MOMSMONEY.ID - Semaglutide selama ini dikenal sebagai obat yang digunakan untuk membantu mengontrol gula darah pada pasien diabetes dan menangani obesitas.
Namun, penelitian terbaru dari Griffith University di Australia menemukan hal menarik mengenai penggunaan obat ini dan kesehatan mental.
Peneliti menganalisis data sekitar 15.000 orang selama 15 tahun, termasuk orang dengan gangguan bipolar yang menggunakan terapi GLP-1 semaglutide.
Hasil penelitian menunjukkan, mereka yang menggunakan semaglutide memiliki risiko 21% lebih rendah untuk dirawat di rumah sakit karena alasan psikiatris.
Temuan ini kemudian menjadi perhatian karena gangguan bipolar dapat menyebabkan perubahan suasana hati yang cukup berat.
Baca Juga: Pahami Bipolar Lewat 4 Film Menyentuh dan Inspiratif Penuh Perjuangan Ini
Profesor Mark Taylor, yang memimpin penelitian tersebut, menggambarkan angka itu sebagai "tingkat yang secara signifikan lebih rendah".
"Temuan ini menambah bukti yang berkembang bahwa agonis reseptor GLP-1 mungkin memiliki manfaat di luar pengobatan diabetes dan obesitas, serta dapat mewakili jalan baru yang menjanjikan untuk penelitian bipolar," ucapnya dalam keterangan resmi Kamis (10/9).
Lantas, apa yang membuat obat yang selama ini dikenal untuk diabetes dan obesitas ini menarik untuk diteliti dalam kaitannya dengan gangguan bipolar?
Dalam penelitian disebutkan, sinyal GLP-1 dari semaglutide dapat memengaruhi sejumlah proses biologis yang berkaitan dengan gangguan bipolar, termasuk peradangan dan stres seluler di otak. Proses tersebut berpotensi berhubungan dengan kestabilan suasana hati.
Gangguan bipolar sendiri merupakan kondisi kesehatan mental yang membuat seseorang mengalami perubahan suasana hati yang ekstrem.
Pada kondisi berat, fase depresi dapat disertai pikiran atau upaya bunuh diri, sedangkan mania berat dapat menyebabkan psikosis, perilaku impulsif, atau kesulitan merawat diri sendiri.
Baca Juga: Kumpulan Link Twibbon Hari Bipolar Sedunia 2026 Dukung Kampanye #BipolarStrong
Semaglutide sendiri merupakan molekul dalam terapi GLP-1. Obat ini dipasarkan dengan nama Ozempic untuk diabetes dan Wegovy untuk obesitas.
Meski hasil penelitian ini menarik, temuan tersebut belum berarti Ozempic atau semaglutide dapat digunakan untuk mengobati gangguan bipolar.
Penelitian ini menunjukkan, ada kaitan antara penggunaan semaglutide dan risiko rawat inap psikiatris yang lebih rendah, sehingga masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui manfaatnya terhadap gangguan bipolar.
Menariknya, dalam penelitian tersebut, hanya semaglutide yang menunjukkan kaitan dengan penurunan risiko rawat inap psikiatris. Molekul GLP-1 lainnya tidak menunjukkan manfaat yang sama.
Temuan ini menambah penelitian sebelumnya yang melihat kemungkinan manfaat GLP-1 terhadap kesehatan mental.
Pada 2025, sebuah studi terhadap hampir 30.000 pasien menemukan, penggunaan obat GLP-1 dapat memberikan "efek antidepresan".
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News