M O M S M O N E Y I D
InvesYuk

Ini Dia Saham Top Leaders, Pendorong Terbesar Bagi IHSG Selama Ini

Reporter: Sanny Cicilia  |  Editor: Sanny Cicilia


MOMSMONEY.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup dengan penurunan 0,15% pada perdagangan Rabu, 7 Agustus 2025. Selama tahun berjalan ini, IHSG tercatat naik 5,99% year to date. Saham mana yang paling mengerek kenaikan bursa?

Mengutip data statistik Bursa Efek Indonesia (BEI), saham top leaders atau memiliki bobot terbesar mengerek IHSG kemarin (7/8) antara lain, BREN, BRMS, CUAN, FILM, dan ANTM. 

Kenaikan saham-saham ini turut menjaga IHSG tidak jatuh lebih dalam. BREN yang naik 2,12% ke Rp 7.225, menyumbang bobot 5,69 poin terhadap IHSG. Sedangkan BRMS yang melesat 11,43% menyumbang 5,38 poin. 

Top Leaders (6/8)
Saham Harga Bobot poin
BREN  2,12% 5,69
BRMS  11,43% 5,38
CUAN  5,52% 3,29
FILM  19,73% 3,18
ANTM  4,76% 2,86
MDKA  3,00% 1,94
DSSA  0,76% 1,92
BRPT  1,22% 1,86
PGAS  4,00% 1,65
COIN  24,79% 1,61

Meski jadi jawara kemarin, saham BREN maupun BRMS bukan penyumbang kenaikan terbesar IHSG sepanjang tahun ini. Sejak Januari hingga kemarin, pendorong terbesar kenaikan IHSG sepanjang tahun ini yaitu DCII. Sahamnya yang naik 724,23% menjadi Rp 347.000, mendorong IHSG dengan bobot 355,31 poin. 

Baca Juga: Ini Deretan Saham Indeks LQ45 Terbaru Berlaku 1 Agustus 2025, Apa Dampaknya?

Di posisi berikutnya, ada saham DSSA dengan kenaikan 79,46% year to date, menyumbang kenaikan 113,11 poin bagi IHSG. 

Berikut daftar 10 saham terbesar yang menyumbang kenaikan IHSG sepanjang tahun ini:

Tol Leaders (YTD)
Saham Kenaikan Bobot poin
DCII  724,23% 355,31
DSSA  79,46% 113,11
BRPT  170,65% 97,4
CDIA  794,74% 45,9
TPIA  20,00% 33,7
ANTM  101,97% 31,82
TLKM  10,33% 31,38
MDKA  48,61% 21,92
CASA  87,61% 21,11
BNLI  236,51% 19,68

Nah, ini dia saham-saham yang selama ini kenaikannya menyumbang penguatan bagi IHSG. Namun, jika ingin membeli saham-saham ini, perlu pertimbangan secara cermat. Pasalnya, setiap risiko dari keputusan investasi ada di tangan masing-masing, jadi sesuaikan dengan tujuan keuangan dan profil risiko Anda. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TERBARU

Kris+ Rayakan Ulang Tahun, Tebar Promo dan Reward

Pengguna Kris+ berkesempatan mendapatkan hingga delapan miles per dolar Singapura, voucher diskon 50%, serta hadiah  selama Oktober 2026.

Rupiah Bertahan di Rp 18.000 atau Tembus Rp 18.200, Ini 5 Indikator Penentu

Analis EBC Financial Group mencermati lima indikator penentu arah rupiah, mulai dari harga minyak, arus modal asing hingga intervensi BI.  

Ini Tip Pengobatan dan Pencegahan Agar Suara Yang Hilang Kembali Bergema

Suara hilang bagi pekerja yang mengandalkan pita suara tentu menjadi persoalan, berikut ini langkah pengobatan dan pencegahannya.

5 Cara Mengatasi Badan Lemas saat Diet agar Tetap Bertenaga Sepanjang Hari

Ingin diet berhasil tanpa tersiksa rasa lemas? Terapkan cara mengatasi badan lemas berikut ini agar tubuh tetap bugar dan berenergi.

Kenali Amylophagia: Ini 5 Dampak Buruk Makan Tepung Terigu Mentah untuk Kesehatan

Ketahui alasan medis mengapa makan tepung terigu dalam kondisi mentah sangat berbahaya bagi saluran pencernaan dan kesehatan secara keseluruhan.

Ada 6 Tokenized Stocks Baru dari Tokocrypto, Cek yuk

Tokenized stocks memberikan eksposur terhadap underlying asset dan bukan merupakan kepemilikan langsung atas saham atau ETF yang mendasarinya.

Rekomendasi Pilihan Obat Influenza Tipe A yang Efektif Percepat Proses Penyembuhan

Kenali berbagai rekomendasi obat influenza tipe A mulai dari antivirus hingga pereda gejala untuk bantu tubuh pulih lebih cepat.

IHSG Berbalik Naik ke 6.036 pada Jumat (2/10), Cek Saham Top Gainers

IHSG pada Jumat ditutup menguat meskipun asing mencatat jual bersih alias net sell Rp 1,17 triliun. 

Update Harga Buyback Emas Hari Ini: UBS Naik, Antam Masih Tertinggi Rp 2.38 Juta

Emas UBS mencatat kenaikan harga buyback paling besar hari ini, sementara Antam turun, tetapi masih yang tertinggi.

Bank Indonesia Kurangi Intervensi Spot, Efektif Menjaga Rupiah?

Bank Indonesia menggeser strategi intervensi di pasar untuk menjaga nilai tukar rupiah terhadap dollar, sekaligus menghemat cadangan devisa.