MOMSMONEY.ID - Memiliki rumah yang layak dan nyaman tentu menjadi impian banyak keluarga. Namun, di tengah tingginya kebutuhan hidup dan biaya perumahan, mendapatkan hunian yang aman dan terjangkau bukan perkara mudah.
Bagi sebagian keluarga, pengeluaran untuk rumah bahkan harus bersaing dengan kebutuhan penting lainnya, mulai dari makanan, pendidikan anak, kesehatan, hingga kebutuhan sehari-hari.
Kondisi ini membuat persoalan hunian tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan rumah, tetapi juga kemampuan masyarakat untuk mempertahankannya.
Gambaran tersebut terlihat dalam riset global Habitat for Humanity International bertajuk Home at What Cost? yang melibatkan 30.758 responden di 22 negara.
Di Indonesia, sebanyak 73% responden mengaku harus mengurangi pengeluaran setidaknya pada satu aspek kehidupan selama setahun terakhir demi memenuhi biaya perumahan.
Selain tekanan finansial, persoalan keamanan hunian juga menjadi perhatian. Sebanyak 49% responden mengaku khawatir situasi tak terduga dapat mengancam keberlangsungan mereka dalam memiliki atau menempati rumah.
Sementara itu, 41% merasa cuaca ekstrem menyulitkan mereka untuk merasa aman di tempat tinggalnya.
Baca Juga: Hijau Mint Diprediksi Jadi Tren Warna Interior 2027, Ini Cara Menerapkannya
Tantangan ini semakin besar jika melihat kondisi perumahan nasional. Indonesia diperkirakan masih membutuhkan sekitar 9,9 juta unit rumah untuk mengatasi backlog perumahan.
Sebanyak 17,8% rumah tangga juga menghadapi beban biaya perumahan yang tinggi, sedangkan 19,4% penduduk perkotaan tinggal di kawasan kumuh atau permukiman informal.
Data tersebut memperlihatkan, persoalan rumah layak masih menjadi pekerjaan besar. Sebab, rumah idealnya bukan hanya menjadi tempat berteduh, tetapi juga memberikan perlindungan dan mendukung kualitas hidup penghuninya.
Ketika membicarakan rumah layak, perhatian sering kali tertuju pada kondisi fisik bangunan. Padahal, ada aspek lain yang tidak kalah penting, seperti keterjangkauan biaya, keamanan lingkungan, serta kemampuan hunian menghadapi perubahan kondisi alam.
Cuaca ekstrem, misalnya, dapat menjadi tantangan tersendiri bagi keluarga yang tinggal di kawasan dengan kondisi bangunan maupun lingkungan yang rentan. Karena itu, konsep housing resilience atau ketangguhan hunian semakin relevan untuk diperhatikan.
Hunian yang tangguh diharapkan mampu memberikan perlindungan bagi penghuninya sekaligus mendukung keberlangsungan kehidupan keluarga ketika menghadapi berbagai risiko lingkungan.
Melihat tantangan tersebut, Habijutat for Humanity Indonesia mengangkat isu hunian layak melalui kampanye Let's Open the Door: Youth in Action for Decent Housing. Kampanye ini mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk memahami persoalan perumahan dan turut mendorong perubahan.
Baca Juga: 4 Warna Cat Kamar Mandi Kecil yang Bikin Ruangan Terasa Lebih Luas dan Nyaman
Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui kegiatan 28UILD 2026 yang melibatkan lebih dari 250 relawan. Berbagai aktivitas dilakukan, mulai dari pengecatan, penanaman pohon, hingga pembuatan lubang biopori untuk membantu penyerapan air dan menjaga keseimbangan lingkungan.
Direktur Nasional Habitat for Humanity Indonesia, Handoko Ngadiman, mengatakan bahwa keterlibatan masyarakat, termasuk generasi muda, menjadi bagian penting dalam mendorong terwujudnya hunian layak.
“Melalui 28UILD, kami ingin mengajak generasi muda menyadari bahwa setiap orang dapat berperan dalam mewujudkan hunian layak," sebut Handoko dalam keterangan resminya, Rabu (4/11).
Menurutnya, kepedulian dan kolaborasi dapat dimulai dari langkah sederhana yang kemudian berkembang menjadi perubahan lebih besar.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, generasi muda juga dilibatkan untuk menyampaikan gagasan mengenai hunian layak melalui kompetisi desain kaus dan ilustrasi seni pintu.
Selain itu, lima kelompok relawan terpilih akan menjalankan kampanye mengenai ketangguhan hunian melalui program Youth in Action: Let's Open the Door Mini Grant.
Sejak pertama kali diselenggarakan pada 2012, 28UILD hingga 2026 telah membantu lebih dari 500 keluarga di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Tangerang, Bogor, Gresik, Yogyakarta, dan Batam.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News