MOMSMONEY.ID - Di tengah penguatan bursa global, pasar saham Indonesia justru tertekan. Begini saran langkah investasi dari Mirae Asset Sekuritas.
PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia memperingatkan, pasar saham domestik mulai memasuki fase distribusi di tengah meningkatnya risiko stagflasi, meskipun bursa global menunjukkan rebound yang kuat.
Pelemahan IHSG yang disertai arus keluar dana asing dinilai mencerminkan tekanan domestik yang semakin dominan di tengah ketidakpastian global.
IHSG pada Selasa (31/3) tercatat melemah 0,6% ke level 7.048 dengan foreign net sell sekitar Rp 1,2 triliun, terutama pada saham perbankan besar seperti BBRI dan BBNI serta saham komoditas seperti BRMS dan BUMI.
Kondisi ini berlawanan dengan penguatan indeks global seperti Dow Jones dan S&P 500, menunjukkan divergensi yang semakin lebar.
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto menjelaskan, kenaikan harga minyak mentah Brent ke kisaran US$ 118 per barel menjadi salah satu faktor utama tekanan pasar.
Di sisi lain, keputusan pemerintah mempertahankan harga BBM subsidi dinilai penting untuk menjaga inflasi dan daya beli, namun berpotensi menekan ruang fiskal.
Baca Juga: IHSG Ada Potensi Menguat, Simak Rekomendasi Saham BNI Sekuritas Rabu (1/4)
“Bias sell-on-strength masih relevan pada saham perbankan besar dan sektor siklikal, sementara peluang relatif lebih menarik pada saham defensif dengan fundamental kuat dan eksposur domestik,” ujar Rully dalam keterangan tertulis, Rabu (1/4).
Ia menambahkan, pergerakan IHSG dalam jangka pendek masih akan dipengaruhi dinamika arus dana asing dan sentimen global.
“Fase distribusi saat ini mengindikasikan IHSG masih berpotensi mengalami pelemahan lanjutan hingga ke kisaran 7.005, dengan level support kritikal yang perlu dicermati berada di area 6.892,” katanya.
Sementara Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Jessica Tasijawa menyebutkan, pemerintah tengah menyiapkan paket kebijakan untuk meredam volatilitas global, termasuk efisiensi fiskal, pengaturan WFH, dan penyesuaian kebijakan energi.
Kebijakan ini diperkirakan tetap menjaga keseimbangan antara stabilitas fiskal dan daya beli masyarakat.
“Kombinasi penghematan anggaran, optimalisasi belanja, dan perbaikan administrasi pajak berpotensi menjaga defisit tetap terkendali bahkan dalam skenario harga minyak tinggi,” sebutnya.
Mirae Asset memproyeksikan, inflasi Maret 2026 sebesar 3,8% YoY, menurun dari bulan sebelumnya, meski risiko kenaikan tetap ada akibat faktor musiman dan tekanan energi.
Kebijakan pemerintah yang memutuskan untuk tidak menaikkan harga BBM subsidi dinilai turut membantu menjaga inflasi dan daya beli masyarakat dalam jangka pendek.
Baca Juga: IHSG Melemah, Cek Proyeksi dan Rekomendasi Saham BRI Danareksa Sekuritas Rabu (1/4)
“Probabilitas Indonesia memasuki fase stagflasi saat ini berada di kisaran 5%–10% dan masih relatif rendah, didorong tekanan inflasi yang bersifat musiman serta dukungan kebijakan fiskal, termasuk kebijakan penahanan harga BBM,” ungkap Jessica.
“Namun, risiko dapat meningkat jika tensi geopolitik berlanjut dan mendorong harga energi lebih tinggi,” imbuhnya.
Di pasar keuangan, yield SBN 10 tahun relatif stabil di kisaran 6,86% dan nilai tukar rupiah di sekitar Rp 16.995 per dolar AS, meskipun tekanan eksternal masih tinggi. Kondisi ini memperkuat indikasi bahwa ruang penurunan suku bunga domestik semakin terbatas.
Eskalasi konflik global yang mengganggu pasokan energi, termasuk di Selat Hormuz, dinilai berpotensi menjadi guncangan besar bagi ekonomi global dan meningkatkan volatilitas pasar. Indonesia pun dinilai rentan mengingat ketergantungan pada mitra dagang utama yang juga terdampak.
Sejalan dengan itu, Mirae Asset merevisi proyeksi makro ke arah lebih defensif, dengan pertumbuhan ekonomi diperkirakan di kisaran 5% dalam dua tahun ke depan, disertai nilai tukar yang masih relatif lemah dan suku bunga yang cenderung bertahan tinggi.
Rully menambahkan, koordinasi kebijakan yang belum sepenuhnya sinkron turut meningkatkan sensitivitas pasar.
“Dalam kondisi saat ini, persepsi pasar terhadap konsistensi kebijakan menjadi sangat krusial karena dapat mempengaruhi volatilitas dalam jangka pendek,” tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News