MOMSMONEY.ID - Trading kripto bukan hanya soal mencari keuntungan. Bagi Bevan Pramudito, mahasiswa Universitas Indonesia berusia 21 tahun, proses, disiplin, dan kemampuan mengelola risiko juga menjadi bagian penting yang ia pelajari dari market maupun olahraga endurance.
Bevan baru saja menyelesaikan Ironman 70.3 dengan total jarak sekitar 113 kilometer, terdiri dari 1,9 kilometer renang, 90 kilometer bersepeda, dan 21,1 kilometer lari.
Di sisi lain, Bevan telah sekitar empat tahun mempelajari dunia kripto, khususnya trading dan pergerakan market. Menurutnya, persiapan menghadapi Ironman memiliki kesamaan dengan trading.
“Bagi saya, Ironman dan trading sebenarnya memiliki satu kesamaan. Kita tidak bisa mengharapkan hasil besar tanpa proses yang konsisten. Di Ironman, kita harus percaya pada latihan yang sudah dijalani. Di trading, kita harus percaya pada proses yang sudah dibangun,” ujar Bevan dalam keterangan yang dikutip Kamis (24/5).
Baca Juga: Triv Group Perkuat Ekosistem Trading Kripto
Menurut Bevan, baik atlet maupun trader tidak dapat mengendalikan seluruh hasil yang akan diperoleh. Dalam trading, misalnya, sebuah transaksi bisa berakhir dengan keuntungan maupun kerugian. Karena itu, persiapan dan pengambilan keputusan menjadi hal yang dapat dikendalikan.
“Pada akhirnya, kita tidak bisa mengendalikan hasil dari satu trade atau satu race. Yang bisa kita kendalikan adalah persiapan, disiplin, dan pengambilan keputusan,” katanya.
Prinsip tersebut juga ia terapkan dalam membaca market crypto. Bevan mengatakan, trading bukan sekadar menebak aset yang akan naik, tetapi memahami pergerakan pasar dan risiko yang menyertainya.
“Trading bagi saya bukan soal selalu benar atau bisa menebak koin mana yang pasti naik. Market selalu memiliki ketidakpastian. Yang penting adalah bagaimana kita meningkatkan probabilitas keberhasilan dan memahami risiko yang kita ambil,” sebutnya.
Baca Juga: Masuk Industri Film, Ini Cara Show Token Kembangkan Ekosistem Kripto
Selama mempelajari kripto, Bevan turut memperhatikan perkembangan narasi di market, aktivitas wallet, likuiditas, hingga perubahan perhatian pelaku pasar. Pengalamannya kemudian mendorong Bevan membangun Narrative Labs sebagai komunitas pembelajaran trading.
Ia mengatakan, pembelajaran seharusnya membuat seseorang mampu menganalisis market secara mandiri, bukan sekadar mengikuti keputusan orang lain.
“Saya tidak ingin orang di Narrative Labs selamanya menunggu saya mengatakan buy. Saya lebih ingin mereka pada akhirnya bisa menganalisis market sendiri, memiliki tesis sendiri, dan memahami alasan di balik keputusan trading yang mereka ambil," imbuhnya.
Bagi investor atau trader pemula, filosofi tersebut menunjukkan, trading kripto membutuhkan lebih dari sekadar keberanian mengambil posisi. Memahami aset, menyiapkan strategi, mengukur risiko, dan disiplin menjalankan rencana menjadi bagian dari proses yang perlu diperhatikan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News