MOMSMONEY.ID - Pemerintah mempersiapkan guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) untuk menghadapi penerapan bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib bagi siswa kelas III SD sederajat pada 2027.
Salah satu upayanya dilakukan melalui kerja sama Kementerian Agama (Kemenag) dan British Council untuk meningkatkan kompetensi 6.000 guru madrasah.
Program bertajuk Strengthening the Teaching of English in Primary Schools through Communities of Practice (STEPS-CoP) tersebut dijalankan bersama Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Kemenag. Program ini menyasar peningkatan kemampuan bahasa Inggris dan kompetensi pedagogi guru untuk mendukung kualitas pembelajaran di kelas.
Menteri Agama, Nasaruddin Umar, mengatakan, penerapan bahasa Inggris di madrasah merupakan bagian dari upaya mempersiapkan generasi muda agar mampu mengakses ilmu pengetahuan dan berinteraksi di tingkat global tanpa kehilangan nilai serta karakter mereka.
“Penerapan Bahasa Inggris di Madrasah Ibtidaiyah bukan semata-mata penambahan mata pelajaran, tetapi bagian dari ikhtiar mempersiapkan generasi madrasah agar memiliki kemampuan untuk mengakses ilmu pengetahuan dan berinteraksi dengan dunia yang semakin terbuka, tanpa kehilangan akar nilai dan karakter mereka,” ujar Nasaruddin di kantor Kemenag, Jakarta Pusat, Selasa (13/10/2026).
Baca Juga: Cari Aktivitas Bersama Anak? Ada Mothercare Museum of Moments di Jakarta
Country Director Indonesia sekaligus Director of Southeast Asia British Council, Summer Xia, mengatakan kolaborasi dengan Direktorat GTK Madrasah menjadi langkah untuk mendukung penguatan pendidikan bahasa Inggris sejak jenjang dasar.
Menurut Summer, persiapan penerapan kebijakan pada 2027 tidak cukup hanya dengan menyesuaikan kurikulum. Guru juga perlu mendapatkan dukungan untuk meningkatkan kemampuan mengajar agar siswa memperoleh pengalaman belajar bahasa Inggris yang berkualitas.
Melalui STEPS-CoP, British Council memadukan keahlian global dengan pengetahuan dan pengalaman para pendidik Indonesia untuk membangun model pengembangan profesional yang dapat diperluas dan berkelanjutan.
“Dengan mendorong guru untuk saling belajar dan memimpin perubahan di komunitas masing-masing, kami ingin memastikan bahwa semakin banyak anak mendapatkan pendidikan Bahasa Inggris berkualitas, di mana pun mereka tinggal dan apa pun latar belakang mereka,” ujar Summer.
Baca Juga: Perkembangan Dunia Profesi Menuntut Mahasiswa Terus Beradaptasi dengan Cara Ini
Salah satu pendekatan utama STEPS-CoP adalah pengembangan komunitas belajar atau Communities of Practice (CoP). Melalui pendekatan ini, guru didorong untuk terus belajar bersama, mendiskusikan kendala yang dihadapi di kelas, bertukar pengalaman, serta mengembangkan praktik pengajaran bersama rekan sejawat.
Program ini akan menyiapkan 68 pemimpin komunitas atau CoP Leaders melalui pelatihan Training of Trainers. Mereka bertugas menjadi fasilitator sekaligus penggerak komunitas belajar di 34 kota dan kabupaten. Para pemimpin komunitas tersebut akan mendukung pengembangan kompetensi 6.000 guru MI sekaligus mendorong keberlanjutan proses pembelajaran profesional di luar sesi pelatihan formal.
Selain pendekatan berbasis komunitas, STEPS-CoP memanfaatkan EnglishScore dari British Council dan Self-Assessment Tool (SAT) untuk memetakan kemampuan bahasa Inggris serta kompetensi pedagogi guru. Pemetaan ini bertujuan mengidentifikasi kemampuan awal dan kebutuhan pengembangan masing-masing guru sehingga peningkatan kompetensi dapat dilakukan secara lebih terarah.
Summer mengatakan, kemampuan bahasa Inggris semakin penting bukan hanya sebagai kompetensi akademik, melainkan juga sebagai akses terhadap ilmu pengetahuan, teknologi, jejaring, dan berbagai peluang internasional. Bagi siswa MI, pembelajaran bahasa Inggris sejak dini diharapkan menjadi fondasi untuk mempersiapkan mereka menghadapi dunia yang semakin terhubung.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News