MOMSMONEY.ID - Di tengah makin maraknya aktivitas digital, ancaman kejahatan siber di Indonesia terus meningkat.
Tapi di balik itu, ada peluang besar bagi tenaga kerja di bidang keamanan siber yang kini sangat dibutuhkan.
Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat, sepanjang 2025 ada lebih dari 3,5 miliar anomali trafik yang menyerang sistem digital di Indonesia.
Artinya, risiko kebocoran data hingga gangguan bisnis makin nyata.
Finance & Risk Management Director Digiserve, Buddy Restiady, mengatakan tren ini akan terus meningkat.
“Semakin banyak perusahaan yang go digital, potensi serangan juga semakin besar dan volumenya akan terus meningkat,” ujarnya dalam media gathering di Mercure Jakarta Gatot Subroto, Selasa (27/4).
Baca Juga: Talenta Siber Didorong Lewat Cyber Breaker Season 3
Masalahnya, Indonesia masih kekurangan tenaga ahli di bidang ini. Kesenjangan talenta diperkirakan mencapai 0,6 hingga 1,5 juta orang dalam beberapa tahun ke depan.
Kondisi ini justru membuka peluang karier yang besar, terutama bagi generasi muda yang ingin masuk ke industri digital.
“Talent gap ini sudah dipahami bersama. Karena itu, ekosistem, baik pemerintah, universitas, maupun industri, harus saling terhubung untuk memperkuat ketahanan digital,” jelas Buddy.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Digiserve juga bekerja sama dengan mitra teknologi asal Korea Selatan melalui DBM Works.
Kolaborasi ini tidak hanya menghadirkan teknologi keamanan siber seperti dengan menghadirkan teknologi keamanan siber canggih seperti analisis ancaman, deteksi serangan, hingga sistem pemantauan berbasis AI tapi juga membuka peluang transfer pengetahuan bagi talenta lokal.
Baca Juga: Komdigi Lelang Frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz, Telkomsel Siap Ambil Peluang
“Melalui kolaborasi dengan mitra teknologi cybersecurity asal Korea, kami menghadirkan pendekatan advanced security analytics dan threat detection yang telah teruji secara global,” kata Buddy.
Di sisi lain, serangan siber juga berdampak besar secara finansial. Kerugian bisnis di Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari Rp8 triliun per tahun.
Karena itu, keamanan siber kini bukan lagi sekadar urusan teknis, tapi juga investasi penting, sekaligus peluang kerja menjanjikan di masa depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News