mengakses standar pengobatan berstandar international di tanah air.
“Dengan menggandeng Roche sebagai mitra strategis, kami mempercepat terwujudnya standar perawatan kelas dunia ini di seluruh jaringan rumah sakit kami, sehingga pasien tidak perlu lagi mencari pengobatan ke luar negeri," tutur Dr. Edy Gunawan.
Edy menambahkan peran perawat onkologi dalam proses pengobatan pasien kanker sangatlah penting. Hanya saja, jumlah perawat onkologi tak sebanding dengan jumlah pasien kanker di Indonesia.
Head of Communication and Public Policy Roche, Lucia Erniawati juga menyebut di Indonesia jumlah orang yang berminat menjadi perawat di layanan onkologi umumnya banyak. Dia bilang, empat tahun lalu dan bekerjasama dengan rumah sakit Dharmais dan Universitas Indonesia, Roche mencatat 200 sampai 300 perawat dari berbagai rumah sakit mengikuti pelatihan keperawatan onkologi dasar.
“Bersama dengan Universitas Indonesia telah menghasilkan sekitar 60 perawat spesialis onkologi yang kini bertugas di berbagai rumah sakit. Diharapkan dengan kerjasama ini ada percepatan untuk melayani pasien kanker di berbagai macam rumah sakit,” sebut Lucia.
Baca Juga: Siloam Raih Silver Medal EcoVadis 2025, Masuk 15% Teratas Perusahaan ESG Global
MRCCC Siloam Hospital pun mengembangkan program fast track keperawatan onkologi. Program ini bukan sekadar pelatihan singkat, melainkan untuk membantu meningkatkan kompetensi yang dirancang bertahap dan terstruktur. Skema ini dimulai dari penguatan kompetensi dasar melalui program Basic Nurse Oncology atau keperawatan onkologi dasar.
Melalui integrasi keahlian global Roche dengan jaringan rumah sakit Siloam yang luas, kemitraan ini akan membangun sistem pendukung yang memberdayakan pasien, mulai dari navigasi perawatan hingga akselerasi pemulihan.
Inisiatif ini akan diwujudkan melalui langkah-langkah konkret,
● Pemberdayaan Komunitas Pasien: mendukung pertumbuhan komunitas pasien, menyediakan layanan "navigasi" untuk membimbing pasien melalui sistem perawatan kesehatan yang kompleks sejak hari pertama diagnosis.
● Keunggulan Klinis & Peningkatan Standar: Siloam akan meningkatkan layanan onkologinya sesuai dengan standar internasional seperti pusat kanker di negara-negara Asia Tenggara, dan berkolaborasi dalam menghasilkan Real-World Evidence (RWE) yang digunakan untuk meningkatkan protokol pengobatan kanker dalam konteks pasien di Indonesia.
● Akses & Keterjangkauan: kedua belah pihak berupaya mengoptimalkan hasil pengobatan dengan mengurangi beban finansial pasien melalui program dukungan pasien (Patient Support Program) serta model pembiayaan yang lebih efisien dan dapat memangkas waktu tunggu tindakan medis.
Sanaa Sayagh, Presiden Direktur PT Roche Indonesia bilang inovasi medis menjadi tidak berarti jika tidak dapat menjangkau pasien yang membutuhkannya. Oleh karena itu, Roche berupaya untuk meruntuhkan hambatan akses baik itu tantangan finansial, administratif, termasuk meningkatkan kompetensi tenaga medis guna memastikan solusi terapi inovatif yang dapat menyelamatkan lebih banyak nyawa di Indonesia saat ini.
Baca Juga: Siloam Hospitals TB Simatupang Catat Kinerja Klinis Positif Layanan Jantung & Stroke
Selanjutnya: Gemantara Indonesia Konsolidasikan Model Bisnis Digital dan Komunitas Memasuki 2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News