MOMSMONEY.ID - Harga emas hari ini di pasar global lanjut tumbang, setelah Jumat lalu ambles paling dalam lebih dari satu dekade.
Mengutip Bloomberg, Senin (2/2), harga emas spot turun 4,2% menjadi US$ 4.688,79 per troi ons pada pukul 16.30 WIB.
Pelemahan harga emas hari ini memperpanjang penurunan tajam hingga 12% yang terjadi pada perdagangan intraday Jumat pekan lalu. Itu penurunan harian paling tajam sejak awal 1980-an. Harga ambles pasca-mencetak rekor all time high di atas US$ 5.500 per troi ons pada Kamis.
Awal tahun ini harga emas telah melonjak ke level tertinggi, yang mengejutkan para pedagang senior dan mendorong volatilitas harga yang luar biasa. Reli emas semakin meningkat pada Januari, ketika investor berbondong-bondong masuk ke aset aman di tengah kekhawatiran tentang geopolitik, penurunan nilai mata uang dan independensi Federal Reserves.
Gelombang pembelian dari spekulan China menambah gelembung pada reli harga emas.
Baca Juga: Harga Emas Pekan Ini Ditutup Ambles di bawah US$ 5.000, Ini Penyebabnya!
Jia Zheng, Kepala Perdagangan di Shanghai Soochow Jiuying Investment Management Co., mengatakan, sebagian besar pembeli yang sudah meraup untung sudah siap untuk keluar kapan saja. "Aksi jual tersebut sebagian besar didorong oleh dana yang diperdagangan di bursa berbasis emas (ETF) serta derivatif yang menggunakan leverage," katanya mengutip Bloomberg, Senin.
Sejauh mana investor China membeli saat harga turun, akan memainkan peran kunci dalam menentukan arah pasar selanjutnya. Meskipun harga acuan Shanghai memperpanjang penurunan setelah pasar dibuka, harganya masih diperdagangkan lebih tinggi daripada harga internasional.
Sepanjang akhir pekan, para pembeli berbondong-bondong masuk ke pasar emas batangan terbesar di negara itu di Shenzen untuk membeli perhiasan dan emas batangan jelang Tahun Baru Imlek.
Kata Zijie Wu, Analis di jinrui Futures Co., kombinasi antara volatilitas yang tinggi dan mendekatnya Tahun Baru Imlek akan mendorong para trader mengurangi posisi dan meminimalkan risiko. Pada saat yang sama, khususnya di musim pembelian puncak, penurunan harga kemungkinan akan mendukung permintaan ritel di China.
Baca Juga: Emas Antam Hari Ini Senin 2 Februari: Harga Terbang Tinggi, Buyback Jatuh
Adapun, pemicu aksi jual dramatis pada Jumat adalah kabar bahwa Presiden AS Donald Trump akan menominasikan Kevin Warsh untuk memimpin The Fed. Hal itu mendorong dollar AS menguat dan melemahkan sentimen di kalangan investor, yang bertaruh pada kesediaan Trump untuk membiarkan mata uang melemah.
Para pedagang menganggap Warsh sebagai pejuang inflasi terkuat di antara kandidat lainnya, sehingga meningkatkan ekspektasi kebijakan moneter lebih ketat, yang akan mendukung USD dan melemahkan harga emas yang diperdagangan dalam dollar AS.
Namun, logam mulai sebenarnya sudah siap menghadapi pergerakan ekstrem, karena harga yang melonjak dan volatilitas telah membebani model risiko dan neraca keuangan pada perdagangan. Goldman Sachs Gorup Inc. mengungkapkan bahwa para penjual opsi terpaksa menyesuaikan diri dengan kenaikan harga, dengan cara membeli lebih banyak.
Meski begitu, melansir Bloomberg, Micahel Hsueh, Analis di Deutsche Bank AG, mengatakan bahwa dukungan fundamental tidak berubah dalam beberapa hari terakhir dan faktor pendorong tematik emas tetap positif. "Pasar tampaknya tidak siap untuk pembalikan harga emas yang berkelanjutan," ujar Hsueh, yang meyakini target harga emas tahun ini tetap US$ 6.000.
Selanjutnya: NIK JKN Tak Sesuai Dukcapil? Ini Solusi Cepatnya!
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News