MOMSMONEY.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan masyarakat dalam mengelola keuangan.
Kondisi ini bukan hanya berdampak pada kebutuhan sehari-hari, tetapi juga dapat memengaruhi rencana keuangan jangka panjang, seperti biaya pendidikan anak di luar negeri, kebutuhan pensiun, hingga gaya hidup.
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat perlu lebih cermat dalam mengelola dan mengalokasikan aset, terlebih bagi kelompok masyarakat kelas atas atau affluent.
“Tantangannya bukan lagi untuk memperkaya kekayaan, tapi bagaimana mempertahankan nilai dari kekayaannya untuk tidak mengalami penurunan,” ujar CEO Finance ID Rista Zwestika CFP dalam pemaparan di acara Prudential Indonesia, Kamis (4/11).
Ia mengatakan masyarakat perlu memiliki strategi pengelolaan keuangan yang disesuaikan dengan tujuan dan kebutuhan masing-masing. Menurutnya, ada prinsip 3L yang dapat menjadi panduan dalam menyusun perencanaan keuangan.
Pertama, lindungi. Masyarakat perlu memastikan kondisi keuangannya tetap terjaga, terutama dari sisi daya beli. Penempatan aset sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan di masa depan. Jika kebutuhan keuangan berada di dalam negeri, aset dalam rupiah dapat menjadi pilihan. Namun, jika memiliki rencana pendidikan anak atau pensiun di luar negeri, masyarakat perlu mempertimbangkan kebutuhan dalam mata uang asing.
Kedua, lokasikan. Aset perlu dialokasikan berdasarkan tujuan dan jangka waktu keuangan. Setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda sehingga komposisi aset tidak bisa disamaratakan. Perencanaan untuk kebutuhan jangka pendek tentu berbeda dengan persiapan dana pendidikan atau pensiun yang masih membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Ketiga, lanjutkan. Pengelolaan aset tidak cukup hanya untuk memenuhi kebutuhan saat ini. Masyarakat juga perlu memastikan kekayaan yang dimiliki dapat mendukung kebutuhan keluarga pada masa mendatang, termasuk untuk generasi berikutnya.
Selain prinsip 3L, Rista juga memperkenalkan konsep 3P, yakni pertumbuhan, perlindungan, dan pewarisan. Dalam konsep ini, aset tidak hanya diharapkan bertumbuh, tetapi juga perlu dilindungi dari berbagai risiko dan dipersiapkan agar dapat diwariskan kepada keluarga.
Jangan FOMO Membeli Dolar AS
Di tengah pelemahan rupiah, menyimpan sebagian aset dalam dolar AS dapat menjadi salah satu pilihan diversifikasi. Namun, Rista mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru membeli dolar hanya karena melihat nilai tukarnya sedang meningkat atau mengikuti tren pasar.
“Jadi penting sekali dalam memastikan perencanaan keuangan, itu sesuai dengan tujuan dan juga kebutuhan masa depan,” ujarnya.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya memperhitungkan jangka waktu penggunaan dana, risiko nilai tukar, serta kemampuan keuangan. Sejalan dengan itu, menurutnya tidak seluruh aset perlu dipindahkan ke dolar AS sehingga masyarakat tetap perlu menentukan porsi yang sesuai dengan kebutuhan dan profil risikonya.
Setelah menentukan alokasi aset, evaluasi portofolio juga perlu dilakukan secara berkala. Rista menyarankan masyarakat meninjau kembali perencanaan keuangan, misalnya pada akhir tahun untuk memastikan komposisi aset masih relevan dengan kondisi ekonomi dan tujuan yang ingin dicapai. Jika diperlukan, masyarakat dapat melakukan rebalancing atau penyesuaian alokasi portofolio.
Perhatikan Likuiditas Aset
Hal lain yang tidak kalah penting dalam perencanaan keuangan adalah memperhatikan likuiditas atau kemudahan aset untuk dicairkan.
Rista mencontohkan seseorang yang memiliki tiga rumah, tetapi seluruh properti tersebut tidak ditempati. Kepemilikan rumah memang dapat terlihat sebagai kekayaan bernilai besar. Namun, pemiliknya tetap harus menanggung biaya pemeliharaan sekitar Rp15 juta per bulan.
Ketika pemasukan berkurang, biaya tersebut justru dapat menjadi beban. Di sisi lain, menjual properti juga tidak selalu mudah. Misalnya, salah satu rumah yang dibeli sekitar Rp 4,8 miliar dan diperkirakan memiliki harga pasar Rp 7 miliar belum berhasil terjual selama kurang lebih dua tahun.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kekayaan dalam bentuk aset tidak likuid dapat menyulitkan pemilik ketika membutuhkan dana dalam waktu dekat. Oleh karena itu, masyarakat perlu menyeimbangkan kepemilikan aset likuid dan tidak likuid yang mereka punya
Dengan memahami tujuan keuangan dan mengatur alokasi aset secara tepat, masyarakat diharapkan dapat menjaga keberlanjutan kondisi keuangan di tengah perubahan ekonomi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News