MOMSMONEY.ID - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu (6/10) pukul 11.13 WIB menyentuh Rp 17.910. Angka ini menguat 0,07% dari penutupan kemarin di posisi Rp 17.917 per dolar AS.
Ekonom dan Peneliti Strategic Research Manager CORE Yusuf Rendy Manilet menyatakan, di sisa tahun ini, rupiah berpotensi diuji di area Rp 18.300-Rp 18.500 dalam skenario tekanan yang semakin memburuk.
“Ekspektasi The Fed, harga minyak yang mahal, dan arus modal keluar yang berlangsung bersamaan, serta kepercayaan terhadap fiskal yang melemah dapat meningkatkan risiko rupiah semakin melemah,” ujar Yusuf, Selasa (29/9) pekan lalu.
Yusuf menambahkan, angka Rp 18.500 bukanlah batas maksimum yang dapat dijamin.
Untuk sisa tahun 2026, rupiah cenderung volatile pada kisaran yang lebih lemah. Pelemahan ini disebabkan oleh kebutuhan valas domestik yang tinggi, harga minyak yang belum juga turun, dan imbal hasil AS yang didukung ekspektasi The Fed masih bertahan pada nilai yang stabil.
Baca Juga: Kurs Rupiah terhadap Dolar AS Masih Fluktuatif, Ini Proyeksi Hingga Akhir Tahun
“Rupiah dapat bergerak menuju Rp1 8.200 hingga Rp 18.400 per dolar AS, terutama jika terjadi eskalasi geopolitik, perubahan sikap The Fed yang lebih ketat, atau penurunan cadangan devisa yang lebih cepat,” kata M. Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan Indef.
Meski begitu, ruang untuk rupiah menguat pada sisa 2026 masih dapat diharapkan.
Rizal menyebutkan, rupiah berpeluang menguat ke kisaran Rp 17.700 hingga Rp 17.850 per dolar AS.
Namun, untuk menyentuh Rp 17.500 membutuhkan perubahan global yang lebih besar, terutama penurunan imbal hasil AS, meredanya risiko geopolitik, dan masuknya arus modal dalam jumlah kuat serta berkelanjutan.
“Penguatan berkelanjutan membutuhkan pasokan devisa yang konsisten dan penurunan premi risiko Indonesia. Intervensi dapat membeli waktu untuk penyesuaian, sementara disiplin fiskal, kepastian kebijakan, dan penguatan sektor penghasil devisa menentukan ketahanan rupiah,” ungkap Yusuf.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News