MOMSMONEY.ID - Mengenakan kain batik tak harus menunggu acara formal atau perayaan hari besar. Dengan padu padan yang tepat, kain Nusantara bisa menjadi pilihan busana sehari-hari sekaligus cara untuk melestarikan budaya.
Semangat inilah yang dibawa Peni Cahyaningtyas melalui Komunitas Bekasi Berkain. Berdiri sejak 2023, komunitas ini mengajak anak muda untuk membiasakan diri mengenakan kain dalam berbagai aktivitas, sekaligus mengenal nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
“Berkain juga mengingatkan kita kepada leluhur kita yang dulu menggunakan kain di segala aktivitas, sebelum mengenal pakaian barat seperti rok atau celana jeans,” kata Peni belum lama ini.
Sejak berdiri, Komunitas Bekasi Berkain telah menghimpun sekitar 80 anggota dari wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek). Meski awalnya ditujukan bagi warga Bekasi, komunitas ini justru menarik minat masyarakat dari luar daerah tersebut.
Namun, seiring kesibukan masing-masing anggota, perpindahan domisili karena pekerjaan dan kuliah, serta terbentuknya komunitas baru di daerah lain, jumlah anggota yang masih aktif berkegiatan bersama kini sekitar 30 orang.
Baca Juga: Komunitas Bisa Menjadi Ajang Perkuat Ekonomi Kreatif
Peni mengatakan, ketertarikan anggota terhadap kain tidak hanya muncul karena corak, motif, dan warnanya. Sejumlah motif klasik pada batik, tenun, hingga songket juga memiliki makna dan filosofi yang positif.
Untuk memperkenalkan budaya berkain kepada masyarakat, khususnya anak muda, Komunitas Bekasi Berkain rutin mengadakan kegiatan setiap bulan. Salah satunya Kopdar Berkain, yakni kegiatan berkumpul dan menikmati kopi bersama sambil mengenakan kain.
Komunitas ini juga mengadakan workshop membatik dan berkain. Ada pula Bekasi Berkain Trip, yaitu kegiatan berkunjung ke daerah penghasil batik untuk melihat langsung proses pembuatannya sekaligus mempelajari sejarah dan filosofi kain dari para pembatik.
“Tahun lalu, Bekasi Berkain Trip telah mengunjungi daerah Cirebon, Garut, dan Pekalongan,” kata Peni.
Peni menyambut positif semakin banyaknya anak muda yang mulai tertarik mengenakan kain dan mengenal budaya berkain. Meski demikian, ia menilai masih ada tantangan untuk menjadikan kain sebagai bagian dari gaya berpakaian sehari-hari.
Baca Juga: Kaos Metal Ikonik Bikin Tampilan Makin Sangar: Ini Alasan Harganya Makin Mahal
Salah satunya adalah anggapan bahwa berkain hanya cocok untuk acara tertentu. Selain itu, belum semua anak muda merasa percaya diri mengenakan kain di lingkungan kerja maupun kampus, terutama ketika orang-orang di sekitarnya belum terbiasa melakukan hal serupa.
Menurut Peni, salah satu cara agar kain tetap relevan dengan tren fashion adalah dengan berlatih memadupadankan atau mix and match kain dengan pakaian yang sudah dimiliki. Dengan begitu, kain bisa tampil lebih modern tanpa kehilangan nilai budayanya.
Bertepatan dengan Hari Batik Nasional pada 2 Oktober lalu, Komunitas Bekasi Berkain juga mengadakan kegiatan membatik di basecamp mereka di Griya Peni. Dalam kegiatan tersebut, anggota membuat karya batik berukuran 35 x 35 sentimeter dengan desain masing-masing.
Bagi Peni dan anggota komunitas, batik memiliki hubungan erat dengan perjalanan hidup masyarakat, khususnya dalam tradisi Jawa. Kain batik digunakan dalam berbagai fase kehidupan, mulai dari bayi yang digendong dengan kain hingga prosesi pernikahan dan kematian.
Baca Juga: Lebih dari Sekadar Wangi, Parfum juga Jadi Bagian dari Gaya Hidup Premium
Meski Hari Batik Nasional menjadi salah satu momentum untuk mengenalkan batik kepada masyarakat, Peni menilai pelestarian budaya ini membutuhkan upaya yang berkelanjutan. Kegiatan yang berkaitan dengan kain Nusantara, seperti batik, tenun, dan ulos, perlu diperbanyak agar generasi muda memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengenal dan menggunakannya.
Ia berharap, kain Nusantara, terutama batik, dapat semakin diterima sebagai pakaian sehari-hari. Menurutnya, pelestarian batik tidak cukup hanya dengan memajangnya dalam pameran atau museum, tetapi juga harus dilakukan dengan mengenakannya.
Peni mengingatkan, kebiasaan menggunakan batik turut berpengaruh terhadap keberlangsungan usaha para pengrajin. Jika generasi muda tidak lagi tertarik memakai kain batik, permintaan terhadap produk tersebut bisa menurun dan berdampak pada produksi serta mata pencaharian para pengrajin.
Karena itu, ia berharap, semakin banyak anak muda yang bangga mengenakan kain Nusantara dalam aktivitas sehari-hari, bukan hanya ketika menghadiri acara atau merayakan hari besar tertentu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News