MOMSMONEY.ID - Penurunan IHSG akibat ancaman reklasifikasi oleh MSCI berdampak pada valuasi beberapa saham menjadi lebih murah. Momen ini menjadi kesempatan bagi yang memiliki dana riil untuk memborong saham-saham yang konsisten membagikan dividen tinggi sebagai passive income.
Meski begitu, ada faktor yang perlu diperhatikan sebelum mulai memburu saham pembagi dividen tinggi. Salah satunya adalah menyeleksi saham-saham tersebut sebagai langkah meminimalisir risiko.
Alrich Paskalis Tambolang, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, menyebutkan, beberapa faktor utama yang perlu dicermati oleh investor yaitu konsistensi arus kas dan laba, rekam jejak pembagian dividen, dividend payout ratio, prospek industri, valuasi, likuiditas saham, serta struktur kepemilikan.
Jadi, apakah memburu saham di tengah ketidakpastian pasar saham Indonesia adalah keputusan yang tepat?
Alrich mengatakan, memburu dividen saham masih relevan untuk strategi investasi jangka menengah-panjang, dengan catatan harus selektif dalam memilih saham.
“Di tengah ketidakpastian MSCI dan isu transparansi pasar, dividend yield yang tinggi tidak dapat menjadi satu-satunya dasar keputusan investasi. Potensi pendapatan dividen perlu dibandingkan dengan risiko penurunan harga saham, likuiditas, serta keberlanjutan kinerja emiten,” katanya kepada KONTAN, Selasa (27/10).
Baca Juga: Empat Langkah yang Perlu Diperhatikan Menyikapi Kondisi Pasar Saham Saat ini
Sementara Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas bilang, strategi yang lebih tepat adalah mengutamakan emiten dengan fundamental solid, arus kas operasional yang sehat, kebijakan dividen konsisten, dan likuiditas perdagangan memadai, bukan semata-mata memilih saham dengan yield tertinggi.
“Dengan demikian, dividen dapat menjadi salah satu penopang imbal hasil portofolio, tetapi tidak menghilangkan risiko penurunan harga saham,” ujarnya kepada KONTAN, Selasa (27/10).
Pemilihan saham dengan fundamental yang kuat perlu dicermati. Pasalnya, beberapa saham bervaluasi murah dan rutin membagikan dividen memiliki porsi free float menyentuh atau bahkan kurang dari 15%. Saham tersebut berisiko masuk ke dalam kategori HSC atau High Shareholding Concentration.
Kata Alrich, free float rendah tidak otomatis menjadikan suatu saham masuk dalam kategori HSC.
“Investor perlu memeriksa pengumuman resmi BEI, konsentrasi kepemilikan, dan perkembangan kebijakan yang berlaku,” imbuhnya.
Senada, Nafan menegaskan, investor perlu memantau keterbukaan informasi kepemilikan saham dan evaluasi HSC oleh BEI, sembari memberikan margin of safety dalam menentukan valuasi pembelian.
“Risiko yang perlu diantisipasi adalah penyesuaian terhadap ketentuan bursa, likuiditas perdagangan terbatas, volatilitas harga, serta kemungkinan perubahan minat investor institusi,” jelasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News