MOMSMONEY.ID - Moms hati-hati terhadap efek negatif dari nafsu belanja alias doom spending. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kondisi keuangan dan kesehatan mental jika Moms terbiasa berbelanja untuk meredakan stres atau kecemasan.
Kebiasaan ini mungkin terasa menyenangkan pada awalnya, tetapi pembelian impulsif yang terus berulang dapat menguras tabungan, menambah utang, dan memicu rasa bersalah.
Dilansir dari VeryWell Mind, doom spending adalah kebiasaan mengeluarkan uang secara impulsif untuk meredakan stres, kecemasan, atau kekhawatiran tentang masa depan. Istilah ini menggambarkan perilaku berbelanja yang digunakan sebagai pelarian dari tekanan hidup, termasuk ketidakpastian ekonomi dan situasi sosial yang membuat seseorang merasa sulit mengendalikan keadaan.
Menurut laporan CreditCards.com pada Februari 2025, sekitar satu dari lima orang Amerika menggunakan doom spending sebagai cara menghadapi stres.
Berbeda dari belanja untuk memenuhi kebutuhan atau sesekali membeli sesuatu sebagai bentuk self reward, doom spending cenderung menjadi masalah ketika keputusan membeli lebih banyak dipengaruhi dorongan emosional daripada kebutuhan dan kemampuan finansial.
Baca Juga: Biar Dompet Tetap Aman, Ini Tips Smart Spending untuk Keluarga
Sebagai contoh, seseorang membeli pakaian, perangkat elektronik, atau barang yang sedang tren untuk memperbaiki suasana hati, meskipun anggaran sedang terbatas. Setelah berbelanja, perasaan senang mungkin muncul sementara. Namun, ketika menyadari jumlah uang yang telah dikeluarkan, muncul penyesalan atau kekhawatiran baru.
Untuk itu, kenali dampak doom spending, yang tidak hanya berpengaruh terhadap kondisi finansial kamu, tetapi juga kesehatan mental.Yakni tabungan dan tujuan keuangan terganggu, utang semakin menumpuk, kecemasan dan rasa bersalah makin menjadi, dan terjebak dalam siklus belanja emosional.
Untuk mengatasi doom spending bukan sekadar mengurangi belanja. Hal yang tidak kalah penting adalah memahami alasan di balik kebiasaan tersebut dan membangun cara yang lebih sehat untuk mengelola uang maupun emosi.
Menurut Allan Marshal & Associates, seperi di lansir di Allianz Insurance, Moms bisa mulai mengendalikan kebiasaan belanja secara bertahap melalui beberapa langkah berikut.
1. Susun Anggaran Bulanan
Catat seluruh pemasukan dan pengeluaran, mulai dari kebutuhan pokok hingga hiburan. Tetapkan batas belanja yang sesuai dengan kemampuan finansial agar pengeluaran tidak mengganggu pembayaran tagihan dan tabungan.
2. Kenali Pemicu Emosional
Perhatikan kapan keinginan belanja muncul. Apakah setelah mengalami masalah pekerjaan, merasa bosan, atau melihat promosi di media sosial? Dengan memahami pemicunya, kamu dapat mencari cara lain untuk mengelola emosi.
3. Terapkan Jeda Sebelum Membeli
Sebelum membeli barang yang tidak mendesak, tunggu setidaknya 24 jam. Gunakan waktu tersebut untuk mempertimbangkan apakah barang itu benar-benar dibutuhkan dan apakah harganya sesuai anggaran.
4. Bangun Dana Darurat
Usahakan mengumpulkan dana darurat secara bertahap hingga mencapai tiga sampai enam bulan pengeluaran rutin, sesuai kondisi dan tanggung jawab finansial Moms. Dana ini dapat membantu menghadapi kebutuhan mendadak tanpa harus mengandalkan utang.
5. Batasi Godaan Belanja
Berhenti berlangganan email promosi, kurangi waktu melihat konten belanja, batasi scroll konten yang memicu fomo, dan hapus informasi kartu pembayaran yang tersimpan di aplikasi jika hal tersebut memudahkan pembelian impulsif.
6. Cari Cara Lain untuk Mengelola Stres
Alihkan perhatian dengan melakukan hobi, bermeditasi, berolahraga sesuai kemampuan, atau menghabiskan waktu bersama orang terdekat.
Jika kebiasaan belanja mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan psikolog atau penasihat keuangan.
Mengatasi dampak doom spending tidak hanya berarti mengurangi pengeluaran, tetapi juga membangun perencanaan keuangan yang membantu kamu mempersiapkan masa depan. Pada akhirnya, mengendalikan doom spending dimulai dari keputusan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News