MOMSMONEY.ID - Pada Senin (15/6), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 4,12% ke 6.254.
Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai IHSG mulai menunjukkan pemulihan setelah mengalami koreksi tajam dalam beberapa Waktu terakhir.
Penguatan tersebut memunculkan pertanyaan di kalangan pelaku pasar mengenai apakah rebound yang terjadi saat ini merupakan awal dari perbaikan sentimen atau sekadar technical rebound setelah penurunan yang cukup dalam.
Head of Research and Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menilai penguatan yang terjadi saat ini masih didominasi oleh factor technical rebound. Namun, pergerakan tersebut bukan tanpa dukungan perkembangan fundamental yang lebih baik dibandingkan beberapa hari sebelumnya.
Salah satu fundamental yang membawa katalis positif, menurut Rully, mulai ada tanda-tanda bahwa kebijakan moneter Bank Indonesia legih tegas serta terjadinya de-eskalasi ketegangan geopolitik turut membantu menstabilkan nilai tukar rupiah dan yield obligasi.
"Meski demikian arus modal asing masih cenderung selektif," kata Rully dalam keterangan tertulis, Senin (15/6).
Baca Juga: IHSG Naik 2,83%, Saham Keluarga Kalla Masuk Top Gainer Pagi Ini (15/6)
Sebelumnya, pasar keuangan domestik menghadapi tekanan akibat pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), serta meningkatnya ketidakpastian global. Kondisi tersebut mendorong kenaikan risk premium Indonesia yang pada akhirnya membebani valuasi pasar saham.
Menurut Rully, keberlanjutan penguatan IHSG akan sangat bergantung pada perkembangan sejumlah indikator makro yang menjadi perhatian investor, terutama pergerakan nilai tukar rupiah dan yield obligasi pemerintah.
Sebab, jika rupiah mampu menguat dan yield SBN tenor 10 tahun turun secara bertahap dari level puncaknya di atas 7,3% menuju kisaran yang lebih rendah, maka premi risiko Indonesia juga akan menurun. Dengan begitu, terbuka ruang masuknya Kembali aliran dana asing ke pasar obligasi maupun saham.
Ke depan, pasar masih akan mencermati perkembangan sentiment global, arah kebijakan moneter, serta stabilitas pasar keuangan domestik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News