M O M S M O N E Y I D
Hemat

Pasar Hindari Risiko, Avalanche Menghuni Top Losers, OKB Jadi Top gainers

Reporter: Dupla Kartini  |  Editor: Dupla Kartini


MOMSMONEY.ID - Pasar aset kripto melemah dalam 24 jam terakhir, dengan aset kripto utama seperti Ethereum dan Bitcoin bertumbangan. Apa saja kripto yang terseret ke  top losers, dan yang berhasil masuk top gainers?

Mengutip coinmarketcap.com, dalam 24 jam terakhir hingga Jumat (26/9) pukul 13.30 WIB, nilai kapitalisasi pasar atau market cap kripto global tergerus 3,13% menjadi US$ 3,76 triliun.

Pelaku pasar sedang menghindari risiko, terefleksi pada CMC Crypto Fear and Greed Index yang turun ke level 32 alias fear.

Di pasar yang melemah, Coinmarketcap.com merangking daftar kripto top gainers dan top losers, dari antara aset kripto yang volume transaksinya di atas US$ 50.000 selama 24 jam. 

Kripto top gainers merujuk pada aset kripto yang naik tertinggi meski pasar sedang loyo dalam 24 jam terakhir. Sebaliknya, top losers adalah koin dan token yang turun paling signifikan. 

Mantle kembali masuk daftar 5 top gainers, meski sempat terkoreksi. Sebaliknya, Aster dan Avalanche yang baru-baru ini menghuni top gainers, kini terdepak ke kandang top losers.

Baca Juga: Mantle Bertahan di Jajaran Kripto Top Gainers, Story (IP) Terdepak ke Top Losers

Berikut ini daftar aset kripto top gainers dan top losers dalam 24 jam terakhir hingga Jumat pukul 13.34 WIB, mengutip coinmarketcap:

5 kripto top gainers

  • OKB naik 6,69% menjadi US$ 190,99.
  • Kaspa (KAS) naik 4,76% menjadi US$ 0,07964.
  • Cronos (CRO) naik 3,48% menjadi US$ 0,1975.
  • Mantle (MNT) naik 2,97% menjadi US$ 1,68.
  • Pump.fun (PUMP) naik 0,95% menjadi US$ 0,0052.

5 kripto top losers

  • Story (IP) turun 26,11% ke US$ 7,78.
  • ASTER turun 15,75% ke US$ 1,78.
  • Avalanche (AVAX) turun 10,22% ke US$ 28,01.
  • Flare (FLR) turun 7,85% ke US$ 0,02399.
  • Near Protocol turun 6,96% ke US$ 2,68.

Pergerakan harga aset kripto, terutama altcoins, sangat volatil. Maka, aset kripto top gainers, ada risiko berbalik arah turun. Sebaliknya, tak menutup peluang kripto top losers memantul naik. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TERBARU

Kris+ Rayakan Ulang Tahun, Tebar Promo dan Reward

Pengguna Kris+ berkesempatan mendapatkan hingga delapan miles per dolar Singapura, voucher diskon 50%, serta hadiah  selama Oktober 2026.

Rupiah Bertahan di Rp 18.000 atau Tembus Rp 18.200, Ini 5 Indikator Penentu

Analis EBC Financial Group mencermati lima indikator penentu arah rupiah, mulai dari harga minyak, arus modal asing hingga intervensi BI.  

Ini Tip Pengobatan dan Pencegahan Agar Suara Yang Hilang Kembali Bergema

Suara hilang bagi pekerja yang mengandalkan pita suara tentu menjadi persoalan, berikut ini langkah pengobatan dan pencegahannya.

5 Cara Mengatasi Badan Lemas saat Diet agar Tetap Bertenaga Sepanjang Hari

Ingin diet berhasil tanpa tersiksa rasa lemas? Terapkan cara mengatasi badan lemas berikut ini agar tubuh tetap bugar dan berenergi.

Kenali Amylophagia: Ini 5 Dampak Buruk Makan Tepung Terigu Mentah untuk Kesehatan

Ketahui alasan medis mengapa makan tepung terigu dalam kondisi mentah sangat berbahaya bagi saluran pencernaan dan kesehatan secara keseluruhan.

Ada 6 Tokenized Stocks Baru dari Tokocrypto, Cek yuk

Tokenized stocks memberikan eksposur terhadap underlying asset dan bukan merupakan kepemilikan langsung atas saham atau ETF yang mendasarinya.

Rekomendasi Pilihan Obat Influenza Tipe A yang Efektif Percepat Proses Penyembuhan

Kenali berbagai rekomendasi obat influenza tipe A mulai dari antivirus hingga pereda gejala untuk bantu tubuh pulih lebih cepat.

IHSG Berbalik Naik ke 6.036 pada Jumat (2/10), Cek Saham Top Gainers

IHSG pada Jumat ditutup menguat meskipun asing mencatat jual bersih alias net sell Rp 1,17 triliun. 

Update Harga Buyback Emas Hari Ini: UBS Naik, Antam Masih Tertinggi Rp 2.38 Juta

Emas UBS mencatat kenaikan harga buyback paling besar hari ini, sementara Antam turun, tetapi masih yang tertinggi.

Bank Indonesia Kurangi Intervensi Spot, Efektif Menjaga Rupiah?

Bank Indonesia menggeser strategi intervensi di pasar untuk menjaga nilai tukar rupiah terhadap dollar, sekaligus menghemat cadangan devisa.