MOMSMONEY.ID - Pasar saham pada pekan ini, 28 September-2 Oktober 2026 diprediksi masih dibayangi sentimen suku bunga global, pergerakan harga minyak dan tekanan terhadap rupiah.
Pekan lalu, IHSG anjlok 3,09% dengan outflow asing mencapai Rp 3.5 Triliun di pasar reguler. Sementara, pada perdagangan Senin (28/9), IHSG ditutup ambles 94,03 poin atau 1,51% ke level 6.147.
Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan, melihat tema higher-for-longer kembali menguat setelah sejumlah bank sentral utama mempertahankan arah kebijakan moneter ketat.
The Fed menaikkan suku bunga 25 basis poin (bps) menjadi 3,75%-4,00% pada 16 September 2026. Langkah serupa juga dilakukan European Central Bank (ECB) yang menaikkan suku bunga 25 bps pada 10 September serta Bank of Japan (BOJ) yang menaikkan suku bunga ke level 1,25%.
Ekspektasi pengetatan moneter juga diperkuat data ekonomi Amerika Serikat yang masih solid. Klaim pengangguran turun ke level terendah dalam hampir 60 tahun sehingga mendorong dolar AS ke level tertinggi dalam dua bulan.
David menilai kenaikan yield US Treasury, terutama pada tenor panjang, turut meningkatkan required risk premium di pasar negara berkembang. "Kondisi ini berpotensi mendorong realokasi portofolio dari aset emerging market menuju aset AS," katanya dalam siaran pers, Senin (28/9).
Baca Juga: Harga Emas Dunia Ambles 3%, Imbal Hasil Tinggi Mengikis Daya Tarik Emas
Di pasar komoditas, risiko geopolitik masih menjadi faktor penting bagi harga minyak. Eskalasi tensi AS-Iran dan serangan Houthi terhadap East-West Pipeline milik Saudi Aramco yang menjadi jalur alternatif untuk menghindari Selat Hormuz, mendorong harga Brent kembali menembus US$ 100 per barel.
Harga minyak WTI juga naik 12,38% secara bulanan (month-on-month/MoM) menjadi US$ 92,41 per barel.
"Harga minyak memang mulai termoderasi di pekan terakhir September seiring berlangsungnya pembicaraan AS Iran terkait kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz secara bertahap. Namun, hasil perundingan tersebut akan menjadi penentu utama arah harga energi di bulan Oktober, sekaligus ekspektasi inflasi global," jelas David.
Dari dalam negeri, kebijakan Bank Indonesia juga menjadi perhatian pasar. BI mempertahankan BI-Rate di level 5,75% dalam RDG 22-23 September 2026, dengan stabilitas rupiah dan inflasi tetap menjadi fokus.
Kata David, tekanan terhadap rupiah masih berlanjut. Per 25 September Rupiah berada di kisaran Rp17.903/USD dan JISDOR (Jakarta Interbank Spot Dollar Rate) di Rp 17.917/USD. Meski begitu, cadangan devisa yang solid di sekitar US$ 146,5 miliar memberikan bantalan bagi stabilisasi nilai tukar.
Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Senin (28/9) Naik Rp 7.000, Jadi Rp 2.597.000 per Gram
Inflasi Agustus juga naik menjadi 3,19% secara tahunan (year-on-year/YoY) dari 2,88% pada Juli. Kenaikan tersebut didorong oleh volatile food dan core inflation.
Menurut David, risiko tambahan dari kenaikan harga energi serta potensi El Nino terhadap pangan membuat ruang pelonggaran moneter dalam waktu dekat semakin terbatas.
Rekomendasi saham
Di tengah kondisi tersebut, Indo Premier Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham untuk strategi trading pada pekan ini.
Tiga saham yang menjadi pilihan adalah MDKA, AUTO dan KETR.
- Saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA).
Rekomendasi buy pada harga Rp 3.070 dengan target harga Rp 3.300. Stop loss di Rp 2.980, dengan risk to reward 1:2,6. Secara teknikal, harga MDKA konsisten bergerak di atas MA5 dan smart money masih cenderung melakukan akumulasi dalam lima hari terakhir.
- Saham PT Astra Otoparts Tbk (AUTO).
Rekomendasi buy pada Rp 3.380 dengan target harga Rp 3.610. Stop loss berada di Rp 3.290, dengan risk to reward 1:2,6. Secara teknikal, AUTO mengalami healthy retracement dalam fase uptrend dan price action mengindikasikan potensi breakout.
- Saham PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR).
Rekomendasi buy pada Rp 975 dengan target harga Rp 1.080. Stop loss berada di Rp 925, dengan risk to reward 1:2,1. Secara teknikal, harga KETR konsisten bergerak di atas MA20 dan mencatat high volume breakout pada Jumat pekan lalu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News