MOMSMONEY.ID - Membeli rumah setelah pensiun terdengar seperti pencapaian yang menyenangkan. Simak hal berikut yang harus dipikirkan ulang.
Apalagi jika selama puluhan tahun bekerja, seseorang akhirnya ingin tinggal di hunian yang lebih nyaman, tenang, dan sesuai kebutuhan masa tua.
Namun, keputusan tersebut tidak cukup hanya dilihat dari kemampuan membeli rumah saat ini karena biaya kepemilikan dapat terus berjalan setelah transaksi selesai.
Melansir dari Go Banking Rates, sejumlah pakar mengingatkan bahwa rumah baru dapat mengurangi dana tunai dan menambah pengeluaran ketika pemasukan sudah tidak sebesar saat masih bekerja.
“Menginvestasikan sejumlah besar uang dalam sebuah rumah dapat membatasi potensi keuntungan dan fleksibilitas yang didapatkan dari portofolio investasi yang terdiversifikasi,” ujar Brian Rudderow, investor properti di HBR Colorado.
Baca Juga: Suami Diam-Diam Punya Utang? Ini Cara Menjaga Keutuhan Uang Rumah Tangga
Dana pensiun bisa terikat di rumah
Masalah pertama bukan selalu soal mahalnya harga rumah, melainkan berapa banyak uang yang harus dikunci dalam sebuah aset. Ketika sebagian besar tabungan digunakan untuk membeli properti, dana yang mudah dicairkan menjadi lebih sedikit.
Situasi ini bisa terasa berat ketika muncul kebutuhan mendadak, termasuk biaya kesehatan atau kebutuhan keluarga. OJK sendiri menempatkan likuiditas sebagai bagian penting dalam perencanaan keuangan karena dana yang mudah dicairkan dibutuhkan untuk menghadapi kondisi darurat.
Artinya, rumah nyaman sebaiknya tidak dibeli dengan mengorbankan cadangan uang yang masih diperlukan untuk menjalani masa pensiun.
Biaya rumah tidak berhenti saat dibeli
Ada anggapan bahwa setelah rumah lunas, beban finansial akan jauh berkurang. Kenyataannya, pemilik tetap perlu menyiapkan sejumlah biaya rutin.
Asuransi, pajak properti, tagihan lingkungan, renovasi, hingga perbaikan berbagai bagian rumah dapat menjadi pengeluaran tambahan. Besarnya tentu berbeda di setiap wilayah dan jenis hunian.
Untuk masyarakat Indonesia, perhitungan juga perlu memasukkan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan atau PBB P2 sesuai ketentuan daerah masing masing.
Pemerintah menyediakan panduan mengenai dasar dan cara penghitungan PBB sebagai salah satu komponen yang perlu diperhatikan pemilik properti.
Rumah besar belum tentu cocok untuk masa tua
Kebutuhan seseorang ketika pensiun bisa berubah dibandingkan saat masih bekerja. Rumah yang luas mungkin dahulu terasa ideal untuk keluarga besar, tetapi semakin bertambah usia, perawatan bangunan justru dapat menjadi pekerjaan tambahan.
Atap bocor, saluran air bermasalah, pengecatan ulang, kerusakan listrik, atau peralatan rumah yang harus diganti semuanya membutuhkan biaya. Belum lagi persoalan tenaga apabila pemilik sudah tidak mampu mengurus pekerjaan rumah seperti sebelumnya.
Karena itu, ukuran rumah sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan nyata, bukan sekadar keinginan memiliki hunian yang terlihat lebih besar.
Risiko pengeluaran mendadak perlu dihitung
Pensiunan biasanya membutuhkan arus kas yang lebih terukur. Ketika pengeluaran besar muncul tiba tiba, kondisi keuangan bisa ikut terganggu jika tidak ada cadangan yang cukup.
OJK dalam materi literasi keuangannya juga menekankan pentingnya dana darurat yang likuid serta pengelolaan utang agar beban keuangan tidak semakin berat.
Baca Juga: Sering Ganti Hobi Bukan Berarti Tak Fokus, Bisa Jadi Ini Kekuatan Dirimu
Sebelum membeli rumah, calon pensiunan dapat melakukan pengecekan sederhana:
- Hitung total dana yang tersedia setelah membeli rumah.
- Pisahkan dana untuk kebutuhan harian dan keadaan darurat.
- Perkirakan pajak, asuransi, perawatan, serta biaya lingkungan.
- Pastikan pengeluaran rumah tidak mengganggu kebutuhan kesehatan.
- Bandingkan pilihan membeli dengan menyewa.
- Pertimbangkan apakah rumah tersebut masih sesuai jika kondisi keluarga berubah.
Membeli rumah tetap bisa menjadi pilihan
Bukan berarti membeli rumah saat pensiun selalu keputusan yang buruk. Jika kebutuhan tempat tinggal sudah jelas, aset cukup kuat, dan pembelian tidak menghabiskan cadangan dana, rumah sendiri justru dapat memberikan rasa aman.
Yang perlu dihindari adalah mengambil keputusan hanya karena merasa sudah waktunya memiliki rumah impian. Masa pensiun membutuhkan strategi keuangan yang lebih hati hati karena kemampuan memperoleh penghasilan aktif dapat berubah.
Mempertimbangkan likuiditas, biaya rutin, kebutuhan perawatan, dan kondisi keluarga, keputusan membeli rumah dapat dibuat secara lebih realistis.
Pada akhirnya, rumah yang ideal untuk masa tua bukan sekadar yang paling nyaman ditempati, tetapi juga yang tidak membuat keuangan keluarga kehilangan ruang untuk bernapas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News